Rabu, 19 Oktober 2016

Status Manusia sebagai Anak Allah dalam Perjanjian Baru (Bagian 1)



Rabu, 19 Oktober 2016
Bacaan Alkitab: Lukas 3:23-38
Anak Enos, anak Set, anak Adam, anak Allah. (Luk 3:38)


Status Manusia sebagai Anak Allah dalam Perjanjian Baru (Bagian 1)


Sebutan atau istilah “anak Allah” sudah sangat umum dikenal di kalangan orang Kristen. Permasalahannya, sering kali istilah tersebut diposisikan tidak semestinya, atau dijelaskan dengan tidak lengkap. Hal tersebut mengakibatkan pemahaman orang Kristen tentang “anak Allah” menjadi sangat dangkal dan tidak bermakna serta tidak berdampak sama sekali. Oleh karena itu untuk beberapa hari ke depan, kita akan membahas mengenai status manusia sebagai anak Allah dalam Perjanjian Baru. Mengapa hanya Perjanjian Baru? Karena kita hidup di zaman Perjanjian Baru sehingga sebaiknya kita mengerti betul makna anak Allah dalam konteks kehidupan umat Perjanjian Baru.

Sebutan anak Allah yang ditujukan kepada manusia (selain Tuhan Yesus) muncul pada silsilah Tuhan Yesus Kristus. Dalam silsilah tersebut, dirunut siapa ayah [jasmani] Tuhan Yesus yaitu Yusuf (ay. 23), terus hingga kepada anak Daud (ay. 31), anak Yehuda (ay. 33), anak Yakub, Ishak, dan Abraham (ay. 34), serta pada akhirnya anak Adam (ay. 38). Bagi orang Yahudi, silsilah ini sangatlah penting karena hal tersebut  menunjukkan apakah mereka benar-benar keturunan Yahudi asli ataukah sudah berdarah campuran. Di sisi lain, silsilah Tuhan Yesus menunjukkan bahwa Ia memang benar-benar menggenapi nubuatan di Perjanjian Lama, yaitu antara lain sebagai Anak Daud, Singa dari Yehuda (keturunan Yehuda), Anak Abraham, dan lain sebagainya.

Namun menarik bahwa di ujung silsilah tersebut, disebutkan bahwa Adam adalah “anak Allah” (ay. 38). Apa artinya menjadi anak Allah? Apakah Allah melahirkan Adam seperti seorang ibu melahirkan anak? Alkitab mencatat bahwa Tuhan Allah membentuk Adam dari debu tanah dan kemudian memberikan nafas hidup kepada Adam, sehingga Adam menjadi makhluk yang hidup (Kej 2:7). Dalam hal ini, nafas hidup tersebut adalah “roh” Tuhan Allah sendiri yang dihembuskan ke dalam manusia. Itulah sebabnya sebenarnya kita pun memiliki “roh Allah” dalam diri kita, yaitu “roh” yang ditaruh Allah ke dalam diri manusia. “Roh” inilah yang nanti akan kembali kepada pemiliknya, yaitu kepada Allah (Pkh 12:7). Sehingga tidaklah salah jika Alkitab mencatat bahwa Allah mengingini roh yang ditempatkan Allah dalam diri manusia dengan cemburu (Yak 4:5).

Jadi jelas bahwa makna “anak Allah” dapat diartikan bahwa manusia memiliki roh yang berasal dari Allah. Oleh karena itu, manusia sebenarnya sangat berhak disebut sebagai “anak Allah”, karena Tuhan Allahlah yang membentuk manusia dan menciptakannya. Oleh karena itu, seharusnya setiap manusia mengerti bahwa mereka diciptakan Tuhan Allah bukan tanpa maksud. Tuhan Allah memiliki maksud tertentu ketika menciptakan manusia, terlebih karena ada “roh” yang ditempatkan-Nya di dalam diri manusia. Dalam hal inilah manusia berbeda dengan ciptaan Allah yang lain (tumbuhan maupun binatang).

Namun demikian, makna “anak Allah” juga tidak sesederhana itu. Penting bagi setiap manusia untuk melihat, apakah kita sudah pantas menjadi anak Allah? Dengan adanya “roh” yang ditempatkan Allah di dalam diri kita, sebenarnya kita memiliki beban berat yaitu bagaimana kita berjuang untuk hidup benar di hadapan Tuhan, bagaimana kelakuan kita benar dan mencerminkan status kita sebagai makhluk yang memiliki “roh” Allah di dalam diri kita. Jika tidak, ingatlah bahwa Tuhan Allah sangat mengingini “roh”-Nya dengan cemburu, sehingga pada akhirnya, pasti ada hukuman Tuhan yang nyata bagi orang-orang yang tidak menghargai “roh” dari Allah tersebut.


Bacaan Alkitab: Lukas 3:23-38
3:23 Ketika Yesus memulai pekerjaan-Nya, Ia berumur kira-kira tiga puluh tahun dan menurut anggapan orang, Ia adalah anak Yusuf, anak Eli,
3:24 anak Matat, anak Lewi, anak Malkhi, anak Yanai, anak Yusuf,
3:25 anak Matica, anak Amos, anak Nahum, anak Hesli, anak Nagai,
3:26 anak Maat, anak Matica, anak Simei, anak Yosekh, anak Yoda,
3:27 anak Yohanan, anak Resa, anak Zerubabel, anak Sealtiel, anak Neri,
3:28 anak Malkhi, anak Adi, anak Kosam, anak Elmadam, anak Er,
3:29 anak Yesua, anak Eliezer, anak Yorim, anak Matat, anak Lewi,
3:30 anak Simeon, anak Yehuda, anak Yusuf, anak Yonam, anak Elyakim,
3:31 anak Melea, anak Mina, anak Matata, anak Natan, anak Daud,
3:32 anak Isai, anak Obed, anak Boas, anak Salmon, anak Nahason,
3:33 anak Aminadab, anak Admin, anak Arni, anak Hezron, anak Peres, anak Yehuda,
3:34 anak Yakub, anak Ishak, anak Abraham, anak Terah, anak Nahor,
3:35 anak Serug, anak Rehu, anak Peleg, anak Eber, anak Salmon,
3:36 anak Kenan, anak Arpakhsad, anak Sem, anak Nuh, anak Lamekh,
3:37 anak Metusalah, anak Henokh, anak Yared, anak Mahalaleel, anak Kenan,
3:38 anak Enos, anak Set, anak Adam, anak Allah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.