Selasa, 15 Agustus 2017

Persepuluhan di dalam Alkitab (5): Ke Tempat yang Dipilih Tuhan



Rabu, 16 Agustus 2017
Bacaan Alkitab: Ulangan 12:1-7
Ke sanalah harus kamu bawa korban bakaran dan korban sembelihanmu, persembahan persepuluhanmu dan persembahan khususmu, korban nazarmu dan korban sukarelamu, anak-anak sulung lembu sapimu dan kambing dombamu. (Ul 12:6)


Persepuluhan di dalam Alkitab (5): Ke Tempat yang Dipilih Tuhan


Salah satu ayat yang juga sering dikutip oleh para pendeta terkait persembahan persepuluhan adalah ayat di dalam bacaan Alkitab kita hari ini. Seringkali mimbar gereja berkata: “Ke sanalah harus kamu bawa ... persembahan persepuluhanmu...” (ay. 6). dan ke sana diartikan adalah gereja tempat jemaat beribadah. Namun hari ini saya mengajak para pembaca renungan ini untuk boleh melihat konteks dari ayat tersebut, yang seringkali dicomot dan ditampilkan di layar gereja. Mungkin inilah salah satu dampak dari penggunaan multimedia di gereja, yaitu jemaat hanya disuguhkan 1 ayat saja dan menjadi malas untuk membaca konteks dari ayat tersebut, karena mereka tidak perlu membawa Alkitab ke gereja dan ayat-ayat dalam ibadah sudah ditayangkan di multimedia gereja.

Dalam konteks perikopnya, kita bisa melihat bahwa Musa sedang menyampaikan Firman Tuhan kepada bangsa Israel, yaitu ketetapan dan peraturan yang harus mereka lakukan dengan setia selama bangsa Israel hidup (ay. 1). Aturan yang penting tersebut adalah bahwa bangsa Israel harus memusnahkan sama sekali semua tempat peribadatan kepada allah-allah lain, yang didirikan oleh bangsa-bangsa Kanaan yang mereka taklukkan nantinya (ay. 2a). Bangsa-bangsa Kanaan yang menyembah dewa-dewa tersebut mendirikan tempat peribadatan kepada dewa-dewa mereka di banyak tempat, baik di gunung-gunung yang tinggi (di puncak gunung), di bukit-bukit, bahkan di bawah setiap pohon yang rimbun (ay. 2b).

Dalam hal ini kebiasaan bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah yang benar memiliki ciri-ciri yang hampir sama: mendirikan mezbah-mezbah, tugu-tugu berhala, tiang-tiang berhala, patung-patung dewa/allah mereka, dan nama dewa-dewa yang ditulis dimana-mana (ay. 3). Tuhan mengingatkan bahwa bangsa Israel tidak boleh berbuat seperti itu terhadap Tuhan (ay. 4). Ini paralel dengan perintah Tuhan dalam 10 Hukum kepada bangsa Israel dimana antara lain disebutkan bahwa: Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku; Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apa pun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi; atau Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya (Kel 20:3-5). Jadi bangsa Israel dipanggil untuk memiliki iman yang benar kepada Tuhan yang benar, sehingga tentu cara beribadahnya pun pasti berbeda dengan bangsa-bangsa kafir.

Dalam hal ini Tuhan mengingatkan kepada bangsa Israel bahwa mereka tidak boleh mendirikan tempat ibadah secara suka-suka mereka seperti bangsa-bangsa lain yang bisa dengan mudahnya mendirikan tempat ibadah di atas gunung, di bawah pohon, dan lain sebagainya. Jika mereka hendak mendirikan tempat ibadah kepada Tuhan, mereka harus bertanya kepada Tuhan dengan sungguh-sungguh. Tuhan berkata bahwa tempat yang akan dipilih Tuhan dari segala suku Israel sebagai kediaman-Nya, maka tempat itulah yang harus mereka cari dan kesanalah mereka harus pergi (ay. 25). Artinya, bangsa Israel harus hanya beribadah kepada Tuhan Allah di tempat yang dipilih oleh-Nya, tidak boleh sembarangan. Dalam hal ini bangsa Israel harus sungguh-sungguh bertanya kepada Tuhan kemanakah mereka harus beribadah dan mencari Tuhan.

Prinsip inilah yang sebenarnya mewarnai ayat 6 dalam perikop bacaan kita hari ini, yaitu bangsa Israel harus bertanya kepada Tuhan, dimanakah tempat yang Tuhan pilih, dan ke sanalah mereka harus membawa segala macam korban mereka, termasuk persembahan persepuluhan mereka (ay. 6). Ingat bahwa persembahan persepuluhan hanya satu jenis persembahan di antara korban/persembahan yang lain seperti korban bakaran, korban sembelihan, persembahan khusus, korban nazar, korban sukarela, dan lain sebagainya. Artinya, mereka tidak boleh sembarangan mempersembahkan korban, tetapi harus sungguh-sungguh mempersembahkan korban dan persembahan mereka di tempat yang benar sesuai dengan perintah Tuhan atau sesuai dengan kehendak-Nya. Di tempat yang dipilih Tuhan itulah mereka harus menjalankan ibadah mereka, yang digambarkan dengan makan di hadapan Tuhan dan bersukaria (ay. 7).

Apa makna ayat-ayat tersebut dalam hidup kita? Seringkali ayat 6 hanya dibaca secara sepotong saja dan seakan-akan menjadi pembenaran bagi jemaat untuk memberikan persembahan persepuluhan ke gereja. Pertanyaan saya, sudahkah kita bertanya kepada Tuhan, mana tempat yang dipilih Tuhan? Tidak hanya soal persembahan persepuluhan, dalam setiap persembahan kita harus bertanya kepada Tuhan, kemanakah kita harus memberikan persembahan? Ingat bahwa standar umat percaya adalah melakukan kehendak Tuhan. Oleh karena itu, jika Tuhan bilang: berikan persembahan ke yayasan A, atau ke gereja B, atau ke pendeta C, maka kita harus taat melakukannya, sekalipun kita beribadah di jemaat yang berbeda. Di situlah perjuangan kita untuk mengerti kehendak Tuhan. Jangan dipikir bahwa ketika kita memberikan persembahan kepada Tuhan maka itu adalah tanda kita mengasihi Tuhan. Ingat bahwa kasih itu berarti melakukan apa yang Tuhan mau. Jika kita tidak mau melakukan apa yang Tuhan mau, itu bukanlah tindakan kasih kepada Tuhan. Bahkan Paulus berkata jika ia membagi-bagikan seluruh hartanya tetapi tidak memiliki kasih (tidak melakukan sesuai hati Tuhan), maka itu tidak ada faedahnya sama sekali (1 Kor 13:3).

Kejadian yang sering terjadi adalah jemaat “dipaksa” untuk memberikan persepuluhan kepada jemaatnya, kepada pendetanya, atau kepada gembala sidangnya (khususnya di gereja-gereja aliran pentakosta/karismatik). Pertanyaannya: apakah benar demikian? Kalau standar umat Perjanjian Lama saja Tuhan sudah berfirman bahwa mereka harus membawa persembahan mereka hanya ke tempat yang dipilih Tuhan, apakah kita yang hidup di Perjanjian Baru boleh suka-sukanya memberikan persembahan tanpa bertanya kepada Tuhan? Ingat bahwa uang yang ada di dompet atau tabungan kita, bahkan semua harta yang ada pada kita sesungguhnya bukanlah milik kita tetapi milik Tuhan. Oleh karena itu kita tidak boleh menggunakan uang dan harta yang ada pada kita dengan suka-sukanya sendiri. Tanya Tuhan sebagai pemilik uang dan harta tersebut, harus digunakan untuk apakah uang dan harta itu. Dengan prinsip ini kita tidak akan sembarangan menggunakan uang untuk menyenangkan diri sendiri, tetapi dalam segala hal, bahkan dari hal-hal terkecil, kita akan menggunakan uang tersebut untuk kemuliaan Tuhan.

Alkitab berkata bahwa jjika kita makan atau minum (yaitu hal yang sangat sederhana dan umum), kita harus melakukannya untuk kemuliaan Allah (1 Kor 10:31). Ini berarti uang yang kita keluarkan untuk membeli makanan dan minuman harus kita gunakan dengan bijaksana untuk kemuliaan Allah. Kita tidak boleh sembrono membeli makanan dan minuman secara sembarangan yang merusak tubuh kita dan tidak membawa kemuliaan bagi Tuhan. Oleh karena itu, jika dalam hal kecil saja kita harus menggunakan uang dengan bijaksana, bukankah dalam hal persembahan kita juga harus lebih bijaksana? Kemana kita harus memberikan persembahan kita? Tanyalah kepada Tuhan dengan sungguh-sungguh. Jika Tuhan berkata bahwa kita harus mendukung gereja lokal kita (misal gereja kita akan mengadakan acara penting atau sedang melakukan pembangunan gedung secara fisik), maka bawalah persembahan tersebut ke gereja lokal kita. Namun jika Tuhan berkata hal yang lain, lakukanlah tanpa bimbang. Mungkin saja Tuhan sedang mengajar kita untuk dapat menjadi berkat di wilayah yang lebih luas lagi, sesuai dengan kehendak-Nya. Ingat bahwa standar hidup umat Perjanjian Baru adalah melakukan kehendak Allah Bapa. Tidak sesuai dengan kehendak Bapa berarti adalah suatu kemelesetan.






Bacaan Alkitab: Ulangan 12:1-7
12:1 "Inilah ketetapan dan peraturan yang harus kamu lakukan dengan setia di negeri yang diberikan TUHAN, Allah nenek moyangmu, kepadamu untuk memilikinya, selama kamu hidup di muka bumi.
12:2 Kamu harus memusnahkan sama sekali segala tempat, di mana bangsa-bangsa yang daerahnya kamu duduki itu beribadah kepada allah mereka, yakni di gunung-gunung yang tinggi, di bukit-bukit dan di bawah setiap pohon yang rimbun.
12:3 Mezbah mereka kamu harus robohkan, tugu-tugu berhala mereka kamu remukkan, tiang-tiang berhala mereka kamu bakar habis, patung-patung allah mereka kamu hancurkan, dan nama mereka kamu hapuskan dari tempat itu.
12:4 Jangan kamu berbuat seperti itu terhadap TUHAN, Allahmu.
12:5 Tetapi tempat yang akan dipilih TUHAN, Allahmu, dari segala sukumu sebagai kediaman-Nya untuk menegakkan nama-Nya di sana, tempat itulah harus kamu cari dan ke sanalah harus kamu pergi.
12:6 Ke sanalah harus kamu bawa korban bakaran dan korban sembelihanmu, persembahan persepuluhanmu dan persembahan khususmu, korban nazarmu dan korban sukarelamu, anak-anak sulung lembu sapimu dan kambing dombamu.
12:7 Di sanalah kamu makan di hadapan TUHAN, Allahmu, dan bersukaria, kamu dan seisi rumahmu, karena dalam segala usahamu engkau diberkati oleh TUHAN, Allahmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.