Selasa, 23 Januari 2018

Mamur 73 (Ayat 28): Menaruh Tempat Perlindungan pada Tuhan Allah



Rabu, 24 Januari 2018
Bacaan Alkitab: Mazmur 73:28
Tetapi aku, aku suka dekat pada Allah; aku menaruh tempat perlindunganku pada Tuhan ALLAH, supaya dapat menceritakan segala pekerjaan-Nya. (Mzm 73:28)


Mamur 73 (Ayat 28): Menaruh Tempat Perlindungan pada Tuhan Allah


Dalam akhir perikop ini (yang juga akan mengakhiri serial renungan kita terkait Mazmur 73), Asaf sebagai pemazmur menulis sebuah ayat yang menjadi kesimpulan pengamatan atau pergumulannya. Ayat tersebut juga sekaligus sebagai komitmennya terhadap Tuhan. Ada 3 hal yang akan kita pelajari di sini yaitu: 1) suka dekat pada Allah; 2) menaruh tempat perlindungan pada Tuhan Allah; dan 3) Menceritakan segala pekerjaan-Nya.

Bagian pertama dari ayat ini yaitu suka dekat pada Allah (ay. 28a). Kata “dekat” dalam bahasa aslinya menggunakan kata קִֽרֲבַ֥ת (kiravat atau qirabat) dari akar kata קִרְבַת (qirbah). Kata qirbah ini hanya terdapat 2 kali di dalam Alkitab, dimana ayat lain yang menggunakan kata ini adalah di dalam kitab Yesaya yang berbunyi: Memang setiap hari mereka mencari Aku dan suka untuk mengenal segala jalan-Ku. Seperti bangsa yang melakukan yang benar dan yang tidak meninggalkan hukum Allahnya mereka menanyakan Aku tentang hukum-hukum yang benar, mereka suka mendekat menghadap Allah (Yes 58:2).  

Kata qirbah adalah sebuah kata benda (noun) yang memiliki pengertian: an approach, nearness, a drawing near (pendekatan, kedekatan, keadaan dekat, keadaan menjadi lebih dekat). Jadi ini menunjukkan bukan hanya kondisi yang sudah dekat, tetapi kondisi yang secara progresif semakin mendekat dengan sebuah objek. Dalam bahasa Inggris, kata approach dapat diibaratkan dengan sebuah pesawat yang akan mendarat dan melakukan approach dengan bandara yang akan dituju. Pesawat tersebut akan semakin dekat hingga mendarat dengan selamat di bandara tersebut. Itulah tujuan akhir dari approach yaitu hingga tiba di tempat tujuan, atau berada di tempat yang sama, bahkan hingga menjadi satu dengan objek tersebut.

Dalam bagian pertama ayat ini juga terdapat kata “suka” yang dalam bahasa aslinya menggunakan kata טוֹב (towb). Kata towb di sini dapat bermakna pleasant, agreeable, good, beautiful, appropriate (menyenangkan, menyetujui, baik, bagus, indah, cocok, sesuai). Jadi gabungan kata towb dan qirbah menunjukkan bahwa orang yang benar menyadari bahwa kedekatan dengan Tuhan (yaitu kedekatan yang progresif, atau yang semakin mendekat hingga menyatu) adalah suatu hal yang baik, sesuai, bahkan yang seharusnya dilakukan. Inilah seharusnya yang menjadi target manusia selama hidup di bumi, yaitu berjuang untuk mendekat dengan Tuhan, dan menjadikan Tuhan sebagai prioritas dan satu-satunya kebahagiaan dalam hidup ini.

Jadi, Asaf menulis bahwa manusia yang benar di hadapan Tuhan adalah mereka yang suka semakin mendekat kepada Allah. Perhatikan bahwa sikap semakin mendekat kepada Allah pasti membawa konsekuensi logis. Ada harga yang harus dibayar untuk sebuah kedekatan dengan Allah. Hal paling sederhana (tetapi juga paling sulit dilakukan) adalah meninggalkan persahabatan dan percintaan dengan dunia. Alkitab dengan tegas mengatakan bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah (Yak 4:4). Inilah harga yang harus dibayar oleh orang-orang benar, dan ini bukanlah hal yang sederhana. Tetapi karena kita juga sudah ditebus dan harganya telah dibayar lunas oleh darah Yesus, maka kita pun juga harus siap membayar harga bagi suatu kedekatan dengan Tuhan (1 Kor 6:20, 1 Ptr 1:18-19).

Bagian kedua dari ayat ini berbicara tentang orang-orang yang menaruh tempat perlindungannya pada Tuhan (ay. 28b). Ada 2 kata penting di sini yaitu “menaruh” dan “tempat perlindungan”. Kata “menaruh” dalam bahasa aslinya adalah שַׁתִּ֤י (shatti) dari akar kata שִׁית (shith) yang dapat berarti to set, to lay on (meletakkan, menaruh) . Kata shith ini juga ada di ayat 9 dan 18 dalam pasal ini yang menggambarkan orang fasik yang membuka mulut melawan langit (Mzm 73:9), dan Tuhan yang menaruh orang-orang fasik di tempat licin (Mzm 73:18). Penggunaan kata shith dalam 2 ayat ini menggambarkan suatu tindakan yang aktif, yang satu dilakukan oleh orang fasik, satu dilakukan Tuhan, dan juga dilakukan oleh orang benar. Dalam hal ini tindakan tersebut tentu dimulai dari adanya kesadaran dan pilihan yang dilakukan oleh pribadi yang memiliki kehendak bebas (baik itu orang fasik, orang benar, dan juga Tuhan sendiri).

Jadi orang tidak akan dapat berdalih bahwa ada orang-orang tertentu yang memang dipilih Tuhan untuk menaruh tempat perlindungannya kepada Tuhan, sementara orang lain tidak dipilih. Semua manusia diberikan kehendak bebas, sehingga apakah orang itu mau menaruh tempat perlindungan kepada Tuhan atau mau menaruhnya di tempat lain adalah pilihan orang tersebut. Yang jelas setiap pilihan memiliki konsekuensinya sendiri baik di dunia ini maupun di kekekalan. Pilihan untuk nyaman di bumi berarti penderitaan di kekekalan, sementara pilihan untuk menderita di bumi berujung pada sukacita di kekekalan.

Perhatikan kata “tempat perlindungan” dalam ayat ini, yang dalam bahasa aslinya menggunakan kata מַחְסִ֑י (machsi) dari akar kata מַחֲסֶה (machaseh atau machseh). Kata tersebut dapat bermakna refuge, place of refuge, shelter, hope, trust (pengungsian, perlindungan, tempat perlindungan, tempat bernaung, harapan, kepercayaan). Jadi dalam hal ini, gabungan kata shith dan machaseh dapat diartikan bahwa orang benar memang hanya menaruh harapan atau kepercayaannya kepada Tuhan. Ia tidak akan percaya atau berharap kepada apapun selain Tuhan. Di situlah orang benar menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya tempat perlindungan dan tempat bernaung bagi jiwanya.

Dalam bagian ketiga, salah satu ciri orang benar adalah menceritakan segala pekerjaan-Nya. Ada 2 kata penting di sini yaitu “menceritakan” dan “pekerjaan-Nya”. Kata “menceritakan” dalam bahasa aslinya adalah לְ֝סַפֵּ֗ר (lesapper) dari akar סָפַר (saphar). Kata saphar sendiri dapat berarti to count (menghitung, memperhitungkan), to recount (menceritakan), to relate (mengisahkan), to talk (mempercakapkan), to rehearse (menjelaskan, mengatakan dengan berulang-ulang/berkali-kali). Kata saphar ini juga terdapat dalam ayat 15 yang diterjemahkan sebagai “berkata-kata”.

Jadi dalam ayat 15 Asaf masih berandai-andai untuk berkata-kata mengenai kemujuran dan kesenangan orang fasik. Dia sadar bahwa jika ia sampai berkata-kata (menceritakan) mengenai kesenangan orang fasik kepada orang lain, maka itu akan menjadi suatu pengkhianatan yang dilakukan oleh Asaf terhadap kebenaran. Namun di ayat 28, Asaf sadar bahwa ia seharusnya menceritakan hal yang benar, yaitu segala pekerjaan Tuhan.

Sementara itu kata “pekerjaan-Nya” dalam bahasa aslinya adalah מַלְאֲכוֹתֶֽיךָ (malachoteicha) dari akar kata מְלָאכָה (melakah). Kata melakah di sini bermakna occupation, work (pekerjaan, karya) Ada tambahan kata כֹּל (kol) di sini yang dapat bermakna semua atau segalanya. Sehingga yang diberitakan adalah semua pekerjaan atau semua karya Tuhan. Tentu dalam hal ini yang diceritakan adalah segala pekerjaan Tuhan yang dilakukan Tuhan atas kehidupan Asaf. Dalam hal ini, salah satunya adalah pergumulan Asaf dalam melihat kemujuran orang fasik di dunia ini. 

Di dalam pergumulannya tersebut, Asaf menyadari bahwa ia harus merubah sudut pandangnya dan mulai melihat dari sudut pandang Allah. Ketika ia mulai melihat dari suudt pandang Allah, maka ia tidak menjadi kecewa dan putus asa ketika ia berjuang mempertahankan hidup yang bersih dan hidup yang benar. Ia tahu bahwa jerih payahnya hidup dalam kebenaran tidak sia-sia, karena ia sedang merajut kebenaran di dalam kekekalan. Ia menemukan formula kehidupan bahwa orang benar harus berjuang untuk tetap dekat dengan Tuhan. Di situlah ia mulai memberitakan kebenaran yang ia dapatkan tersebut kepada orang lain. Melalui pemberitaan kebenaran itulah, ia mencoba menolong sebanyak-banyaknya orang supaya tidak jatuh ke dalam jalan kefasikan, tetapi supaya mereka tetap setia berjuang di dalam jalan kebenaran.



Bacaan Alkitab: Mazmur 73:28
73:28 Tetapi aku, aku suka dekat pada Allah; aku menaruh tempat perlindunganku pada Tuhan ALLAH, supaya dapat menceritakan segala pekerjaan-Nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.