Senin, 23 September 2019

Pornos dan Moichos (39): Harus Mengejar Kekudusan


Senin, 23 September 2019
Bacaan Alkitab: Ibrani 12:14-17
Janganlah ada orang yang menjadi cabul atau yang mempunyai nafsu yang rendah seperti Esau, yang menjual hak kesulungannya untuk sepiring makanan. (Ibr 12:16)


Pornos dan Moichos (39): Harus Mengejar Kekudusan


Setelah sekian banyak pembahasan dimana kata pornos dan moichos memang bermakna harafiah dalam ayat Alkitab, maka hari ini kita akan melihat bagaimana kata pornos juga digunakan untuk menggambarkan suatu kondisi lain (tidak secara harafiah). Sebelum membahas hal tersebut, sebagai pengantar maka kita harus mengerti bahwa kitab Ibrani ini ditulis oleh seseorang pemimpin Kristen (kemungkinan adalah Paulus) yang ditujukan kepada jemaat Kristen yang berasal dari bangsa Yahudi. Oleh karena itu, kitab ini banyak sekali mengutip ayat-ayat di Perjanjian Lama, termasuk nama tokoh-tokoh Perjanjian Lama.

Dalam bagian bacaan Alkitab kita hari ini, kita memulai pembahasan dari ayat yang menyerukan agar orang percaya harus berjuang untuk dapat hidup damai dengan semua orang dan juga harus mengejar kekudusan (ay. 14a). Hal ini sebenarnya juga dapat dilihat dari 2 aspek utama dalam hidup, yaitu mengasihi Tuhan dan juga mengasihi sesama. Hal ini juga ditegaskan kembali oleh Tuhan Yesus sendiri bahwa intisari dari hukum Taurat adalah mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama (Mat 22:37-40). Oleh sebab itu, memang benar bahwa kita harus hidup dalam kekudusan karena tanpa kekudusan maka tidak ada seorang pun yang dapat melihat Tuhan (ay. 14b).

Itulah sebabnya di ayat 14 ini, penulis kitab Ibrani mencoba mengingatkan jemaat agar mereka “berusaha” dan “mengejar”. Di dalam bahasa aslinya, sebenarnya hanya ada satu kata perintah (imperative) yaitu diōkete (διώκετε) dari akar kata diókó (διώκω) yang bermakna to pursue, to aggressively chase (memburu, mengejar secara agresif). Kata ini dapat bermakna positif (mengejar sesuatu yang positif) namun juga bermakna negative (semisal: memburu dan mengejar-ngejar orang percaya). Oleh karena itu, untuk mengerti makna kata diókó ini harus dilihat dalam konteks pemakaiannya. Namun yang pasti, kata diókó tersebut mengandung unsur dimana ada suatu usaha keras dalam memburu/mengejar sesuatu demi mendapatkannya. Dalam hal ini kita harus berusaha keras untuk dapat hidup damai dengan semua orang, dan terlebih supaya kita dapat mengejar kekudusan supaya dapat melihat Tuhan.

Selanjutnya, terkait dengan hubungan kepada Tuhan dan manusia, penulis kitab Ibrani ini juga mengingatkan supaya kita menjaga diri kita. Sebenarnya dalam bahasa asli, tidak ada kalimat imperatif dalam ayat ini (yaitu “jagalah”). Kata yang digunakan untuk kata “jagalah” tersebut adalah episkopountes  (ἐπισκοποῦντες) dari akar kata episkopeó (ἐπισκοπέω) yang berjenis kata partisipatif (bukan imperatif). Kata ini bermakna to look upon, to observe, to care for, to visit (melihat, memperhatikan, merawat, memedulikan, menilik, mengunjungi). Kata ini juga sejajar dengan kata episkopos yang diterjemahkan sebagai penilik jemaat atau gembala (Kis 20:28, Flp 1:1, 1 Tim 3:2, Tit 1:7, dan 1 Ptr 2:25). Dari kata episkopos inilah muncul istilah uskup sebagai pemimpin jemaat di suatu wilayah.

Jadi jelas bahwa jemaat harus bejuang untuk hidup damai dengan semua orang dan mengejar kekudusan, antara lain dengan cara menjaga dan memperhatikan. Apa saja yang dijaga dan diperhatikan? Dalam ayat 15-17 ini setidaknya ada 3 hal yang harus kita jaga dan perhatikan yaitu:

Pertama, supaya jangan ada orang yang menjauhkan diri dari kasih karunia Allah (ay. 15a). Apakah ada orang yang bisa menjauhkan diri dari kasih karunia Allah? Apakah kasih karunia Allah itu tidak sempurna sehingga masih dapat membuat orang lari dari kasih karunia Allah? Kata menjauhkan diri di sini dalam bahasa aslinya adalah hysteron (ὑστερῶν) dari akar kata hustereó (ὑστερέω) yang bermakna to come late, to be behind, to come short, to be lacking (terlambat, berada di belakang, ketinggalan, kekurangan). Oleh karena itu, yang saya pahami adalah ada orang tidak merespon kasih karunia Allah dengan benar sehingga ia tidak mencapai “standar yang seharusnya” dalam pertumbuhan rohani. Sebagai akibatnya, orang tersebut lambat laun akan “mati rohani” karena tidak bertumbuh. Hal ini sangat relevan dengan perintah yang disampaikan dalam ayat sebelumnya yang meminta jemaat untuk terus berjuang dan berusaha. Jika kita tidak berusaha bertumbuh dengan benar, maka hal tersebut dapat membuat kita kerdil bahkan mati secara rohani.

Kedua, supaya jangan tumbuh akar yang pahit yang dapat menimbulkan kerusuhan dan mencemarkan banyak orang (ay. 15b).    Ada banyak sekali tafsiran mengenai akar yang pahit, tetapi menurut saya, istilah ini juga merujuk pada istilah dalam Perjanjian lama, yaitu Ul 29:18. Di situ tertulis istilah “janganlah di antaramu ada akar yang menghasilkan racun atau ipuh” (Ul 29:18b). Jika kita membaca ayat-ayat sebelumnya, maka kita akan mengerti bahwa istilah ini juga menunjuk kepada orang-orang yang memberi pengaruh buruk, bahkan menghasilkan buah yang buruk, yang dapat merusak orang lain dalam suatu komunitas. Dalam kitab Ulangan, komunitas yang dimaksud tentu adalah orang Israel, sedangkan di kitab Ibrani ini komunitas yang dimaksud adalah jemaat (orang percaya) khususnya kepada mereka yang berasal dari latar belakang Yahudi.

Kita harus mengamati dan memperhatikan apakah ada akar yang pahit yang mulai tumbuh. Jangan sampai akar pahit tersebut tumbuh besar bahkan sampai mengeluarkan buah, karena hal itu akan menimbulkan kerusuhan. Jika sampai menimbulkan kerusuhan, tentulah akar pahit ini merujuk kepada orang-orang yang mengajak untuk murtad atau mengajak untuk meninggalkan ajaran sehat (menjauhkan diri dari kasih karunia Allah). Inilah sebabnya Paulus menasehati supaya kita memperhatikan supaya jangan sampai muncul akar yang pahit, karena akan berdampak masif bagi jemaat.

Kata “menimbulkan kerusuhan” dalam bahasa aslinya adalah enochleó (ἐνοχλέω) yang bermakna to disturb, to annoy to cause tumult, to trouble, (mengganggu, mengacaukan, menyebabkan keributan/huru-hara, menyusahkan). Oleh karena itu kita benar-benar harus memperhatikan jangan sampai jemaat sibuk mengurusi kekacauan/keributan yang disebabkan oleh orang-orang tertentu yang diistilahkan dengan akar yang pahit tersebut. Tidak hanya sampai kepada kerusuhan/kekacauan, namun hal tersebut dapat membuat banyak orang (di dalam jemaat) menjadi tercemar.

Jelas bahwa akar yang pahit ini adalah orang-orang yang hidupnya rusak, yang juga ingin membuat orang lain menjadi rusak. Dalam hal ini, mereka seakan-akan memberi contoh hidup yang buruk, dan jika tidak hati-hati maka jemaat lain juga dapat terseret olehnya. Itulah sebabnya “akar pahit” ini harus diberantas sebelum berbuah, sehingga tidak sampai mencemari/mempengaruhi orang lain dalam arti negatif.

Sebagai contoh, jika ada orang yang melakukan kesalahan fatal (katakanlah jelas-jelas mencuri uang gereja), namun ternyata orang tersebut dibiarkan saja bahkan kemudian dijadikan pengurus, diaken, bahkan majelis, maka dapat dibayangkan teladan macam apa yang sedang diajarkan di jemaat tersebut. Jangan sampai nanti ada jemaat yang berkata: “Oh, jadi kalau gitu kita nggak apa-apa mencuri uang gereja, karena toh pasti dimaafkan. Nanti juga kita masih bisa jadi pengurus, aktivis, bahkan majelis”. Tanpa disadari, sikap ketidaktegasan terhadap dosa sekecil apapun di dalam jemaat bisa mendorong tumbuhnya akar pahit ini, yang pada akhirnya akan menghancurkan jemaat tersebut dari dalam.

Akar pahit ini tidak hanya berbicara mengenai kepahitan, luka batin, dan juga masalah-masalah psikologis dan interpersonal. Jika penulis kitab Ibrani ini sampai menuliskan akar pahit, berarti memang ada ancaman yang jauh lebih besar dibandingkan dengan masalah kepahitan antar anggota jemaat (walau tidak bisa dipungkiri, bahwa mungkin saja permasalahan tersebut dimulai dari luka batin tersebut). Bagaimanapun juga, ketika ada kerusuhan atau kekacauan di dalam jemaat, maka pihak yang paling diuntungkan adalah iblis karena jemaat hanya akan sibuk mengurusi kekacuaan tersebut dan tidak punya waktu lagi untuk berjuang mengubah karakter dari karakter dunia menjadi karakter ilahi.

Sedangkan poin yang ketiga adalah supaya jangan ada orang yang menjadi cabul atau yang mempunyai nafsu yang rendah seperti Esau (ay. 16a). Kata “cabul” dalam ayat ini menggunakan kata pornos (πόρνος) yang juga berarti adalah seorang pelacur pria, atau seorang laki-laki yang melakukan hubungan seksual yang tidak sesuai dengan hukum. Apakah Esau melakukan perzinahan? Dari Alkitab kita dapat melihat bahwa yang dilakukan Esau adalah mengambil 2 perempuaan Kanaan (orang Het) menjadi istri-istrinya (Kej 26:34-35). Apakah hal tersebut termasuk perzinahan? Jawabannya bisa ya dan bisa juga tidak. “Ya”, karena orang tua (Ishak dan Ribka) tentu sudah menekankan panggilan Allah terhadap Abraham dan Ishak, dan tentunya Esau harus pintar dalam memilih istri. Juga “Ya”, karena Esau langsung memiliki 2 istri (walaupun ini dapat diperdebatkan juga, karena Abraham dan Yakub juga memiliki lebih dari 1 istri). Tetapi bisa juga jawabannya “Tidak” karena memang tidak ada pelanggaran hukum atau moral dalam hal ini (karena hukum Taurat belum diturunkan, dan memang Esau juga mengambil kedua perempuan tersebut dalam hubungan perkawinan yang jelas).

Oleh karena itu, ayat 16 ini memang masih dapat dipersoalkan, apakah Esau di sini digunakan sebagai contoh orang yang mempunyai nafsu yang rendah (yang sejajar dengan orang yang melakukan percabulan), atau Esau juga digunakan sebagai contoh orang cabul dan sekaligus orang yang rendah. Namun terlepas dari Esau sebagai contoh, kita memang harus memperhatikan supaya jangan ada orang yang menjadi cabul. Jangan sampai ada jemaat yang sudah mencapai taraf yang sangat parah, yang sudah tidak dapat diperbaiki lagi, seperti jemaat di Korintus misalnya.

Selain mengenai percabulan, jemaat juga diingatkan supaya tidak memiliki nafsu yang rendah. Kata yang digunakan dalam bahasa aslinya adalah bebélos (βέβηλος), yaitu suatu kata yang dapat berarti godless, profane, worldly (murtad/jahat/tak beriman, kotor/najis/tidak suci, duniawi). Dari kata ini, jelas bahwa Esau memang sangat bersifat duniawi dan hampir tidak percaya kepada Allah. Bagaimana mungkin dia dengan sembrononya menjual hak kesulungannya untuk sepiring makanan (ay. 16). Masih lebih baik jika ia menjual hak kesulungannya untuk hal yang lebih besar, semisal untuk tanah yang luas. Ini menunjukkan pola pikirnya yang sangat dangkal dan tidak berpikir panjang. Jangankan memikirkan kekekalan, atas hal yang ada di dunia ini saja ia tidak dapat memilih prioritas yang tepat.

Tidak heran kemudian ditulis bahwa Esau ditolak ketika ia hendak menerima berkat itu (ay. 17a). Ia tidak dapat lagi memperoleh kesempatan untuk memperbaiki kesalahan yang pernah ia lakukan tersebut, sekalipun ia mencarinya dengan mencucurkan air mata (ay. 17b). Ini menunjukkan bagaimana Esau menyesal karena telah menganggap sepele hal yang sangat penting baginya pada waktu itu. Akibat kesalahannya itu, sudah tidak ada lagi kesempatan untuk memperbaikinya. Ia memang juga diberkati secara luar biasa oleh Allah, tetapi Ia sebenarnya bisa saja memperoleh jauh lebih banyak lagi jika ia berhati-hati terhadap ucapannya.

Pelajaran bagi kita adalah kita harus memperhatikan sungguh-sungguh ketiga hal di atas. Menurut saya, poin yang terpenting adalah poin ketiga, dimana jangan sampai kita melakukan kesalahan yang tidak dapat diperbaiki selama kita hidup. Betapa berbahayanya jika kita tidak berhati-hati dan berdampak akan hidup kita, bahkan hingga kepada kekekalan. Hal ini tentu termasuk dalam hal percabulan. Ke depannya kita akan belajar bahwa tidak ada orang cabul yang diizinkan Tuhan masuk ke dalam kekekalan. Betapa berbahayanya jika selama ini kita masih hidup dalam percabulan dan tidak bertobat. Selagi kita masih hidup, mari kita mengejar kekudusan supaya kita dapat berkenan dan layak di pemandangan-Nya.


Bacaan Alkitab: Ibrani 12:14-17
12:14 Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan.
12:15 Jagalah supaya jangan ada seorang pun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang.
12:16 Janganlah ada orang yang menjadi cabul atau yang mempunyai nafsu yang rendah seperti Esau, yang menjual hak kesulungannya untuk sepiring makanan.
12:17 Sebab kamu tahu, bahwa kemudian, ketika ia hendak menerima berkat itu, ia ditolak, sebab ia tidak beroleh kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, sekalipun ia mencarinya dengan mencucurkan air mata.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.