Jumat, 24 Agustus 2012

Ditindas, tetapi Justru Semakin Bertambah Banyak


Selasa, 21 Agustus 2012
Bacaan Alkitab: Keluaran 1:10-12
 Tetapi makin ditindas, makin bertambah banyak dan berkembang mereka, sehingga orang merasa takut kepada orang Israel itu.” (Kel 1:12)


Ditindas, tetapi Justru Semakin Bertambah Banyak


Saya rasa di antara kita pasti sudah pernah membaca tentang kisah bagaimana orang Israel (orang Ibrani) ditindas di Mesir. Mereka ditindas setelah bangkitnya seorang raja di Mesir (Firaun) yang  tidak mengenal jasa-jasa Yusuf (Kel 1:8). Jika kita lihat, orang Israel awalnya hanya berjumlah 70 jiwa pada waktu Yakub dan keluarganya datang ke tanah Mesir sebagai pendatang (Kej 46:26-27), tetapi setelah ditindas selama 430 tahun (Kel 12:40), jumlah orang Israel adalah 600.000 orang laki-laki belum termasuk wanita dan anak-anak (Kel 12:37). Jika kita asumsikan rata-rata satu keluarga terdiri dari satu ayah, satu ibu, dan dua orang anak, maka jumlah orang Israel yang keluar dari Mesir adalah sebanyak 2,4 juta orang. Apa yang menyebabkan perkembangan orang Israel yang secepat itu?

Jika kita perhatikan, sebenarnya orang Israel berada dalam penindasan karena raja Mesir ingin agar bangsa Israel tidak menjadi bertambah banyak, karena hal tersebut akan dapat berpotensi menjadi musuh dalam selimut dan dapat memerangi orang Mesir sendiri (ay. 10). Oleh karena itu, bangsa Israel pun dijadikan budak untuk membangun kota-kota orang Mesir (ay. 11). Pada zaman dahulu, menjadi budak tentu tidak menyenangkan. Masih lebih baik nasib TKI kita di luar negeri, yang minimal masih mendapatkan upah atau gaji. Menjadi budak tidak mendapatkan gaji, dan mungkin hanya mendapatkan makanan secukupnya.

Berada dalam kondisi yang penuh tekanan seperti itu, bagaimana keadaan bangsa Israel? Apakah mereka justru menjadi berkurang? Tidak, Alkitab mengatakan bahwa semakin orang Israel ditindas, mereka justru bertambah banyak dan berkembang sehingga orang Mesir pun merasa takut kepada orang Israel (ay. 12). Inilah inti dari hukum Tuhan. Semakin ditindas, justru anak-anak Tuhan akan semakin berkembang dan bertambah banyak. Sejarah membuktikan bahwa justru di masa-masa penindasan bangsa Romawi, kekristenan justru menyebar dengan cepat ke seluruh dunia di zaman Gereja mula-mula. Justru ketika akhirnya kekristenan telah menjadi agama resmi di Romawi, dan tidak ada lagi penindasan, Gereja justru lambat laum seperti mati suri. Kondisi terparah ketika gereja berkompromi dengan pemerintah dunia, yang mengakibatkan gereja pun hanya sebagai alat politik saja, sehingga justru Gereja tidak muncul menjadi saksi-saksi Tuhan yang memuliakan namaNya.

Saya sedang merenung dan sedang memita konfirmasi dari Tuhan, apakah Gereja di akhir zaman ini akan menjadi Gereja yang diberkati dan dilindungi Tuhan secara melimpah atau justru akan menjadi Gereja yang mengalami banyak tekanan dan penindasan? Mengapa demikian, di negeri Cina, ketika kekristenan dihambat sedemikian rupa sehingga mereka bahkan harus beribadah di bawah tanah, justru kekristenan berkembang secara luar biasa. Demikian juga yang terjadi di banyak negara lainnya. Akan tetapi di kawasan Eropa dan Amerika, dimana kekristenan menjadi agama utama di sana, Gereja justru mengalami kemunduran, bahkan di beberapa negara gereja mendukung pernikahan sesama jenis.

Jadi bersyukurlah ketika Tuhan masih mengizinkan penindasan terhadap Gereja di Indonesia ini. Itu tandanya bahwa Tuhan masih menyertai Gereja Tuhan di Indonesia ini. Bukankah dengan adanya penindasan maka Gereja Tuhan akan bersatu dan berdoa bagi Tuhan? Ingatkah akan kejadian di sekitar tahun 2000an, ketika banyak Gereja dirusak dan dibom? Bukankah anak-anak Tuhan justru semakin giat berdoa dan saling menjalin jejaring antar gereja? Mungkin bagi kebanyakan orang, pandangan saya sangat ekstrem. Tetapi saya hanya menyatakan kebenaran, bahwa seringkali Tuhan ijinkan penindasan gereja sebagai sarana untuk memurnikan anak-anak Tuhan, mana yang sungguh-sungguh mengiring Tuhan, mana yang hanya ikut-ikutan. Biarlah ketika penindasan itu datang, kita sebagai anak-anak Tuhan akan semakin dimurnikan, sehingga kita akan seperti emas, yang semakin murni dan mengkilap ketika dibakar dengan api.


Bacaan Alkitab: Keluaran 1:10-12
1:10 Marilah kita bertindak dengan bijaksana terhadap mereka, supaya mereka jangan bertambah banyak lagi dan -- jika terjadi peperangan -- jangan bersekutu nanti dengan musuh kita dan memerangi kita, lalu pergi dari negeri ini."
1:11 Sebab itu pengawas-pengawas rodi ditempatkan atas mereka untuk menindas mereka dengan kerja paksa: mereka harus mendirikan bagi Firaun kota-kota perbekalan, yakni Pitom dan Raamses.
1:12 Tetapi makin ditindas, makin bertambah banyak dan berkembang mereka, sehingga orang merasa takut kepada orang Israel itu.


Memaafkan Lahir Batin


Senin, 20 Agustus 2012
Bacaan Alkitab: Matius 18:21-22
 Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali. "” (Mat 18:22)


Memaafkan Lahir Batin


Pada hari raya Idul Fitri ini, kita pasti familiar dengan istilah “mohon maaf lahir dan batin”. Memang tidak ada salahnya memaafkan orang lain, terlebih memaafkan lahir dan batin, yang jika diistilahkan dengan kata-kata saya, hal itu sama saja dengan memaafkan seluruhnya, bahkan memaafkan tidak hanya jasmani juga, tetapi  memaafkan dalam jiwa dan roh kita. Kita mudah saja mengatakan kepada orang yang pernah menyakiti kita, “Ya, saya sudah memaafkan anda”, tetapi pertanyaannya, apakah kita sudah sungguh-sungguh memaafkan orang tersebut dari dalam hati? Apakah itu hanya perkataan yang keluar dari bibir kita tetapi di dalam hati kita masih dongkol?

Dalam bacaan Alkitab kali ini, kita melihat bagaimana Petrus tiba-tiba datang kepada Tuhan Yesus dan berkata, “Berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia bersalah terhadap aku? Apakah sampai tujuh kali?” (ay. 21). Pertanyaan Petrus tersebut mungkin didasari bahwa ada orang lain yang bersalah kepadanya, entah dalam hal apa karena Alkitab pun tidak menceritakan latar belakang hal tersebut. Petrus mungkin berpikir dalam hatinya, tujuh kali mengampuni sudah sangat banyak bagi seseorang. Akan tetapi Yesus menjawab dengan tegas, “Bukan sampai tujuh kali, tetapi sampai tujuh puluh kali tujuh kali” (ay. 22). Tujuh puluh kali tujuh itu sama dengan 490 kali. Banyak di antara kita yang mungkin bertanya, apakah memang angka 490 kali ini merupakan angka yang mutlak atau hanya gambaran saja bahwa kita harus mengampuni hingga tidak terhingga?

Saya mencoba memberi gambaran seperti ini. Jika kita mampu mengampuni hingga 490 kali untuk kesalahan seseorang kepada kita, saya yakin kita pasti sudah tidak mempermasalahkan kesalahan orang tersebut. Artinya adalah bahwa Tuhan ingin kita selalu mengampuni kesalahan orang lain. Tetapi kita juga tetap harus bersikap bijaksana dan penuh hikmat dari Tuhan. Contohnya adalah jika ada orang menipu kita dalam urusan bisnis, ya memang kita harus memaafkan kesalahan orang tersebut. Tetapi di sisi lain kita pun perlu memiliki hikmat, agar kita jangan sampai kena tipu lagi. Yang sudah berlalu biarlah berlalu, tetapi untuk ke depannya kita pun perlu lebih berhati-hati ketika berbisnis dengan orang tersebut.

Orang yang tidak bisa mengampuni sebetulnya merupakan orang yang seharusnya paling dikasihani. Mengapa demikian? Karena orang tersebut akan menyimpan dendam tersebut di dalam hatinya. Alkitab memberi contoh Kain yang mendendam kepada Habel, padahal sebenarnya Habel tidak melakukan kesalahan kepada Kain. Tuhan sebenarnya sudah mengingatkan Kain, “Mengapa hatimu panas dan mukamu muram? Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya” (Kej 4:6-7). Andaikata Kain segera “memaafkan” Habel, mungkin ceritanya akan lain dan Habel tidak perlu dibunuh. Akan tetapi karena Kain tidak mau “memaafkan” Habel, maka akhirnya Kain pun membunuh Habel.

Orang yang tidak bisa mengampuni atau memaafkan itu memiliki potensi untuk bersikap nekad, bahkan mungkin bisa sampai membunuh orang tersebut. Kita sebagai anak-anak Tuhan tidak boleh memiliki sikap yang sama seperti dunia, yaitu “mata ganti mata, gigi ganti gigi”. Tuhan Yesus mengatakan bahwa jika kita mengasihi orang yang berbuat baik kepada kita, semua orang juga sudah melakukannya. Tetapi Tuhan mau agar kita mengasihi musuh kita. Dan bagaimanakah cara kita  mengasihi musuh kita? Langkah pertama adalah dengan cara memaafkan atau mengampuni orang tersebut. Tanpa pengampunan tidak akan ada kasih. Kita sudah terlebih dahulu diampuni oleh Tuhan, itulah sebabnya kita pun harus mengampuni orang lain. Doa Bapa Kami antara lain menyatakan bahwa “Dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami” (Mat 6:12). Jadi jika kita tidak mau mengampuni orang lain, maka Tuhan pun tidak akan mau mengampuni kita. Jadikan pengampunan kita sebagai gaya hidup kita sebagai anak-anak Tuhan, sehingga orang lain pun bisa melihat bahwa hidup kita pun memancarkan kasih Tuhan yang telah terlebih dahulu mengampuni kita. Jangan hanya memaafkan sekali setahun, tetapi maafkanlah orang lain setiap hari, bahkan setiap saat.


Bacaan Alkitab: Matius 18:21-22
18:21 Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?"
18:22 Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.

Ketika Tuhan Yesus “Mudik”


Minggu, 19 Agustus 2012
Bacaan Alkitab: Markus 6:1-6a
 Maka Yesus berkata kepada mereka: "Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya dan di rumahnya."” (Mrk 6:4)


Ketika Tuhan Yesus “Mudik”


Saat-saat ini, menjelang Hari Raya Lebaran, sudah menjadi tradisi di Indonesia untuk mudik alias pulang ke kampung halaman dan bertemu dengan orang tua dan sanak saudara. Saat ini mudik pun sudah bukan menjadi sesuatu yang identik dengan agama tertentu, tetapi sudah menjadi bagian dari budaya Indonesia. Saya sendiri juga mengalami mudik, bahkan saya menulis renungan ini di kampung halaman isteri saya. Saya juga mengalami bagaimana susahnya mencari tiket mudik hingga harus antre berjam-jam. Saya mudik memang memanfaatkan kesempatan cuti bersama yang diberikan kepada pegawai-pegawai di instansi saya. Saya merasa sayang apabila diberikan kesempatan cuti bersama dan berlibur tetapi tidak dimanfaatkan untuk bertemu sanak saudara. Terkait dengan hal tersebut, saya melihat ternyata dalam Alkitab ada sebuah contoh yang menunjukkan bahwa Tuhan Yesus pun pernah “mudik”.

Akan tetapi, berbeda dengan mudik dalam konteks di Indonesia ini, Tuhan Yesus “mudik” bukan dalam rangka bersilaturahmi dengan sanak saudaraNya. Alkitab mengatakan bahwa Tuhan Yesus berkunjung ke kota-kota, termasuk ke kota tempat asal-Nya (yaitu tempat Ia dibesarkan di kota Nazaaret) dalam rangka menceritakan Kabar Baik kepada orang-orang yang ditemuiNya. Yesus pergi ke Nazaret didampingi oleh murid-muridNya (ay. 1).

Seperti kebiasaan pada waktu itu, orang yang dianggap sudah dewasa pun mendapat giliran untuk membacakan Taurat di rumah ibadah yang ada. Saat itu, pada hari Sabat, Yesus pun mulai mendapatkan giliran untuk membacakan Taurat dan mengajar pada rumah ibadah di kota asalNya (ay. 2a). Saat itulah, orang banyak menjadi takjub karena hikmat yang dimilikiNya (ay. 2b). Seharusnya para penduduk Nazaret menjadi bangga, karena adalah salah satu warganya yang memiliki hikmat luar biasa untuk mengajar dengan luar biasa pula, bahkan membuat mujizat di hadapan orang banyak.

Akan tetapi menarik melihat reaksi dari para penduduk Nazaret, yang notabene adalah orang-orang yang mengenal Yesus sejak kecil hingga Ia memulai pelayananNya. Orang Nazaret justru mengatakan hal yang negatif, “Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria? Bukankah saudara-saudaraNya ada bersama kita?” (ay. 3a). Penduduk Nazaret justru melihat bahwa seharusnya Yesus itu tidak bisa melakukan mujizat seperti ini. Mereka berpikir bahwa Yesus adalah orang biasa, seorang tukang kayu, yang saudara-saudaraNya hidup di antara mereka. Alkitab mengatakan bahwa orang Nazaret pun justru kecewa dan menolak Dia (ay. 3b).

Cukup aneh mengapa harus penduduk Nazaret yang kecewa? Bukankah seharusnya Tuhan Yesus yang lebih kecewa? Bisa jadi penduduk Nazaret kecewa mengapa kok justru Yesus yang menjadi “nabi Tuhan”, bukan mereka. Akibatnya fatal, Yesus tidak mengadakan satu mujizat pun di sana (ay. 5). Ia hanya menyembuhkan beberapa orang sakit (yang tentunya mereka termasuk orang-orang yang percaya penuh kepada Tuhan Yesus, bukan kebanyakan penduduk Nazaret). Saking herannya, Yesus pun berkata, “Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya dan di rumahnya” (ay. 4). Yesus pun heran akan ketidakpercayaan mereka (ay. 6a).

Apa yang dapat kita pelajari hari ini adalah bahwa kadang-kadang kita belum siap melihat Tuhan memakai orang-orang terdekat kita, bahkan mungkin anggota keluarga kita, sedangkan kita belum. Kita merasa iri mengapa Tuhan kok memakai orang itu, bukankah kita juga sepertinya masih lebih baik dari orang itu? Ya ini sikap yang harus kita hilangkan. Kita harus memiliki sikap berserah kepada Tuhan. Jika memang Tuhan memakai orang lain selain kita, berarti ada maksud Tuhan yang lain, bisa saja karena memang belum waktu kita, atau justru kita yang belum siap dipakai Tuhan. Jangan menghakimi orang lain atau justru bersikap seperti penduduk Nazaret tersebut. Jangan sampai karena sikap kita, justru Kerajaan Allah tidak dapat hadir di tempat kita.


Bacaan Alkitab: Markus 6:1-6a
6:1 Kemudian Yesus berangkat dari situ dan tiba di tempat asal-Nya, sedang murid-murid-Nya mengikuti Dia.
6:2 Pada hari Sabat Ia mulai mengajar di rumah ibadat dan jemaat yang besar takjub ketika mendengar Dia dan mereka berkata: "Dari mana diperoleh-Nya semuanya itu? Hikmat apa pulakah yang diberikan kepada-Nya? Dan mujizat-mujizat yang demikian bagaimanakah dapat diadakan oleh tangan-Nya?
6:3 Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada bersama kita?" Lalu mereka kecewa dan menolak Dia.
6:4 Maka Yesus berkata kepada mereka: "Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya dan di rumahnya."
6:5 Ia tidak dapat mengadakan satu mujizat pun di sana, kecuali menyembuhkan beberapa orang sakit dengan meletakkan tangan-Nya atas mereka.
6:6a Ia merasa heran atas ketidakpercayaan mereka.


Kamis, 16 Agustus 2012

Relevansi Tradisi yang Ditulis dalam Alkitab


Sabtu, 18 Agustus 2012
Bacaan Alkitab: Galatia 6:15-16
 Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, tetapi menjadi ciptaan baru, itulah yang ada artinya.” (Gal 6:15)


Relevansi Tradisi yang Ditulis dalam Alkitab


Ketika saya masih bersekolah di SMP atau SMA Katolik, saya pernah membaca sebuah tulisan dalam buku pelajaran agama Katolik yang kurang lebih berbunyi seperti ini:

Pada suatu waktu di suatu biara, ada seekor kucing yang hidup berkeliaran di biara tersebut. Kucing ini memiliki kebiasaan yaitu datang ke acara ibadah dan mengeong keras-keras pada waktu ibadah sedang dimulai. Akibatnya, kepala Biara kemudian memerintahkan agar kucing tersebut diikat dan ditutup mulutnya ketika ibadah akan dilaksanakan. Murid-murid di biara tersebut segera melakukan apa yang diminta kepala biara. Setelah sekian lama, kepala biara tersebut meninggal dunia dan digantikan orang lain. Orang lain itu pun mengikuti apa yang sudah biasa dilakukan, yaitu mengikat kucing dan menutup mulutnya setiap kali ibadah diadakan. Dan setelah itu, kucing itu pun mati. Para murid di biara tersebut pun merasa ada yang kurang ketika tidak ada lagi kucing yang diikat dan ditutup mulutnya, akhirnya mereka pun mencari kucing lain dan mengikatnya serta menutup mulutnya setiap kali ibadah akan dimulai. Hal itu pun menjadi tradisi dan kebiasaan yang berlangsung hingga saat ini.

Membaca tulisan atau kisah di atas, saya rasa kita semua sudah cukup paham apa maksudnya tulisan tersebut. Tulisan tersebut bukan mengartikan bahwa agama Katolik adalah agama yang berpegang pada tradisi, tetapi saya melihat justru agama Katolik sendiri sudah mengajarkan bahwa penting bagi kita untuk dapat membedakan mana sebetulnya hal-hal yang penting, dan mana yang sebenarnya adalah hal-hal yang bersifat tradisi dan kebiasaan, yang sebenarnya sudah tidak relevan lagi. Jika kita membaca Alkitab, cukup banyak tradisi orang Israel dan orang Yahudi yang ditulis dalam Alkitab. Apakah semuanya masih relevan bagi kita saat ini? Ataukah sebenarnya kita cukup mengambil esensi dari tradisi tersebut?

Ada banyak tradisi dalam Alkitab yang sebenarnya masih relevan kita terapkan dalam kehidupan kita saat ini. Sebagai contoh memberikan persembahan persepuluhan, memuji Tuhan melalui nyanyian kita, melakukan perjamuan kudus untuk mengingat apa yang Tuhan telah lakukan bagi kita, dan lain sebaginya. Tetapi ada juga sejumlah tradisi yang menurut saya sudah tidak relevan, misalnya adalah sunat. Ini adalah perintah yang diberikan Tuhan kepada Abraham (Kej 17:10). Itulah mengapa dua dari tiga agama besar di dunia yang berasal dari keturunan Abraham, yaitu agama Yahudi dan agama Islam mensyaratkan sunat sebagai hal yang wajib dilakukan oleh setiap laki-laki. Akan tetapi, agama Kristen (jika kekristenan dapat dianggap sebagai agama), tidak mewajibkan sunat sebagai syarat mutlak.

Mengapa demikian? Kita harus melihat konteks peristiwa yang terjadi pada zaman gereja mula-mula. Awalnya gereja mula-mula terdiri dari orang-orang Yahudi yang percaya kepada Yesus, yang dirintis oleh kesebelas murid-murid Tuhan Yesus (minus Yudas Iskariot yang mengkhianati Yesus). Akan tetapi gereja ternyata berkembang dan menjangkau bangsa-bangsa lain. Mereka tidak memiliki kebiasaan sunat dan hal ini menjadi pertentangan besar dalam gereja waktu itu. Akibatnya diadakan sidang atau pertemuan para hamba-hamba Tuhan yang menghasilkan keputusan pada waktu itu yaitu sunat tidak diwajibkan dalam ajaran gereja karena bukan sunatlah yang menyelamatkan, tetapi iman kepada Yesus Kristuslah yang menyelamatkan. Namun bagi orang-orang yang sudah bersunat, atau yang percaya bahwa sunat adalah perjanjian turun temurun (terutama bagi orang percaya dari kalangan Yahudi), gereja membebaskan mereka untuk bersunat. Akan tetapi bagi orang-orang non Yahudi yang tidak ingin disunat, gereja juga tidak memaksa mereka untuk bersunat. Ini adalah keputusan penting yang dibuat gereja mula-mula yang menyebabkan pertumbuhan gereja menjadi sangat pesat.

Tentu para hamba-hamba Tuhan itu memiliki pemahaman yang benar, bahwa esensi dari sunat adalah perjanjian antara Abraham dan keturunannya dengan Tuhan. Oleh karena itu, bangsa Yahudi yang merupakan keturunan jasmani dari Abraham, boleh-boleh saja memelihara sunat. Sedangkan bangsa non Yahudi yang telah percaya kepada Kristus, yang merupakan keturunan rohani dari Abraham, juga boleh-boleh saja disunat jika mereka mau, akan tetapi Paulus lebih mementingkan “sunat rohani” ketimbang “sunat jasmani” (Rm 2:28), walaupun Paulus sendiri adalah orang yang telah disunat secara jasmani sejak hari kedelapan, sesuai adat istiadat atau tradisi bangsa Yahudi pada waktu itu (Flp 3:5).

Oleh karena itu, dalam bacaan Alkitab kita ini kita melihat bahwa sebenarnya sunat atau tidak bersunat itu tidak ada artinya, atau dalam kalimat lain, bukanlah hal yang terpenting, melainkan menjadi ciptaan baru, mengenal Allah dalam kebenaran, dan menjadi anak-anak Allah, itulah hal yang lebih penting (ay. 15). Penting bagi kita untuk memiliki pola pikir seperti ini, sehingga kita dapat membedakan mana sebenarnya tradisi-tradisi yang masih relevan bagi kita, dan mana tradisi-tradisi yang sebenarnya tidak terlalu esensial. Dengan berpegangan pada pola pikir dan patokan seperti ini, kita akan merasakan damai sejahtera dari Tuhan (ay. 16).

Terkait dengan tulisan yang saya kutip di awal renungan hari ini, saya ingin menyampaikan bahwa seringkali gereja memiliki kebiasaan yang turun temurun, tanpa mengerti esensi dari kebiasaan tersebut. Contoh paling mudah, kita berdoa dengan melipat tangan. Apakah itu salah? Tidak salah, tetapi juga sebenarnya tidak ada ayatnya di Alkitab. Atau contoh lain, kita bernyanyi dengan bertepuk tangan. Apakah itu salah? Tidak salah, tetapi juga sebenarnya tidak ada ayatnya di Alkitab. Lalu bagaimana pandangan kita terhadap hal-hal seperti ini? Menurut saya, jika memang kita lebih merasa khusyuk berdoa dengan melipat tangan, maka silahkan berdoa dengan melipat tangan. Tetapi bagi mereka yang terbiasa berdoa dengan tangan yang bergerak bebas, silahkan berdoa denga cara tersebut. Yang terpenting adalah doa kita adalah doa yang kita ucapkan dengan benar, dan kita tujukan kepada Tuhan, bukan kepada yang lain. Lalu jika kita terbiasa bernyanyi di gereja dengan bertepuk tangan, silahkan bertepuk tangan. Jika kita tidak terbiasa dengan hal itu, menyanyilah seperti biasa. Yang penting adalah kita sadar bahwa kita memuji Tuhan yang benar dan dengan hati yang benar pula, dan nyanyian kita itu memuliakan nama Tuhan. Dengan demikian, jangan ada di antara kita yang kemudian menjadi ragu-ragu dalam melakukan sesuatu hal, terlebih jangan ada di antara kita yang menjadi tersandung karena ajaran-ajaran tertentu yang bilang bahwa hal ini boleh, hal itu tidak boleh, dan lain sebagainya. Yang penting bagi kita adalah mengerti esensi di balik tradisi yang ada, sehingga oleh hikmat Tuhan kita boleh tetap mengerti kebenaran dan menjadikan kebenaran itu menjadi hal yang paling penting. Apapun cara kita berdoa, apapun cara kita memuji Tuhan, yang terpenting adalah apakah Tuhan dimuliakan melalui apa yang kita lakukan.


Bacaan Alkitab: Galatia 6:15-16
6:15 Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, tetapi menjadi ciptaan baru, itulah yang ada artinya.
6:16 Dan semua orang, yang memberi dirinya dipimpin oleh patokan ini, turunlah kiranya damai sejahtera dan rahmat atas mereka dan atas Israel milik Allah.

Kemerdekaan yang Palsu


Jumat, 17 Agustus 2012
Bacaan Alkitab: 2 Petrus 2:17-19
Mereka menjanjikan kemerdekaan kepada orang lain, padahal mereka sendiri adalah hamba-hamba kebinasaan, karena siapa yang dikalahkan orang, ia adalah hamba orang itu.” (2 Ptr 2:19)


Kemerdekaan yang Palsu


Hari ini kita memperingati kemerdekaan negara kita yang ke-67. Saya yakin bahwa hampir di semua renungan harian yang terbit di Indonesia pada hari ini pasti membahas ayat-ayat yang terkait dengan kemerdekaan. Memang kita telah dimerdekakan di dalam Kristus Tuhan (Gal 5:1). Tapi pertanyaannya, apakah kita sudah benar-benar yakin akan kemerdekaan kita tersebut? Ataukah kita justru selama ini hidup dalam kemerdekaan yang semu bahkan dapat saya katakan sebagai kemerdekaan yang palsu?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, kita perlu melihat ke diri kita sendiri, apakah kita sudah sungguh-sungguh mengenal Kristus Yesus dan segala FirmanNya. Jika kita sudah mengenalNya dalam kebenaran Firman Tuhan, berarti kita sudah benar-benar dimerdekakan dalam Kristus. Tetapi Alkitab pun juga mengatakan bahwa akan ada guru-guru palsu, yang menyampaikan ajaran-ajaran palsu, dan dengan demikian mereka menjanjikan kemerdekaan yang palsu kepada orang lain (ay. 19a). Mengapa dikatakan kemerdekaan yang palsu? Karena sesungguhnya para guru-guru palsu tersebut adalah bukan orang-orang yang merdeka. Mereka masih dijajah dan menjadi hamba (budak) dari kebinasaan (ay. 19b). Mereka belum dimerdekakan dalam Kristus tetapi sudah mengajar orang lain dengan ajaran yang palsu.

Jika kita memperhatikan sejarah kemerdekaan bangsa-bangsa di dunia ini, ada dua jenis kemerdekaan yaitu kemerdekaan yang diberikan oleh negara yang menjajah, dan kemerdekaan yang direbut sendiri oleh bangsa yang dijajah tersebut. Menurut saya, kemerdekaan Indonesia termasuk kelompok kemerdekaan yang kedua. Tetapi apapun jenis kemerdekaannya, dapat dikatakan bahwa suatu bangsa atau negara hanya dapat dikatakan merdeka apabila ada bangsa atau negara lain yang mengakuinya. Demikian juga kita sebagai orang-orang yang telah dimerdekakan di dalam Tuhan, bukan kita yang memerdekakan diri kita sendiri, tetapi Tuhanlah yang memberi kemerdekaan bagi kita. Dan bagaimana mungkin guru-guru palsu yang belum dimerdekakan di dalam Tuhan justru mengajarkan “kemerdekaan” versi mereka kepada orang lain? Tentunya orang yang diajar juga pasti tidak akan merdeka. Mereka hanya merasakan “kemerdekaan” yang palsu dan semu, padahal mereka belum benar-benar merdeka.

Oleh karena itu Petrus dalam suratnya yang kedua ini mengatakan bahwa guru palsu itu bagaikan mata air, tetapi mata air yang kering, yang tidak ada airnya dan seperti kabut yang dihalau taufan (ay. 17a). Mereka adalah orang-orang yang mengucapkan kata-kata yang congkak dan hampa (ay. 18a). Mereka adalah orang-orang yang justru menyesatkan orang lain, yaitu orang-orang yang baru saja melepaskan diri dari hidup mereka yang lama (ay. 18b). Dengan kata lain, orang-orang yang sesungguhnya telah merdeka, justru dibawa oleh guru-guru palsu ini kepada kemerdekaan yang palsu. Padahal, jika dibimbing dengan benar, oleh guru-guru yang benar dan ajaran yang benar pula, orang-orang seperti ini tentu akan bersinar terang menjadi anak-anak Tuhan yang luar biasa. Oleh karena itu Petrus mengatakan bahwa bagi para guru palsu ini telah tersedia tempat dalam kegelapan yang paling dashyat, yaitu neraka kekal (ay. 18). Dalam ayat lainnya, Tuhan Yesus sendiri mengatakan bahwa orang yang menyesatkan lebih baik diikat dengan batu kilangan dan dilempar ke laut (Mat 18:6-7).

Jadi, apa yang seharusnya kita lakukan? Pertama, kita sendiri harus memiliki dan meyakini kemerdekaan sejati yang ada dalam diri kita dan kehidupan kita. Ingat bahwa Tuhan telah memerdekakan kita, sehingga kita sudah tidak menjadi hamba dosa melainkan hamba kebenaran (Rm 6:17-18). Kedua, kita pun perlu berjaga-jaga, karena di zaman ini begitu banyak ajaran-ajaran yang terlihat baik, tetapi sesungguhnya tidak didasarkan pada kebenaran Firman Tuhan. Ajaran oleh guru-guru palsu inilah yang harus kita waspadai. Jangan sampai kita yang telah merdeka justru kembali menjadi tidak merdeka karena ajaran-ajaran yang menyesatkan tersebut. Itulah mengapa saya rindu kita semua memiliki pemahaman yang benar tentang Firman Tuhan, sehingga kita dapat memahami mana saja ajaran yang benar dan mana ajaran-ajaran yang tidak sepenuhnya benar, sehingga kita boleh hidup dalam kebenaran yang sejati, dan hidup dalam kemerdekaan yang sejati pula, bukan dalam kemerdekaan yang palsu dan semu.


Bacaan Alkitab: 2 Petrus 2:17-19
2:17 Guru-guru palsu itu adalah seperti mata air yang kering, seperti kabut yang dihalaukan taufan; bagi mereka telah tersedia tempat dalam kegelapan yang paling dahsyat.
2:18 Sebab mereka mengucapkan kata-kata yang congkak dan hampa dan mempergunakan hawa nafsu cabul untuk memikat orang-orang yang baru saja melepaskan diri dari mereka yang hidup dalam kesesatan.
2:19 Mereka menjanjikan kemerdekaan kepada orang lain, padahal mereka sendiri adalah hamba-hamba kebinasaan, karena siapa yang dikalahkan orang, ia adalah hamba orang itu.


Selasa, 14 Agustus 2012

Mencari yang Menyenangkan Telinga


Kamis, 16 Agustus 2012
Bacaan Alkitab: 2 Timotius 4:1-4
Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya.” (2 Tim 4:3)


Mencari yang Menyenangkan Telinga


Pernahkah kita memperhatikan tren para pengamen yang biasa mengamen di bus kota pada saat bulan puasa dan mendekati Lebaran ini? Kalau di hari-hari biasa, para pengamen itu biasa mengamen dengan menyanyikan lagu-lagu hits terbaru, tetapi jika kita perhatikan, menjelang Lebaran ini, pengamen yang sama justru lebih banyak menyanyikan lagu-lagu relligi. Salahkah apa yang mereka lakukan? Tidak salah memang karena mereka pun bisa mengamen dengan menyanyikan lagu apa saja sesuka mereka. Akan tetapi dari hal tersebut, saya diingatkan Tuhan bahwa sebenarnya tidak sedikit orang Kristen yang melakukan apa yang sama seperti yang dilakukan para pengamen tersebut.

Hal ini juga sudah terjadi pada zaman Paulus hidup di masa lalu. Dalam bacaan Alkitab kita hari ini, kita dapat melihat bahwa Paulus menekankan dengan sungguh-sungguh kepada Timotius (anak rohani Paulus), agar Timotius tetap memberitakan firman dan selalu siap sedia dalam segala waktu (ay. 1-2a). Apa yang harus Timotius beritakan? Tentunya adalah Firman Tuhan yang benar, dengan isi pengajaran yang benar. Firman Tuhan yang benar adalah Firman Tuhan yang berani menyatakan apa yang salah, yang berani menegur apa yang salah, dan berani menasehati apa yang salah. (ay. 2b). Memang Timotius pun harus menyampaikan Firman Tuhan dengan sabar, karena mungkin sekali akan dibutuhkan banyak waktu untuk menyampaikan kebenaran Firman Tuhan, terlebih kepada orang-orang yang sudah jauh tersesat.

Apa yang dimaksud dengan orang-orang yang sudah tersesat tersebut? Mereka adalah orang-orang yang sudah tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, yaitu ajaran yang bersumber pada kebenaran Firman Tuhan (ay. 3a). Akan tetapi mereka akan mencari ajaran-ajaran yang menyenangkan telinga mereka. Mereka akan mengumpulkan guru-guru (para hamba Tuhan) yang mau menyampaikan firman yang mereka inginkan (ay. 3b). Mereka akan lebih suka kepada dongeng-dongeng dan hal-hal yang bukan didasarkan pada Firman Tuhan daripada mendengarkan kebenaran Firman Tuhan itu sendiri (ay. 4).

Memang hal ini tidak kelihatan dengan terang-terangan, tetapi jujur saja, ada banyak orang yang mengaku Kristen tetapi hidup mereka berpindah-pindah dari satu gereja ke gereja yang lain. Ciri khas orang seperti ini adalah terlalu berfokus kepada sosok pendeta daripada gerejanya. Mereka merasa nyaman dengan pendeta tertentu karena mereka mengkhotbahkan hal-hal yang menyenangkan, berkhotbah tentang berkat-berkat Tuhan dan tidak pernah berkhotbah tentang dosa yang harus ditinggalkan, sehingga ketika setiap minggu, mereka mengikuti dimana pendeta tersebut akan berkhotbah.

Di satu sisi, banyak hamba Tuhan (pendeta) yang akhirnya melihat fenomena ini dan tergoda untuk kompromi. Mereka melihat bahwa hamba-hamba Tuhan yang menyampaikan firman tentang berkat-berkat kepada jemaat, justru menjadi hamba Tuhan yang semakin kaya, punya mobil, rumah, dan gerejanya menjadi gereja besar. Oleh karena itu mereka pun tergoda untuk menyampaikan Firman yang disenangi oleh jemaat. Mereka hanya menyampaikan bagian Firman Tuhan tentang berkat, tetapi tidak pernah menyampaikan tentang dosa yang harus ditinggalkan. Jika demikian apa bedanya para pendeta dengan para pengamen yang menyanyikan lagu-lagu religi menjelang Lebaran agar mereka bisa mendapatkan uang lebih banyak? Semoga masih ada hamba-hamba Tuhan yang konsisten menyampaikan seluruh kebenaran Firman Tuhan kepada jemaatnya, dan bukan menyampaikan firman yang menyenangkan telinga jemaat saja demi keuntungan pribadinya.



Bacaan Alkitab: 2 Timotius 4:1-4
4:1 Di hadapan Allah dan Kristus Yesus yang akan menghakimi orang yang hidup dan yang mati, aku berpesan dengan sungguh-sungguh kepadamu demi penyataan-Nya dan demi Kerajaan-Nya:
4:2 Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.
4:3 Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya.
4:4 Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng.

Memberi Sedekah


Rabu, 15 Agustus 2012
Bacaan Alkitab: Matius 6:1-4
Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga.” (Mat 6:1)


Memberi Sedekah


Pada masa-masa menjelang hari raya Lebaran, kita melihat bahwa di sejumlah daerah, ada beberapa orang kaya yang membagikan sedekah kepada orang-orang miskin yang ada di sekitarnya. Pembagian sedekah ini kadang-kadang dilakukan secara besar-besaran bahkan hingga diliput oleh wartawan. Sayangnya, beberapa pembagian sedekah ini mengharuskan orang miskin yang mau menerimanya harus rela mengantri. Mereka harus berdesak-desakan untuk mendapatkan sedekah yang sebetulnya jumlahnya tidak seberapa. Agar mendapatkan sedekah yang lebih banyak (karena sedekah biasanya diberikan per kepala), orang-orang miskin ini bahkan rela membawa anak-anaknya dan bahkan orang-orang yang sudah tua juga. Karena informasi yang cepat menyebar, ada juga orang-orang yang datang dari luar daerah hanya untuk mendapatkan sedekah tersebut.

Sebetulnya dari fenomena seperti ini, kita dapat melihat dari kedua sisi, yaitu dari sisi orang miskin yang memiliki mental “miskin”, yaitu mental meminta-minta dan mengharapkan sumbangan dari orang lain. Padahal sebenarnya dalam kebanyakan kasus, jumlah sedekah atau barang yang diterima tidak sebanding dengan usaha yang harus dilakukan. Mereka harus datang dari luar daerah, membawa anak-anak bahkan nenek-nenek yang sudah tua, antri berdesak-desakan dan bahkan dalam liputan televisi kita bisa melihat cukup banyak pula yang terinjak-injak dan pingsan.

Di sisi lain, kita pun dapat melihat dari sudut pandang orang kaya yang tidak bijaksana. Mereka mungkin saja kaya, tetapi barangkali caranya kurang bijaksana. Saya rasa orang kaya tersebut bisa saja memberikan langsung sedekah kepada warga miskin yang ada di sekitarnya, tidak harus meminta warga tersebut mengantri sedekah. Bukankah lebih baik orang kaya tersebut yang mendatangi rumah orang miskin untuk memberikan bantuan? Atau apakah memang orang kaya tersebut ingin diliput wartawan sehingga orang lain dapat melihat bahwa ia adalah orang kaya yang dermawan?

Tuhan Yesus sendiri dengan tegas menyebutkan bahwa kita jangan melakukan kewajiban agama kita agar dilihat orang dan dipuji orang (ay. 1a). Tuhan Yesus memberi contoh yaitu orang-orang munafik yang ingin memberi sedekah lalu mencanangkannya (mengucapkan niatnya itu dengan suara keras agar didengar orang lain) di rumah ibadat dan di lorong-lorong agar mereka dipuji orang (ay. 2a). Tuhan Yesus mengatakan bahwa ketika orang lain memuji kita karena apa yang kita lakukan, maka sesungguhnya, itulah upah kita, yaitu pujian dari orang lain (ay. 2b). Akan tetapi ketika kita melakukannya tanpa motivasi untuk dipuji orang, maka sesungguhnya itulah upah kita dari Bapa di surga, yaitu ketika ibadah kita berkenan di hadapan Tuhan (ay. 1b & 4).

Dalam bahasa yang lebih “ekstrem” lagi, Tuhan Yesus berkata bahwa sedekah seharusnya diberikan dengan tersembunyi. Barangkali cukup kita dan orang yang kita berikan yang tahu. Jangan sampai tangan kiri tahu apa yang diberikan oleh tangan kanan kita (ay. 3). Saya yakin, jika dalam sedekah saja Tuhan meminta kita sampai melakukan seperti ini, hal ini juga berlaku ketika kita memberikan persembahan kepada Tuhan. Sayangnya masih banyak orang Kristen yang bersikap sama seperti orang kaya dalam cerita saya di atas. Ada yang memberikan persembahan secara terang-terangan dengan cara menulis nama lengkap + gelar pada amplop persembahan yang diberikannya. Atau dengan terbuka menyumbang sesuatu yang besar untuk pembangunan gereja, asal namanya ditulis sebagai daftar penyumbang di urutan pertama.

Memang Firman Tuhan itu kadang-kadang terasa berat untuk dapat dilakukan bukan karena perintah Tuhan itu berat, tetapi karena kita harus melawan ego kita. Semua manusia ingin dihormati, sehingga jika ego kita tidak dapat kita kendalikan, maka kita pun tidak akan dapat menuundukkan diri kepada Firman Tuhan. Jika ego kita tidak kita kendalikan, maka kita akan memberi dengan tangan kanan, dan bukan hanya tangan kiri yang tahu bahkan kaki kanan dan kaki kiri juga tahu (yang artinya ketika kita memberikan sedekah atau persembahan, kita “berkoar-koar” sehingga banyak orang lain yang tahu). Ingatlah bahwa kita harus berani tampil beda dari yang lain. Di saat orang lain begitu bersemangat dilihat orang bahwa mereka sudah melakukan kewajiban agama mereka, sudah saatnya kita pun memiliki sikap rendah hati di hadapan manusia, karena siapa yang merendahkan diri, justru akan ditinggikan oleh Tuhan (Mat 23:12, Luk 14:11).



Bacaan Alkitab: Matius 6:1-4
6:1 "Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga.
6:2 Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.
6:3 Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu.
6:4 Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu."