Kamis, 03 Mei 2012

Berani Mengatakan Kebenaran


Kamis, 26 April 2012
Bacaan Alkitab: Lukas 3:18-20
Akan tetapi setelah ia menegor raja wilayah Herodes karena peristiwa Herodias, isteri saudaranya, dan karena segala kejahatan lain yang dilakukannya, raja itu menambah kejahatannya dengan memasukkan Yohanes ke dalam penjara.” (Luk 3:19-20)


Berani Mengatakan Kebenaran


Yohanes Pembaptis adalah nabi terakhir sebelum Tuhan Yesus yang mempersiapkan jalan bagi Tuhan. Ia menyampaikan tentang pentingnya pertobatan dan membaptis orang sebagai tanda pertobatan mereka. Yohanes Pembaptis lahir dengan cara yang ajaib, ketika kedua orang tuanya sudah tua. Jika kita membaca dalam Alkitab, kita akan menemukan bagaimana Yohanes Pembaptis adalah orang yang terus terang dan apa adanya. Ia hanya mau menyampaikan kebenaran dalam pengajarannya. “Bertobat dan berilah dirimu dibaptis” merupakan inti ajaran Yohanes Pembaptis (Mrk 1:4).

Yohanes Pembaptis pun tidak segan-segan menegur orang-orang yang telah jelas-jelas berbuat dosa. Ia bahkan berani berkata keras kepada orang-orang Farisi dan Saduki yang datang untuk mendengarkan ajarannya di tepi sungai Yordan (Mat 3:7), padahal orang Farisi dan Saduki merupakan orang-orang yang berasal dari golongan terpandang waktu itu. Walaupun demikian, Yohanes Pembaptis pun juga bersikap sama kepada orang-orang lain, termasuk orang-orang yang biasa-biasa saja. Ia pun menyampaikan dan memberitakan Injil kepada banyak orang, dengan berbagai-bagai nasihat lain yang disampaikan oleh Yohanes Pembaptis (ay. 18).

Alkitab juga mengatakan bahwa Yohanes Pembaptis tidak hanya “berani” kepada orang-orang kecil, tetapi Yohanes Pembaptis juga “berani” mengatakan kebenaran dan menegor raja Herodes, yang saat itu adalah penguasa wilayah. Apa yang ditegur oleh Yohanes Pembaptis dari raja Herodes? Yohanes Pembaptis menegur raja Herodes karena peristiwa Herodias, isteri saudaranya yang dinikahi raja Herodes, dan segala kejahatan lain yang telah dilakukannya (ay. 19). Yohanes Pembaptis berani menegur raja Herodes karena Herodias adalah isteri dari saudara raja Herodes, dan justru sebenarnya bukan hanya raja Herodes yang merasa tersinggung, tetapi justru Herodias sendiri yang tersinggung dan benci kepada Yohanes Pembaptis hingga ingin membunuh Yohanes Pembaptis (Mrk 6:17-19).

Akan tetapi Yohanes Pembaptis tetap teguh pada pendiriannya, bahkan ketika ia telah dimasukkan ke dalam penjara oleh raja Herodes (ay. 20), Yohanes Pembaptis tetap menyampaikan ajarannya, bahkan sempat mengutus muridnya pergi kepada Yesus (Mat 11:2-3). Ia tetap setia hingga akhir masa hidupnya, bahkan ketika ia pun harus mati dengan kepala yang terpenggal (Mat 14:10-11). Yohanes Pembaptis adalah salah satu nabi besar, bahkan Tuhan Yesus sendiri mengakui bahwa dari antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan, tidak pernah tampil seorang yang lebih besar dari pada Yohanes Pembaptis Pembaptis (Mat 11:11).

Jika kita melihat kehidupan kita, sudahkah kita bersikap seperti Yohanes Pembaptis yang berani berkata benar bahkan ketika hidupnya dipertaruhkan sekalipun? Ataukah kita semakin hari justru semakin hilang ditelan dunia dan tidak pernah lagi menyatakan kebenaran? Yohanes Pembaptis setia sampai akhir dan konsisten menyampaikan kebenaran. Maukah kita rindu menjadi seperti Yohanes Pembaptis yang selalu berani menyatakan kebenaran?


Bacaan Alkitab: Lukas 3:18-20
3:18 Dengan banyak nasihat lain Yohanes memberitakan Injil kepada orang banyak.
3:19 Akan tetapi setelah ia menegor raja wilayah Herodes karena peristiwa Herodias, isteri saudaranya, dan karena segala kejahatan lain yang dilakukannya,
3:20 raja itu menambah kejahatannya dengan memasukkan Yohanes ke dalam penjara.

Tangan yang Rajin


Rabu, 25 April 2012
Bacaan Alkitab: Amsal 10:3-5
Tangan yang lamban membuat miskin, tetapi tangan orang rajin menjadikan kaya.” (Ams 10:4)


Tangan yang Rajin


Dahulu saya cukup sering menonton acara reality show di televisi yang pada umumnya menayangkan tentang kisah kehidupan orang-orang yang dapat dikatakan sebagai orang-orang pinggiran yang kurang beruntung. Pernah dikisahkan tentang orang yang walaupun sudah bekerja keras di sana sini, namun hanya membawa pulang kurang dari Rp10.000,00 per harinya. Tentunya kita yang menyaksikan acara tersebut akan terenyuh melihat bagaimana kerja keras orang tersebut hanya dihargai dengan uang yang jumlahnya tidak seberapa. Barangkali kita menghabiskan uang tiga kali lipatnya hanya untuk membeli secangkir kopi di kafe. Namun syukurlah, hampir semua acara reality show tersebut menyajikan akhir yang cukup baik, dimana biasanya orang tersebut akhirnya mendapatkan “rejeki” mendadak dari pembuat program.

Saya kira, dalam membuat reality show tersebut, stasiun televisi tidak akan mencari orang yang miskin tetapi malas. Mereka akan mencari orang yang miskin tetapi memiliki kemauan kuat dalam mencari uang, namun nasib mereka saja yang tidak dapat lepas dari jerat kemiskinan. Demikian juga dengan apa yang dikatakan dalam kitab Amsal hari ini, “Tangan yang lamban membuat miskin, tetapi tangan orang rajin menjadikan kaya” (ay. 4). Tapi kenyataannya, mengapa kita masih saja mendengar atau melihat orang-orang yang berkata bahwa dirinya sudah rajin tapi kok keadaannya tetap saja miskin? Apakah Firman Tuhan dalam kitab Amsal ini sudah tidak relevan pada kondisi di masa kini?

Saya berpendapat bahwa Firman Tuhan adalah Firman selalu relevan dari sejak mulai ditulis sekitar 6.000 tahun yang lalu bahkan hingga saat ini. Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa tangan orang rajin menjadikan kaya. Lalu bagaimana dengan orang-orang yang mengaku dirinya rajin tetapi belum kaya? Saya rasa orang tersebut pertama-tama harus melihat kepada diri mereka sendiri terlebih dahulu. Berapa persen mereka mengerahkan kerajinan mereka? Apakah mereka selama ini menganggap bahwa bekerja 75% sudah tergolong rajin? Apakah mereka yang bekerja 100% sudah dapat dikatakan rajin? Bukankah kita masih bisa bekerja lebih dari 100%? Dalam Perjanjian Baru pun Paulus mengatakan bahwa jika ada orang yang tidak bekerja, maka janganlah ia makan (2 Tes 3:10). Hal ini menunjukkan bahwa kita memang harus bekerja keras untuk mencari nafkah. Hal itu adalah salah satu akibat kejatuhan manusia ke dalam dosa. Kita harus bersusah payah bahkan hingga berpeluh dalam mencari rejeki kita (Kej 3:17-19).

Memang ada faktor lainnya yang lebih penting, yaitu Tuhan itu sendiri. Tuhan adalah sumber berkat, dan hal tersebut yang membedakan antara kita sebagai orang percaya dengan orang lain yang belum percaya. Ketika kita hidup benar di hadapan Tuhan, maka Tuhan pasti tidak akan membiarkan kita menderita kelaparan (ay. 3). Sudah banyak contoh di Alkitab, bahkan dari kesaksian yang kita dengar bahwa Tuhan selalu menolong anak-anakNya tepat pada waktuNya. Dengan kata lain, kombinasi dari iman dan usaha itulah yang akan membuat kita mampu hidup dalam berkat Tuhan bahkan dalam segala kelimpahanNya.

Ketika kita merasa bahwa kehidupan kita selalu susah, pernahkah kita intropeksi diri kita, apakah selama ini kita sudah hidup benar di hadapan Tuhan, dan apakah kita memang sudah sungguh-sungguh berusaha untuk mengubah kehidupan kita? Sudahkah dalam bekerja kita memberikan yang terbaik bahkan hingga berpeluh (gambaran bekerja yang sungguh-sungguh)? Kitab Amsal sendiri menyatakan bahwa kita pun harus bekerja keras agar kita bisa menikmati hasilnya. Bagaimana kita dapat menikmati berkat Tuhan ketika kita malas? Bagaimana lumbung kita bisa terisi penuh jika ketika musim panas (musim panen) kita justru tidur dan tidak mengumpulkan makanan? Tuhan kita adalah Tuhan yang kaya, tetapi kita pun juga tetap perlu berusaha untuk menggapai berkat Tuhan  tersebut.


Bacaan Alkitab: Amsal 10:3-5
10:3 TUHAN tidak membiarkan orang benar menderita kelaparan, tetapi keinginan orang fasik ditolak-Nya.
10:4 Tangan yang lamban membuat miskin, tetapi tangan orang rajin menjadikan kaya.
10:5 Siapa mengumpulkan pada musim panas, ia berakal budi; siapa tidur pada waktu panen membuat malu.

Senin, 23 April 2012

Seperti Anak Kecil


Selasa, 24 April 2012
Bacaan Alkitab: Lukas 18:15-17
Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya.” (Luk 18:17)


Seperti Anak Kecil


Ketika anak pertama saya lahir, saya baru mengerti apa yang dimaksud Tuhan Yesus ketika ia mengatakan bahwa kita harus menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil (ay. 17). Menyambut seperti anak kecil dalam ayat tersebut berbeda maknanya dengan memiliki pemikiran seperti anak-anak (1 Kor 14:20). Memiliki pemikiran seperti anak-anak berarti secara rohani kita tidak bertumbuh dan tidak menjadi dewasa secara rohani. Sedangkan menyambut seperti anak kecil berarti kita memiliki sikap seperti anak kecil yang ingin datang kepada Yesus. Berdasarkan ayat Alkitab yang kita baca hari ini, ada beberapa hal yang dapat kita pelajari dari anak kecil tersebut.

Pertama, anak kecil masih tergantung kepada kedua orangtuanya. Dalam ayat 15 dikatakan bahwa orang-orang yang datang membawa anak-anaknya yang kecil kepada Yesus. Anak kecil masih belum dapat mandiri, sehingga ia sangat bergantung kepada kedua orang tuanya mengenai apa yang ia makan, apa yang ia minum, dan lain sebagainya. Demikian juga Tuhan Yesus ingin agar kita menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil yang sangat tergantung kepada Tuhan. Semakin kita tergantung kepada Tuhan, maka semakin Tuhan akan memberkati kita, sementara semakin kita mengandalkan diri kita sendiri, maka semakin Tuhan akan membiarkan kita dan jauh dari kita.

Kedua, anak kecil memiliki motivasi yang tulus. Dalam ayat 15 juga dikatakan, tujuan orang-orang membawa anak kecil tersebut adalah agar Tuhan menjamah anak-anak mereka. Anak-anak tidak datang kepada Tuhan Yesus untuk meminta berkat jasmani, meminta uang yang banyak, dan lain sebagainya. Bagi seorang anak kecil, jika ia datang kepada seseorang seseorang tersebut mau menyapa dan mengusap-usap kepalanya, atau bermain dengan mereka, itu sudah lebih dari cukup. Anak-anak mungkin hanya ingin bertemu Yesus dan menghabiskan waktu dengan Yesus, dan ternyata hal itu yang tidak dapat dipahami oleh orang dewasa. Alkitab mengatakan bahwa murid-murid Yesus justru memarahi orang-orang yang membawa anak-anak tersebut (ay. 15b).

Tuhan Yesus justru bertindak sebaliknya terhadap anak-anak. Tuhan Yesus justru membiarkan anak-anak tersebut datang kepadaNya, karena orang-orang seperti anak kecil itulah yang empunya Kerajaan Allah (ay. 16). Seringkali kita yang sudah dewasa justru tidak menyambut Tuhan melainkan justru menghalang-halangi anak kecil yang hendak datang kepada Tuhan. Kita sebagai orang dewasa justru tidak bijaksana dan seringkali melupakan esensi dari anak kecil yang dimaksudkan Tuhan Yesus tersebut. Sudahkah kita menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil? Bukan seperti anak-anak secara rohani melainkan memiliki hati yang tulus seperti anak kecil itulah yang diinginkan Yesus.


Bacaan Alkitab: Lukas 18:15-17
18:15 Maka datanglah orang-orang membawa anak-anaknya yang kecil kepada Yesus, supaya Ia menjamah mereka. Melihat itu murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu.
18:16 Tetapi Yesus memanggil mereka dan berkata: "Biarkanlah anak-anak itu datang kepada-Ku, dan jangan kamu menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah.
18:17 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya."


Memilih Jalan yang Sempit


Senin, 23 April 2012
Bacaan Alkitab: Matius 7:13-14
Karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” (Mat 7:14)


Memilih Jalan yang Sempit


Saya memperhatikan bahwa akhir-akhir ini manusia cenderung memilih jalan yang mudah ketimbang jalan yang sulit. Contohnya saja, untuk mendapatkan sebuah gelar akademis, seseorang seharusnya benar-benar belajar dengan sungguh-sungguh sehingga gelar tersebut merupakan cerminan dari kemampuan akademis yang dimilikinya. Akan tetapi, cukup banyak orang yang menempuh jalan pintas dengan cara membeli ijazah, entah itu palsu atau asli tetapi palsu (aspal).

Demikian juga dengan dokter-dokter di masa sekarang ini, terutama dokter kandungan. Di kota-kota besar (bahkan saat ini pun sudah merambah ke kota-kota kecil), cukup banyak dokter kandungan yang tidak mau ambil risiko dengan cara meminta sang ibu untuk melakukan operasi caesar, karena operasi tersebut membutuhkan waktu yang singkat, nyaris tanpa risiko bagi si dokter, dan mendatangkan lebih banyak uang bagi dokter tersebut. Di sisi lain, banyak orang tua yang juga mau jalan pintas, daripada bersusah payah melahirkan secara normal, banyak orang tua yang memilih operasi caesar bagi bayinya. Memang operasi caesar pun tidak salah jika dari sisi medis memang terjadi masalah sehingga tidak mungkin melahirkan secara normal. Tetapi jika kita tanya para orang tua atau dokter yang melakukan operasi caesar, saya yakin lebih dari 50% pasti melakukan operasi caesar karena alasan lebih mudah, tanpa risiko, hemat waktu, dan yang lebih parah lagi adalah karena ingin si bayi lahir tepat pada hari tertentu sesuai keinginan mereka.

Hal ini sebenarnya merupakan sifat dasar manusia. Tuhan Yesus sudah mengingatkan tentang hal tersebut sekitar 2.000 tahun yang lalu. Banyak orang mau masuk ke dalam Kerajaan Surga, namun mereka ingin masuk secara mudah, secara instan. Banyak orang mau menerima keselamatan tetapi dengan cara yang mudah dan tidak sulit. Memang jika kita perhatikan ucapan Tuhan Yesus dalam bacaan Alkitab kita kali ini, kita akan menemukan bagaimana Kerajaan Surga diibaratkan sebagai suatu pintu yang sesak (ay. 13a). Di ayat lain, Tuhan Yesus sendiri pun mengatakan bahwa Tuhan Yesus sendiri adalah pintu itu sendiri, yaitu pintu yang membawa kepada keselamatan (Yoh 10:9). Mengapa Tuhan Yesus menggambarkan Kerajaan Surga sebagai pintu yang sesak?

Pintu yang sesak tidak menunjukkan bahwa pintu itu tidak cukup lebar untuk bisa menampung semua orang. Pintu yang sesak menunjukkan usaha yang harus kita keluarkan agar bisa masuk melalui pintu tersebut. Pintu yang sesak terbuka bagi siapa saja yang mau mengantri, namun tidak seperti antrian tiket pada umumnya, pintu yang sesak tersebut tidak memiliki batasan jumlah orang yang dapat masuk. Surga terbuka bagi siapa saja yang mau percaya kepada Tuhan Yesus. Sayangnya, banyak orang tergoda untuk tidak mau mengantri di pintu yang sesak karena melihat ada pintu lain yang lebih lebar dan tidak sesak, yaitu pintu kepada kebinasaan  (ay. 13b).

Jika ada dua pintu, yang satu sesak, dan yang satu lagi lega atau luas, dan dua-duanya sama-sama menuju ke tujuan yang sama, maka tidak salah jika kita memilih pintu yang lega. Akan tetapi jika pintu yang sesak menuju kepada kehidupan kekal, sementara pintu yang luas menujuk kepada kebinasaan kekal, masakan kita lebih memilih untuk masuk melalui pintu yang sesak tersebut? Bukankah lebih baik kita sedikit berkorban dan berusaha untuk melalui pintu yang sempit dan sesak tersebut, karena kita tahu bahwa pintu tersebut akan membawa kita kepada kehidupan kekal dan kebahagiaan yang kekal? Hanya di dalam Yesus saja maka kita akan mendapatkan keselamatan itu. Pertanyaannya, sudahkah saat ini kita mengantri di pintu yang tepat? Lebih baik bersusah-susah sekarang karena kita mengiring Yesus karena ada upah yang besar bagi kita di surga kelak (Mat 5:12)


Bacaan Alkitab: Matius 7:13-14
7:13 Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya;
7:14 karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya."

Jumat, 20 April 2012

Dipilih Sejak dalam Kandungan


Minggu, 22 April 2012
Bacaan Alkitab: Hakim-hakim 13:1-5
Sebab engkau akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki; kepalanya takkan kena pisau cukur, sebab sejak dari kandungan ibunya anak itu akan menjadi seorang nazir Allah dan dengan dia akan mulai penyelamatan orang Israel dari tangan orang Filistin.” (Hak 13:5)


Dipilih Sejak dalam Kandungan


Saya menulis renungan ini ketika saya berada di bandara, mengambil penerbangan yang paling pagi, karena isteri saya sudah berada di rumah sakit untuk melahirkan anak pertama saya. Saya berharap saya masih dapat menemani isteri saya pada saat melahirkan buah hati kami, tetapi jikalaupun tidak, saya tetap akan bersyukur yang penting anak saya dapat lahir dengan selamat, sehat, dan sempurna, dan demikian juga ibunya. Jujur saja, ketika isteri saya mengandung, saya menjadi lebih memaknai dan menghargai pengorbanan seorang ibu dalam mengasihi anaknya.

Saya bersyukur bahwa Tuhan mengaruniakan anak yang sehat, pintar, dan sempurna kepada saya dan isteri saya. Sejak di dalam kandungan kami memang terbiasa mengajak bicara anak saya tersebut, bahkan ketika ia masih janin berusia beberapa bulan yang secara teoritis belum dapat mendengar suara. Kami juga membiasakan diri mendoakan anak di dalam kandungan tersebut dan membacakan cerita-cerita Alkitab baginya. Dan ketika anak kami di dalam kandungan berusia sekitar enam bulan ke atas, kami merasakan bahwa anak kami itu sangat aktif dan bersukacita ketika didoakan, ketika mendengar lagu-lagu pujian, dan ketika berada di dalam gereja. Kami bersyukur atas semuanya, dan kami berharap bahwa anak kami akan menjadi anak yang memuliakan nama Tuhan.

Demikian juga dengan Simson, ia lahir di tengah-tengah kondisi bangsa Israel yang sedang ditindas orang Filistin (ay. 1). Walaupun orang Israel ditindas karena dosa-dosa dan kesalahan mereka sendiri, tetapi Tuhan berkehendak untuk memunculkan Simson sebagai hakim dan pahlawan untuk melawan orang Filistin. Tuhan tidak memilih pahlawan dari keluarga bangsawan, melainkan Tuhan memilih seorang biasa, dari suku Dan, yang isterinya mandul dan tidak beranak (ay. 2). Saya juga masih bingung mengapa Tuhan memilih Manoah dan bukan orang-orang lain?

Itu memang adalah hak prerogatif dari Tuhan sendiri. Tuhan bahkan mengutus malaikatNya untuk memberitahukan kabar tersebut kepada isteri Manoah (ay. 3), dan nantinya kepada mereka berdua (Hak 13:9-11). Tetapi ada hal menarik yang dapat kita lihat dari proses pemilihan Simson sebagai hakim bangsa Israel. Tuhan sudah menetapkan bahwa isteri Manoah akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki (ay. 3), dan anak tersebut akan menjadi seorang nazir Allah dan menyelamatkan orang Israel dari tangan orang Filistin (ay. 5).

Walaupun demikian, ada harga yang harus dibayar oleh Manoah dan isterinya. Tuhan menginginkan anak tersebut kudus sejak dari kandungan, sehingga Tuhan memerintahkan agar mereka tidak minum anggur atau minuman yang memabukkan dan tidak memakan sesuatu yang haram (ay. 4). Ini adalah bagian yang harus dilakukan mereka sebagai orang tua sejak dari kandungan, dan selanjutnya setelah anak tersebut lahir, mereka harus menjaga agar anak tersebut tidak kena pisau cukur seumur hidupnya (ay. 5a).

Memiliki seorang anak bukan hanya masalah membuatnya saja, melainkan ada persiapan dan tanggung jawab bahkan sejak dari kandungan. Saya menyarankan agar kita yang sedang hamil atau sedang menginginkan anak untuk mempersiapkan diri sejak sekarang. Mulai mendidik anak agar takut akan Tuhan sejak dalam kandungan, membacakan Alkitab kepadanya sejak dalam kandungan, dan mulai mendoakannya bahkan sebelum anak tersebut ada. Saya percaya segala sesuatu yang dipersiapkan dengan baik akan menghasilkan buah yang baik juga. Sudah siapkah kita mempersiapkan generasi penerus kita sejak dalam kandungan?


Bacaan Alkitab: Hakim-hakim 13:1-5
13:1 Orang Israel melakukan pula apa yang jahat di mata TUHAN; sebab itu TUHAN menyerahkan mereka ke dalam tangan orang Filistin empat puluh tahun lamanya.
13:2 Pada waktu itu ada seorang dari Zora, dari keturunan orang Dan, namanya Manoah; isterinya mandul, tidak beranak.
13:3 Dan Malaikat TUHAN menampakkan diri kepada perempuan itu dan berfirman kepadanya, demikian: "Memang engkau mandul, tidak beranak, tetapi engkau akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki.
13:4 Oleh sebab itu, peliharalah dirimu, jangan minum anggur atau minuman yang memabukkan dan jangan makan sesuatu yang haram.
13:5 Sebab engkau akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki; kepalanya takkan kena pisau cukur, sebab sejak dari kandungan ibunya anak itu akan menjadi seorang nazir Allah dan dengan dia akan mulai penyelamatan orang Israel dari tangan orang Filistin."

Kamis, 19 April 2012

Menguduskan Hari Sabat


Sabtu, 21 April 2012
Bacaan Alkitab: Keluaran 20:8-11
Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat” (Kel 20:8)


Menguduskan Hari Sabat


Ketika Yesus mulai melayani, pertentangan utama antara Yesus dengan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi adalah mengenai hari Sabat. Jika kita membaca di keempat Injil, kita akan menemukan bahwa pada awalnya, orang Farisi dan ahli Taurat juga selalu mengikut Yesus dan sangat jarang bertentangan dengan Yesus. Namun ada satu kejadian dimana sejak itu mereka mulai mencoba untuk membunuh Yesus, yaitu karena Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat (Mat 12:14,  Mrk 3:6, Luk 6:11, Yoh 5:16). Bagi orang Yahudi, Sabat adalah hari yang kudus, hari perhentian, sehingga mereka dilarang melakukan pekerjaan pada hari Sabat.

Alkitab memang memerintahkan orang Israel untuk mengingat dan menguduskan hari Sabat (ay. 8). Hari Sabat merupakan hari ketujuh, dimana selama enam hari sebelumnya bangsa Israel melakukan segala pekerjaan mereka (ay. 9), dan pada Hari Sabat atau hari ketujuh maka bangsa Israel tidak boleh melakukan segala pekerjaan. Hal ini berlaku untuk seluruh bangsa Israel, baik laki-laki, perempuan, anak-anak, hamba-hamba atau budak-budak, orang asing yang tinggal di tengah-tengah mereka, bahkan hingga ke hewan yang mereka miliki, semuanya harus berhenti dari pekerjaan mereka. Tuhan sendiri yang mengatakan bahwa dasar ajaran tentang hari Sabat adalah karena Tuhan bekerja menciptakan langit dan bumi selama enam hari lamanya, dan pada hari yang ketujuh Tuhan berhenti (Kej 2:1-3). Itulah sebabnya Tuhan memberkati hari Sabat dan menguduskannya (ay. 11)

Lalu apakah kita yang hidup di masa kini masih harus memegang teguh prinsip hari Sabat? Bukankah Tuhan sendiri juga seakan-akan melanggar hari Sabat itu sendiri dengan menyembuhkan orang pada hari Sabat?
Saya sendiri bukan seseorang yang ahli dalam pengetahuan Firman Tuhan. Tetapi jika kita perhatikan, maksud dari perintah Tuhan kepada bangsa Israel mengenai hari Sabat adalah agar mereka menguduskan hari Sabat. Hal ini berarti setelah enam hari lamanya kita bekerja mencari nafkah, maka hari ketujuh kita harus berhenti bekerja. Hal ini sering menjadi salah paham termasuk dari orang Farisi dan ahli Taurat. Mereka menganggap bahwa pada hari Sabat, mereka tidak boleh melakukan pekerjaan, termasuk menyembuhkan orang sakit. Padahal maksud Tuhan dari pemberian hari Sabat adalah agar kita menguduskan hari ketujuh, karena hari ketujuh adalah hari Sabat Tuhan (ay. 10a). Seharusnya, hari Sabat kita gunakan sebagai hari khusus bagi Tuhan, sesuai dengan arti menguduskan yaitu “memisahkan dari dunia bagi Allah”.

Jadi apa yang seharusnya kita lakukan pada hari Sabat? Walaupun tidak ada aturan pasti di dalam Alkitab, menurut saya pada hari Sabat (yang bagi kebanyakan orang-orang Kristen diartikan sebagai hari Minggu), kita harusnya melakukan segala hal bagi Tuhan. Beribadah ke gereja adalah salah satunya. Lebih bagus lagi jika kita juga mengambil bagian dalam pelayanan kita pada hari Sabat. Oleh karena itu penting bagi kita untuk memahami prinsip bahwa walaupun setiap hari memang seharusnya adalah hari bagi Tuhan, tetapi hari Sabat harus kita khususkan sehingga merupakan hari yang benar-benar kita gunakan bagi Tuhan. Artinya dalam pada hari Sabat, kita harus berusaha agar kita benar-benar melakukan segala sesuatu bagi Tuhan.

Dalam hal praktis, bagaimana jika kita karena tuntutan pekerjaan kita memang harus bekerja pada hari Minggu? Saya katakan, bahwa jikalau kita memang harus masuk pada hari Minggu, usahakan terdapat satu hari kosong selama tujuh hari dalam seminggu, dan pada hari tersebut (entah hari apapun dari Senin hingga Sabtu), gunakanlah itu sebagai hari Sabat bagi kita, ketika kita berhenti dari segala rutinitas pekerjaan kita. Saya sendiri pun juga masih dalam proses belajar untuk menguduskan hari Sabat ini, karena walaupun pekerjaan saya adalah seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS), namun instansi tempat saya bekerja kadang-kadang menggunakan hari minggu sebagai hari kerja terutama ketika sedang menyelesaikan laporan menjelang tenggat waktu. Saya pun bukan orang yang sempurna dalam hal melaksanakan hukum Sabat ini, tetapi alangkah baiknya jika kita terus menerus berusaha untuk hidup sesuai dengan Firman Tuhan, karena Tuhan sendiri mengatakan bahwa Tuhan memberkati hari Sabat dan menguduskannya. Jika Tuhan saja memberkati hari Sabat tersebut, bayangkan betapa besar berkat yang akan diterima oleh anak-anak Tuhan yang juga menguduskan hari Sabat hanya bagi Tuhan. Tangan Tuhan tidak pernah kurang panjang untuk memberkati anak-anakNya yang taat melakukan perintahNya. Tuhan juga tidak akan pernah kekurangan cara untuk memberkati anak-anakNya yang memberikan satu hari khusus bagi Tuhan dan tidak bekerja di hari Sabat. Ingatlah ketika bangsa Israel sedang berada di padang gurun, ketika mereka diperintahkan Tuhan untuk tidak memungut Manna pada hari ketujuh (hari Sabat), Tuhan memberikan manna yang lebih banyak pada hari keenam dan manna tersebut tidak busuk walau disimpan selama dua hari (Kel 16:22-26). Sudahkah kita benar-benar menguduskan dan memberikan hari Sabat kita kepada Tuhan?


Bacaan Alkitab: Keluaran 20:8-11
20:8 Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat:
20:9 enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu,
20:10 tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu.
20:11 Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya.

Selasa, 17 April 2012

Meneladani Ester


Jumat, 20 April 2012
Bacaan Alkitab: Ester 2:8-18
Maka Ester dikasihi oleh baginda lebih dari pada semua perempuan lain, dan ia beroleh sayang dan kasih baginda lebih dari pada semua anak dara lain, sehingga baginda mengenakan mahkota kerajaan ke atas kepalanya dan mengangkat dia menjadi ratu ganti Wasti.” (Est 2:17)


Meneladani Ester


Jika kita melihat kisah hidup Ester, maka kita akan melihat bahwa kisah hidup Ester ini mengalahkan kisah sinetron manapun di Indonesia. Dari seorang gadis yatim piatu bangsa Yahudi (yang merupakan bangsa buangan), kemudian terpilih menjadi permaisuri, lalu mendapatkan ancaman pemusnahan massal bangsanya, dan kemudian bertindak untuk menyelamatkan bangsanya dan akhirnya menjadi pahlawan bagi bangsa Yahudi. Ester merupakan gambaran dari jemaat Tuhan, bagaimana Ester akhirnya mampu menyadi permaisuri (mempelai) raja Ahasyweros, sama seperti jemaat Tuhan pun nantinya akan menjadi mempelai Anak Domba. Ada beberapa prinsip yang dapat kita pelajari dari Ester terkait bagaimana proses Ester mempersiapkan diri dari seorang anak yatim piatu sehingga akhirnya menjadi seorang permaisuri.

Pertama, Ester memiliki hati dan kepribadian yang baik. Ketika Ester mendaftar untuk seleksi menjadi permaisuri, Ester pun dibawa masuk ke dalam istana raja untuk mengikuti proses seleksi (ay. 8). Alkitab mengatakan bahwa di mata Hegai, penjaga para perempuan, Ester terlihat sangat baik pada pemandangannya dan menimbulkan kasih sayangnya (ay. 9). Tidak mungkin bila Ester merupakan orang yang arogan dan egois lalu dapat menjadi kesayangan dari orang lain. Hal ini juga berlaku sama bagi kita, yaitu kita pun perlu memiliki hati dan karakter yang baik, sehingga Tuhan pun dapat berkenan kepada kita.

Kedua, Ester mau melakukan proses mempersiapkan diri secara serius. Ketika Ester sudah terpilih menjadi salah satu kandidat permaisuri, ia dirawat selama 12 bulan, hanya untuk memakai wangi-wangian (ay. 12). Saya membayangkan bagaimana wanginya seorang calon permaisuri yang telah menjalani proses persiapan selama 12 bulan tersebut. Hal tersebut juga menjadi gambaran apa yang seharusnya jemaat Tuhan lakukan, yaitu mempersiapkan diri untuk menjadi mempelai Tuhan. Ingatlah akan perumpamaan lima gadis bijaksana dan lima gadis yang bodoh, dimana gadis-gadis yang bijaksana memiliki persiapan minyak cadangan sehingga mereka dapat menyambut mempelai pria yang datang (Mat 25:1-13).

Ketiga, Ester memiliki penguasaan diri. Ketika seorang gadis akan dibawa masuk untuk menghadap raja, maka ia dapat meminta apapun dan semua yang diminta akan diberikan kepadanya (ay. 13). Dengan kata lain, Ester dapat saja meminta apa saja termasuk harta, kekayaan, kedudukan, dan lain sebagainya, mengingat masa kecilnya mungkin sangat berat sebagai seorang yatim piatu. Akan tetapi Alkitab mengatakan bahwa Ester tidak menghendaki sesuatu apa pun selain dari pada yang dianjurkan oleh Hegai, sida-sida raja, penjaga para perempuan dan hal tersebut dapat menimbulkan kasih sayang pada semua orang yang melihat dia (ay. 15). Demikian juga kita sebagai jemaat Tuhan harus mampu memiliki penguasaan diri (Rm 12:3).

Keempat, Ester menyelesaikan pekerjaannya hingga pada akhirnya. Ester tidak hanya berhenti sampai di seleksi selama 12 bulan tersebut, tetapi Ester melakukan apa yang seharusnya ia lakukan, ketika ia masuk menghadap raja, ia melakukan tugasnya dengan baik, sehingga raja Ahasyweros pun berkenan kepada Ester dan mengaruniakan mahkota permaisuri kepada Ester (ay. 17). Demikian juga hidup kita sebagai orang percaya harus hidup dan melakukan hal-hal yang berkenan kepada Tuhan (Kol 1:10).

Kelima, Ester memiliki dampak positif bagi orang lain. Ketika Ester terpilih menjadi permaisuri, hal tersebut tidak hanya memiliki pengaruh positif bagi dirinya dan juga Mordekhai, atau bangsa Yahudi, tetapi karena terpilihnya Ester menjadi permaisuri, raja Ahasyweros jadi bermurah hati dengan menitahkan kebebasan pajak bagi daerah-daerah serta mengaruniakan anugerah kepada rakyatnya (ay. 18). Demikian juga, kehidupan kita sebagai orang-orang percaya juga tidak boleh hanya berdampak pada lingkungan jemaat saja, tetapi kita harus keluar dan menjadi garam serta terang dunia (Mat 5:13-14).

Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita menjadi seperti Ester? Sudahkah kita mempersiapkan diri kita sebagai mempelai Kristus, dan juga menjadi saksi-saksi Kristus dan berdampak besar bagi lingkungan sekitar kita?


Bacaan Alkitab: Ester 2:8-18
2:8 Setelah titah dan undang-undang raja tersiar dan banyak gadis dikumpulkan di dalam benteng Susan, di bawah pengawasan Hegai, maka Ester pun dibawa masuk ke dalam istana raja, di bawah pengawasan Hegai, penjaga para perempuan.
2:9 Maka gadis itu sangat baik pada pemandangannya dan menimbulkan kasih sayangnya, sehingga Hegai segera memberikan wangi-wangian dan pelabur kepadanya, dan juga tujuh orang dayang-dayang yang terpilih dari isi istana raja, kemudian memindahkan dia dengan dayang-dayangnya ke bagian yang terbaik di dalam balai perempuan.
2:10 Ester tidak memberitahukan kebangsaan dan asal usulnya, karena dilarang oleh Mordekhai.
2:11 Tiap-tiap hari berjalan-jalanlah Mordekhai di depan pelataran balai perempuan itu untuk mengetahui bagaimana keadaan Ester dan apa yang akan berlaku atasnya.
2:12 Tiap-tiap kali seorang gadis mendapat giliran untuk masuk menghadap raja Ahasyweros, dan sebelumnya ia dirawat menurut peraturan bagi para perempuan selama dua belas bulan, sebab seluruh waktu itu digunakan untuk pemakaian wangi-wangian: enam bulan untuk memakai minyak mur dan enam bulan lagi untuk memakai minyak kasai serta lain-lain wangi-wangian perempuan.
2:13 Lalu gadis itu masuk menghadap raja, dan segala apa yang dimintanya harus diberikan kepadanya untuk dibawa masuk dari balai perempuan ke dalam istana raja.
2:14 Pada waktu petang ia masuk dan pada waktu pagi ia kembali, tetapi sekali ini ke dalam balai perempuan yang kedua, di bawah pengawasan Saasgas, sida-sida raja, penjaga para gundik. Ia tidak diperkenankan masuk lagi menghadap raja, kecuali jikalau raja berkenan kepadanya dan ia dipanggil dengan disebutkan namanya.
2:15 Ketika Ester -- anak Abihail, yakni saudara ayah Mordekhai yang mengangkat Ester sebagai anak -- mendapat giliran untuk masuk menghadap raja, maka ia tidak menghendaki sesuatu apa pun selain dari pada yang dianjurkan oleh Hegai, sida-sida raja, penjaga para perempuan. Maka Ester dapat menimbulkan kasih sayang pada semua orang yang melihat dia.
2:16 Demikianlah Ester dibawa masuk menghadap raja Ahasyweros ke dalam istananya pada bulan yang kesepuluh -- yakni bulan Tebet -- pada tahun yang ketujuh dalam pemerintahan baginda.
2:17 Maka Ester dikasihi oleh baginda lebih dari pada semua perempuan lain, dan ia beroleh sayang dan kasih baginda lebih dari pada semua anak dara lain, sehingga baginda mengenakan mahkota kerajaan ke atas kepalanya dan mengangkat dia menjadi ratu ganti Wasti.
2:18 Kemudian diadakanlah oleh baginda suatu perjamuan bagi semua pembesar dan pegawainya, yakni perjamuan karena Ester, dan baginda menitahkan kebebasan pajak bagi daerah-daerah serta mengaruniakan anugerah, sebagaimana layak bagi raja.