Selasa, 16 Januari 2018

Mazmur 73 (Ayat 24): Diangkat ke dalam Kemuliaan



Rabu, 17 Januari 2018
Bacaan Alkitab: Mazmur 73:24
Dengan nasihat-Mu Engkau menuntun aku, dan kemudian Engkau mengangkat aku ke dalam kemuliaan. (Mzm 73:24)


Mazmur 73 (Ayat 24): Diangkat ke dalam Kemuliaan


Ketika Asaf memilih untuk tetap tinggal di dekat Tuhan dan berjuang supaya tetap berkenan kepada-Nya, maka Tuhan kemudian memegang tangan kanannya. Tidak hanya sampai di situ, Tuhan ternyata menuntun Asaf dengan nasihat-Nya (ay. 24a). Tuhan tidak hanya memegang tangan kanan orang yang dekat kepada-Nya dan melindunginya, tetapi Tuhan juga berperan aktif menuntun orang-orang yang mau mendengarkan suara-Nya.

Dalam hal ini perlu dipahami bahwa meskipun Tuhan dengan aktif menuntun manusia dengan suara dan nasihat-Nya, akan tetapi diperlukan respon manusia yang memadai terhadap anugerah Tuhan tersebut. Tuhan memberikan manusia kehendak bebas sehingga mereka dapat memilih dan membuat keputusan. Adalah keputusan manusia untuk memilih mendengarkan suara dan nasihat Tuhan, atau memilih untuk mengabaikannya. Di sini Asaf memberikan contoh bagaimana ia memilih untuk terus dekat dengan Tuhan, dan kemudian Tuhan menuntun Asaf dengan suara-Nya. Ini adalah konsekuensi logis dari pilihan yang diambil oleh Asaf.

Bagian pertama dari ayat 24 mengandung 2 buah kata dalam bahasa aslinya. Kata “dengan nasihat-Mu” dalam bahasa aslinya adalah בַּעֲצָתְךָ֥ (baatzatecha) dari akar kata עֵצָה (etsah). Kata etsah sendiri memiliki pengertian counsel, advice, purpose (nasihat, saran, anjuran, petunjuk, tujuan, maksud, rencana, kehendak). Jadi kata etsah tidak hanya dipahami sebagai semacam saran atau nasihat dari Tuhan saja, tetapi Tuhan juga ingin menyampaikan rencana dan kehendak-Nya kepada orang-orang yang mengasihi-Nya, yaitu yang mau berjuang membayar harga kepada Tuhan. Melalui kehendak dan rencana-Nya yang diberikan kepada orang-orang pilihan-Nya, maka diharapkan orang-orang tersebut semakin dapat menyenangkan hati Tuhan dengan melakukan kehendak-Nya.

Sementara itu kata “Engkau menuntun aku” dalam bahasa aslinya adalah תַנְחֵ֑נִי (tancheni) dari akar kata נָחָה (nachah). Kata nachah sendiri memiliki pengertian sebagai to lead, to guide, to bring (memimpin, menuntun, membimbing, memandu, menunjukkan jalan, membawa, mengantar). Jadi melalui nasihat, saran, petunjuk, termasuk kehendak-Nya, maka Tuhan hendak menuntun kita dan membawa kita mengerti jalan-jalan-Nya. Tuhan hendak menunjukkan jalan yang benar kepada kita untuk kita tempuh. Jika kita mau memilih jalan-Nya (yang adalah jalan yang sempit), maka mau tidak mau kita harus berani melepaskan segala sesuatu demi jalan itu. Kita harus sampai pada level di mana tidak ada lagi yang kita inginkan kecuali Tuhan.

Dalam bagian kedua ayat ini, disebutkan bahwa “dan kemudian Engkau mengangkat aku ke dalam kemuliaan” (ay. 24b). Dalam bahasa aslinya yaitu bahasa Ibrani, ada 3 kata dalam kalimat ini. Kata pertama adalah “dan kemudian” yang dalam bahasa aslinya menggunakan kata וְ֝אַחַ֗ר (veachar) dari akar kata אַחַר (achar). Kata achar memiliki pengertian after the following part, behind (of place), hinder, afterwards (of time) (setelah bagian berikut, di belakang (tempat), kemudian (waktu)). Jadi kata achar di sini dapat merujuk pada waktu setelah Tuhan menuntun manusia dengan nasihatnya, tetapi juga dapat merujuk sebuah tempat setelah Tuhan menuntun manusia. Yang jelas peristiwa yang dijelaskan oleh kata achar ini terjadi di belakang atau terkemudian.

Peristiwa apakah yang akan terjadi kemudian? Kata “Engkau mengangkat aku” dalam bahasa aslinya menggunakan kata תִּקָּחֵֽנִי (tikkacheni) dari akar kata לָקַח (laqach). Kata laqach memiliki pengertian to take, accept, bring, buy, carry away, drawn, fetch, get, infold (membawa, mengambil, menerima, mengantar, membeli, mengangkat, mengangkut, menarik, menjemput, mendapatkan, memperoleh). Sementara itu kata “ke dalam kemuliaan” dalam  bahasa aslinya menggunakan kata kata כָּבוֹד (kavod atau kabowd). Kata kabowd bermakna glory, honour, glorious, abundance (keagungan, kemuliaan, kehormatan, nama baik, mulia, kemegahan, kemashyuran, kelimpahan). Jadi di sini Tuhan hendak membawa manusia kepada kemuliaan dan kehormatan.

Tuhan ingin mengembalikan kemuliaan manusia seperti yang seharusnya. Karena dosa Adam dan Hawa, maka manusia telah kehilangan kemuliaan yang seharusnya. Ini bukan berarti manusia sama seperti binatang, tetapi kemuliaan yang dimiliki manusia menjadi rendah secara kualitas dan tidak mampu mencapai standar kemuliaan sebagaimana yang diinginkan oleh Allah. Melalui karya Allah di dalam Perjanjian Lama, Allah hendak membuat suatu bangsa yang mulia dan terhormat, yaitu dengan adanya firman Tuhan dan hukum-hukum-Nya yang diberikan kepada bangsa Israel. Sayangnya, sepanjang sejarahnya, bangsa Israel lebih banyak memberontak dan melawan Tuhan.

Dalam Perjanjian Baru, Allah pun hendak menyatakan karya keselamatan-Nya kepada orang-orang yang mau percaya kepada-Nya. Keselamatan di sini harus dipandang sebagai usaha Tuhan untuk mengembalikan manusia kepada rancangan yang semula. Keselamatan tidak boleh hanya dipandang sebagai “mati masuk surga”, tetapi bagaimana manusia dapat memiliki hidup yang berkualitas, bagaimana manusia dapat hidup dengan mengerti kehendak Allah dan melakukannya, bagaimana manusia dapat mencapai standar kehidupan yang menyenangkan hati Tuhan. Di situ Tuhan menggarap setiap manusia yang mau membayar harganya supaya mereka semakin disempurnakan.

Tentu kemuliaan di sini belum tentu merupakan kemuliaan di dalam dunia ini. Kata kemuliaan di sini harus dipandang sebagai kemuliaan di dunia yang akan datang, yaitu kemuliaan yang kekal. Oleh karena itu, wajar jika orang-orang fasik di dunia ini seakan-akan menjadi mulia dan terhormat. Orang-orang fasik hanya mencari kemuliaan di dunia ini tetapi tidak pernah memperkarakan mengenai kemuliaan di dunia yang akan datang. Kita sebagai orang-orang yang memilih kebenaran, harus siap tidak menjadi mulia dan terhormat di dunia ini. Tentu tidak terhormat di sini bukan tidak terhormat karena melakukan dosa yang memalukan, tetapi tidak dipandang terhormat (khususnya oleh orang-orang fasik) karena kita memilih jalan yang benar. Kita mungkin dipandang orang yang aneh, tetapi sesungguhnya kita adalah orang-orang yang memilih untuk memiliki pengharapan akan kemuliaan yang akan datang, bukan hanya sekedar terhormat dan mulia di pandangan orang di bumi ini.



Bacaan Alkitab: Mazmur 73:24
73:24 Dengan nasihat-Mu Engkau menuntun aku, dan kemudian Engkau mengangkat aku ke dalam kemuliaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.