Rabu, 16 Agustus 2017

Persepuluhan di dalam Alkitab (6): Tidak Boleh Dinikmati Sendiri

Kamis, 17 Agustus 2017
Bacaan Alkitab: Ulangan 12:17-21
Di dalam tempatmu tidak boleh kaumakan persembahan persepuluhan dari gandummu, dari anggurmu dan minyakmu, ataupun dari anak-anak sulung lembu sapimu dan kambing dombamu, ataupun sesuatu dari korban yang akan kaunazarkan, ataupun dari korban sukarelamu, ataupun persembahan khususmu. (Ul 12:17)


Persepuluhan di dalam Alkitab (6): Tidak Boleh Dinikmati Sendiri


Salah satu prinsip korban atau persembahan dalam Alkitab adalah bahwa hal tersebut harus dikeluarkan dari milik seseorang dan diberikan kepada pihak lain. Suatu persembahan tidak boleh “dipisahkan” dari harta milik seseorang, hanya untuk seakan-akan diberikan kepada Tuhan tetapi kemudian dinikmati sendiri. Sebenarnya prinsip persembahan di Perjanjian Lama sangat berbeda dengan prinsip persembahan di Perjanjian Baru. Hukum Taurat di Perjanjian Lama banyak mengatur mengenai persembahan karena hukum tersebut memang ditujukan kepada bangsa Israel, bangsa budak yang sudah 430 tahun menjadi budak di tanah Mesir. Oleh karena itu jika mereka diberikan kebebasan yang sebebas-bebasnya, maka mereka akan menjadi liar karena euforia kebebasan dari budak menjadi suatu bangsa yang merdeka. Oleh karena itu Tuhan begitu luar biasa mengerti kondisi bangsa Israel dan memberikan hukum yang sangat tepat bagi mereka dalam konteks kehidupan bangsa Israel setelah keluar dari perbudakan. Tidak heran hukum Taurat begitu rinci mengatur kehidupan bangsa Israel hingga kepada makanan dan juga kehidupan kesehatan (antara lain juga mengatur mengenai wanita yang sedang mengalami menstruasi).

Dalam hal ini, perlu kita mengerti bahwa bangsa Israel pada saat itu begitu “primitif” sehingga mengenai persembahan pun perlu diatur bahwa itu bukanlah sesuatu yang boleh dinikmati sendiri. Kita yang hidup di zaman modern ini, dengan kecerdasan yang jauh lebih tinggi daripada pemahaman bangsa Israel sekitar 3500 tahun yang lalu, tentu dengan mudah mengerti prinsip persembahan yang benar. Namun pada waktu itu, mungkin saja bangsa Israel belum memiliki pemahaman seperti itu. Tidak heran Alkitab menulis bahwa bangsa Israel tidak boleh memakan persembahan persepuluhan, persembahan sulung, korban nazar. korban sukarela, atau persembahan khusus di dalam tempat mereka sendiri (ay. 17). Tetapi mereka harus memakannya di tempat yang dipilih Tuhan, yaitu di hadapan Tuhan dengan bersukaria (ay. 18).

Menjadi pertanyaan, apakah persembahan yang diberikan kepada Tuhan harus dimakan sendiri seluruhnya? Tentu tidaklah demikian. Maksud dari memakan persembahan di ayat 18 tersebut sangat mungkin diartikan sebagai “juga ikut menikmati” korban atau persembahan yang dipersembahkan kepada Tuhan (dalam hal ini diserahkan kepada orang Lewi). Jadi semangat korban atau persembahan, khususnya persembahan persepuluhan bukanlah semangat yang egoistis, tetapi semangat untuk saling berbagi, untuk keadilan dan keseimbangan antara suku Lewi dengan suku-suku Israel lainnya. Ini akan lebih jelas lagi dalam ayat selanjutnya dimana Tuhan mengulangi Firman-Nya supaya orang Israel jangan sampai melalaikan orang Lewi selama bangsa Israel berada di tanah mereka (ay. 19). Hal ini juga menjadi suatu acuan bahwa persembahan persepuluhan sangat terkait dengan profesi bangsa Israel pada waktu itu yang terkait dengan tanah, antara lain hasil pertanian dan hasil ternak.

Kita memang harus memperhatikan konteks pada waktu Firman ini diberikan kepada bangsa Israel, karena Firman ini diberikan kepada bangsa Israel sebelum mereka menaklukkan tanah Kanaan secara penuh. Artinya bangsa Israel sendiri belum menduduki tanah yang dijanjikan kepada mereka. Bangsa Israel sendiri belum menikmati tanah tersebut dan mungkin belum terbayang bagaimana memberikan korban dan persembahan termasuk persembahan persepuluhan. Hal ini jelas terlihat di ayat selanjutnya, dimana disebutkan bahwa “Apabila Tuhan telah meluaskan daerahmu nanti seperti janji-Nya...” (ay. 20a). Oleh karena itu Tuhan berkata bahwa jika mereka ingin makan daging, maka silahkan mereka makan daging. Ini menunjukkan janji Tuhan mengenai kelimpahan jasmani yang akan diterima oleh bangsa Israel sebagai umat pilihan Tuhan di Perjanjian Lama.

Terkait dengan konteks korban dan persembahan (termasuk di antaranya persembahan persepuluhan), bangsa Israel juga diberikan “kelonggaran” apabila tempat tinggal mereka terlalu jauh dari tempat yang dipilih Tuhan untuk mempersembahkan korban tersebut. Jika demikian, maka mereka diberi kelonggaran untuk tidak mempersembahkan di tempat yang dipilih Tuhan tersebut, tetapi boleh dipersembahkan di tempat mereka, dan dimakan bersama di tempat tersebut (ay. 21). Tentu ini bukan berarti persembahan  tersebut dimakan sendiri, tetapi di tiap-tiap daerah suku-suku Israel, ada orang-orang Lewi yang tinggal di sekitar mereka. Jadi orang Lewi tidak terpusat tinggal di Yerusalem, tetapi menyebar di seluruh wilayah Israel, di sejumlah kota-kota yang diberikan kepada orang Lewi (Bil 35:1-8).

Jadi walaupun mereka diberikan kelonggaran untuk tidak membawa persembahannya ke tempat yang dipilih Tuhan, tetapi bukan berarti hal tersebut menjadi alasan agar persembahan tersebut bisa mereka makan sendiri. Dalam konteks luas korban dan persembahan bangsa Israel, mereka harus tetap mempersembahkan kepada Tuhan, dan dalam konteks yang lebih sempit yaitu persembahan persepuluhan, mereka harus tetap mempersembahkannya kepada suku Lewi yang tinggal di antara mereka. Kalaupun mereka memakan persembahan tersebut, sangat mungkin itu adalah sebagian kecil dari persembahan yang dimakan bersama (sebagai tanda sukacita mereka). Atau bisa saja selain persembahan persepuluhan, mereka juga membawa makanan lain yang mereka makan bersama di sana sebagai ungkapan rasa syukur atas kesempatan memberikan persembahan kepada Tuhan.

Implikasi bagi kita yang hidup di zaman modern ini, mungkin saja kita memberikan sesuatu bagi pekerjaan Tuhan, tetapi sebenarnya hal itu kita lakukan karena ada maksud lain di hati kita, yaitu supaya kita boleh menikmatinya sendiri. Bisa jadi hal ini terlihat dari sikap kita saat memberikan persembahan ke gereja, dimana dengan bangganya kita menulis nama kita besar-besar supaya orang lain mengerti bahwa kita memberikan uang dalam jumlah besar. Ini sama saja dengan menikmati persembahan itu bagi kepentingan diri kita sendiri. Seharusnya apapun yang kita berikan kepada Tuhan atau bagi pekerjaan Tuhan, di situ kita harus siap untuk tidak menikmatinya, sekecil apapun itu. Bahkan jika kita mau jujur, kita harus siap untuk tidak menikmati apapun yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Kita harus bisa memiliki hati yang sama seperti hati Tuhan, yaitu supaya kita bisa menikmati apa yang Tuhan nikmati. Dalam hal ini Tuhan akan menuntun kita supaya kita tidak lagi menikmati dosa, tetapi justru menikmati hidup dalam kebenaran, hidup dalam kesucian, dan hidup dalam kekudusan, meskipun untuk itu ada harga yang harus dibayar. Kita harus berani tidak menikmati hidup yang duniawi, dan hanya menikmati hidup dalam ketaatan penuh terhadap kehendak Tuhan.



Bacaan Alkitab: Ulangan 12:17-21
12:17 Di dalam tempatmu tidak boleh kaumakan persembahan persepuluhan dari gandummu, dari anggurmu dan minyakmu, ataupun dari anak-anak sulung lembu sapimu dan kambing dombamu, ataupun sesuatu dari korban yang akan kaunazarkan, ataupun dari korban sukarelamu, ataupun persembahan khususmu.
12:18 Tetapi di hadapan TUHAN, Allahmu, haruslah engkau memakannya, di tempat yang akan dipilih TUHAN, Allahmu, engkau ini, anakmu laki-laki dan anakmu perempuan, hambamu laki-laki dan hambamu perempuan, dan orang Lewi yang di dalam tempatmu, dan haruslah engkau bersukaria di hadapan TUHAN, Allahmu, karena segala usahamu.
12:19 Hati-hatilah, supaya jangan engkau melalaikan orang Lewi, selama engkau ada di tanahmu.
12:20 Apabila TUHAN, Allahmu, telah meluaskan daerahmu nanti, seperti yang dijanjikan-Nya kepadamu dan engkau berpikir: Aku mau makan daging, karena engkau ingin makan daging, maka bolehlah engkau makan daging sesuka hatimu.
12:21 Apabila tempat yang akan dipilih TUHAN, Allahmu, untuk menegakkan nama-Nya di sana, terlalu jauh dari tempatmu, maka engkau boleh menyembelih dari lembu sapimu dan kambing dombamu yang diberikan TUHAN kepadamu, seperti yang kuperintahkan kepadamu, dan memakan dagingnya di tempatmu sesuka hatimu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.