Kamis, 03 Agustus 2017

Mengasihi Musuh dengan Benar



Jumat, 4 Agustus 2017
Bacaan Alkitab: Matius 5:38-48
Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. (Mat 5:44)


Mengasihi Musuh dengan Benar


Suatu hari ketika saya tidur, tiba-tiba sekitar tengah malam saya terbangun karena tenggorokan saya terasa sangat sakit. Sakitnya luar biasa padahal seingat saya, sebelumnya saya tidak makan/minum yang aneh-aneh. Pada saat itu, saya sempat ke kamar mandi dan kembali ke tempat tidur, namun rasa sakit di tenggorokan saya benar-benar sangat sakit hingga saya sempat berpikir, bahwa mungkin saja saya akan mati pada malam itu. Saya mencoba untuk tidur namun belum bisa karena rasa sakit tersebut. Di tengah-tengah kondisi antara terjaga dan tidur, pikiran saya mengembara kemana-mana, sampai saya berpikir apakah sakit saya ini karena saya sedang diserang dengan kuasa gelap.

Pada waktu itu saya percaya bahwa Tuhan pasti melindungi anak-anak-Nya dari kuasa gelap. Namun tidak  menutup kemungkinan Tuhan membuka pagar perlindungan-Nya seperti yang dilakukan-Nya kepada Ayub. Di dalam rasa sakit yang luar biasa, seperti ada pikiran dalam diri saya bahwa hal ini dilakukan oleh seseorang yang saya kenal, yaitu seorang Kristen juga yang juga sudah melayani di gereja. Saya sempat menepis pikiran tersebut dan berkata bahwa “Ah masa iya seorang pelayan gereja masih main hal-hal seperti ini”, tetapi pikiran saya yang lain juga berpikir “Tidak semua orang Kristen bahkan pelayan Tuhan juga orang benar, bisa saja ia melakukan hal ini karena iri atau dendam kepada saya”.

Saat itu saya tidak tahu apakah saya sedang bermimpi atau tidak, tetapi saya ingat bahwa pada saat itu saya sempat berkata kepada Tuhan begini: “Tuhan, aku tahu Engkau selalu melindungi aku, sehingga tidak ada kuasa kegelapan yang bisa mempan terhadap aku. Namun demikian, andaikan benar Engkau telah mengangkat pagar perlindungan-Mu, dan siapapun yang melakukan hal ini, bahkan jika orang Kristen tersebut (menunjuk ke orang yang sempat saya pikirkan itu) yang melakukan, dan saya harus sampai mati karena hal ini, maka saat ini aku berkata kepada-Mu: ‘Aku mengampuni orang itu, karena ia tidak tahu apa yang ia lakukan itu salah’”. Saat itu rasanya saya mengucapkan kalimat pengampunan tersebut dengan begitu tulus dan saya bahkan sudah siap dan pasrah untuk mati. Akan tetapi Tuhan berkendak lain, dan saya bisa tertidur dan bangun di pagi harinya dengan kondisi yang jauh lebih baik. Saya merasa bahwa ucapan saya itu bukan ucapan dalam mimpi (karena saya tipe orang yang jarang mengingat mimpi, walaupun mimpi itu baru terjadi). Ketika saya merenungkan hal ini beberapa waktu kemudian, jelas bahwa saya sedang diajar Tuhan apakah saya bisa mengampuni orang lain dengan tulus.

Cerita di atas adalah pengalaman saya pribadi yang tentunya sangatlah subyektif. Namun demikian, saya ingin membagikan renungan mengenai hal ini, yaitu bagaimana cara mengasihi musuh dengan tulus. Perlu dipahami bahwa konteks Matius pasal 5-7 merupakan ucapan Tuhan Yesus kepada para pengikut-Nya dimana pada waktu itu tentu ajaran Tuhan Yesus pasti ditentang habis-habisan oleh pihak penguasa (antara lain para imam, ahli Taurat, dan orang Farisi). Dalam hal ini Tuhan Yesus mengajar dengan mengambil contoh mengenai beberapa hal antara lain mengenai membunuh, berzinah, dan juga ketika berhadapan dengan orang-orang yang memusuhi (yaitu yang akan kita pelajari hari ini).

Orang-orang yang mengikuti Tuhan Yesus pada waktu itu tentu saja sudah tahu mengenai hukum Taurat, yang mengajarkan antara lain: mata ganti mata dan gigi ganti gigi (ay. 38). Ini adalah sesuatu hal yang wajar, karena manusia memiliki naluri untuk membalas. Namun demikian Tuhan Yesus mengajarkan bahwa para pengikutnya harus bisa sampai pada level yang lebih tinggi lagi, yaitu sampai mengampuni musuh kita. Jadi dalam hal ini kita harus bisa sampai tidak melawan mereka yang berbuat jahat kepada kita (ay. 39a), tidak membalas orang yang menampar pipi kita (ay. 39b), bersedia menyerahkan apapun bagi kepentingan Tuhan (ay. 40), dan tidak mengeluh atas penderitaan (ay. 41).

Tentu kita harus mengerti bahwa konteks ini adalah penderitaan yang harus dialami (dan akan dialami) oleh para pengikut Kristus di abad mula-mula (yaitu jemaat mula-mula). Mereka mengalami aniaya yang hebat, dan di situ mereka diajar untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, melainkan untuk menunjukkan kasih Kristus dalam diri mereka. Dalam hal ini kita tidak boleh mengambil mentah-mentah ayat 39 ini semisal ada orang yang mau mencuri motor kita lalu kita berikan juga mobil kita. Kita harus peka terhadap suara Tuhan. Ada kalanya kita disuruh untuk diam dan mengalah, tetapi ada kalanya juga Tuhan memerintahkan kita untuk membela pekerjaan dan kepentingan-Nya (Ingat, membela kepentingan Tuhan bukan kepentingan kita sendiri). Oleh karena itu sangatlah wajar jika dalam 10 Hukum tertulis “Jangan membunuh” tetapi di peristiwa lain Tuhan juga memerintahkan bangsa Israel menyerang musuh-Nya dan harus membunuh mereka. Di sini kita harus belajar agar kita dapat peka terhadap suara Tuhan.

Namun yang lebih penting lagi adalah kita harus bisa untuk menghilangkan naluri membalas sehingga kita dapat mengampuni dan mengasihi orang-orang yang memusuhi kita (ay. 44). Inilah perbedaan antara kita sebagai umat Perjanjian Baru dan mereka yang hidup dengan standar Perjanijan Lama, dimana mereka hanya mengasihi sesama mereka namun mereka sangat kejam terhadap orang-orang yang berbeda dengan mereka (dianggap sebagai musuh) (ay. 43). Hal ini karena status kita sebagai anak-anak Allah yang harus bisa memancarkan kasih Allah kepada semua orang (termasuk kepada mereka yang memusuhi kita) (ay. 45). Umat percaya di Perjanjian Baru tidak hanya dipanggil untuk menjadi orang yang baik, tetapi harus sampai kepada level sempurna sama seperti Bapa di surga juga sempurna (ay. 48).

Oleh karena itu kita harus belajar menanggalkan naluri kemanusiaan kita yang tidak sesuai dengan standar kesempurnaan Allah. Kita harus berjuang untuk mencapai standar Allah sendiri, yaitu kasih tanpa syarat. Dalam hal ini, kita tentu tidak selalu mengalah, atau memberi pinjaman tanpa syarat kepada orang yang datang kepada kita (ay. 42). Tetapi kita harus menjadi cerdas sehingga kita bisa mengasihi musuh kita atau memberikan pinjaman kepada mereka yang membutuhkan jika diperlukan dan jika itu sesuai dengan kehendak Tuhan. Kita tidak boleh memiliki standar seperti orang-orang di luar Kristen yang hanya mengasihi orang-orang tertentu (ay. 46-47). Di situlah perjuangan kita yang tidak mudah, karena harus bersedia menanggalkan naluri kemanusiaan kita untuk mengenakan naluri Allah sehingga kita bisa memiliki natur yang sama dengan-Nya, yaitu hingga memiliki natur atau kodrat ilahi.



Bacaan Alkitab: Matius 5:38-48
5:38 Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi.
5:39 Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.
5:40 Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu.
5:41 Dan siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil.
5:42 Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu.
5:43 Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu.
5:44 Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.
5:45 Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.
5:46 Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian?
5:47 Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian?
5:48 Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.