Selasa, 09 Januari 2018

Mazmur 73 (Ayat 17): Sampai Masuk ke dalam Tempat Kudus Allah



Rabu, 10 Januari 2018
Bacaan Alkitab: Mazmur 73:17
Sampai aku masuk ke dalam tempat kudus Allah, dan memperhatikan kesudahan mereka. (Mzm 73:17)


Mazmur 73 (Ayat 17): Sampai Masuk ke dalam Tempat Kudus Allah


Dalam ayat sebelumnya kita telah belajar bagaimana Asaf mengalami kesulitan ketika mencoba memahami kefasikan orang-orang fasik melalui sudut pandangnya sebagai manusia. Tentu saja kesulitan ini terkait dengan kebingungan Asaf mengenai hidup orang fasik yang sepertinya selalu mujur dan enak. Jalan kefasikan yang mereka tempuh sangatlah menggiurkan, sehingga banyak orang yang tergiur untuk mengikutinya. Sementara itu orang yang memilih hidup benar harus menderita dan berjuang untuk hidup benar. Hidup orang benar menjadi susah karena standar kekudusan hidup yang sudah ditetapkan oleh Tuhan dalam firman-Nya.

Oleh karena itu, Asaf pun sempat nyaris tergelincir karena iri terhadap “kemujuran” orang fasik. Namun semua itu berubah setelah Asaf masuk ke dalam tempat kudus Allah dan memperhatikan kesudahan mereka (ay. 17). Apakah artinya masuk ke dalam tempat kudus Allah? Setidaknya kita harus memperhatikan bahasa asli dari 2 kata penting di sini, yaitu “masuk” dan “tempat kudus”.

Kata “masuk” dalam bahasa aslinya adalah אָ֭בוֹא (’ā·ḇō) dari akar kata בּוֹא (bo). Kata bo sendiri dapat diartikan sebagai to come in, come, go in, go (datang dan masuk, datang, pergi dan masuk, pergi). Jadi kata bo lebih menekankan kepada proses bergeraknya suatu obyek untuk kemudian masuk ke dalam. Kata bo lebih bersifat aktif dan bukan pasif. Kata bo merujuk kepada suatu tindakan aktif dari subyek yang melakukan, bukan hanya pasif atau diam sambil menunggu dibawa masuk.

Sementara itu kata “tempat kudus” dalam bahasa aslinya adalah מִקְדָּשׁ (miqdash atau miqqedash). Kata miqdash atau miqqedash sendiri dapat diartikan sebagai a sacred place (tempat keramat), a holy place (tempat suci, tempat kudus), sanctuary (tempat suci, tempat perlindungan). Jadi kata miqdash atau miqqedash berbicara tentang suatu tempat, yaitu tempat yang suci, kudus, atau yang menjadi tempat perlindungan. Tentu hal ini menunjuk pada tempat suci dan tempat kudus milik Allah, atau tempat perlindungan yang disediakan Allah.

Menjadi pertanyaan, dimanakan tempat kudus Allah itu? Bagi bangsa Israel, tentu tempat kudus Allah merujuk kepada Bait Allah atau Bait Suci. Namun demikian, Asaf mungkin hidup sebelum Bait Allah dibangun oleh Raja Salomo (karena Asaf melayani khususnya pada zaman raja Daud). Oleh karena itu, selain mengacu kepada Bait Allah, tempat kudus Allah kemungkinan dapat mengacu kepada: 1) tempat dimana tabut perjanjian berada; 2) tempat-tempat khusus yang digunakan orang Israel untuk beribadah kepada Tuhan (sebelum Bait Allah dibangun).

Sebenarnya, tempat kudus Allah berbicara mengenai tempat yang ditentukan Allah untuk menjadi “rumah-Nya”, atau tempat dimana Roh Allah berada secara khusus. Bagi bangsa Israel yang hidup di Perjanjian Lama, maka tempat kudus Allah tentu berbicara tentang Bait Allah yang ada di Yerusalem, sebab itulah tempat yang dipilih Allah sendiri untuk membangun suatu rumah bagi-Nya. Namun demikian, makna tempat kudus Allah bagi umat Perjanjian Baru tentulah sangat berbeda dengan konsep tempat kudus Allah bagi umat Perjanjian Lama (bangsa Israel). Bagi umat Perjanjian Baru, tempat kudus Allah adalah tempat dimana Roh Allah berkenan diam. Dan ketika Roh Kudus dicurahkan pada hari Pentakosta, Roh Allah kembali dimungkinkan tinggal di dalam hati manusia secara permanen. Jadi setiap orang percaya (yang sungguh-sungguh percaya dan hidup dalam kekudusan), adalah Bait Allah atau Bait Roh Kudus (1 Kor 3:16, 1 Kor 6:19).

Tetapi jika ditanya, apakah setiap orang percaya adalah Bait Allah? Jawabannya bisa ya dan bisa juga tidak. Ya, karena semua orang yang percaya kepada Tuhan diberikan Roh Kudus dalam hatinya. Tidak, karena bisa saja ada orang yang mendiamkan, bahkan mendukakan Roh Kudus dengan keputusannya untuk hidup tidak kudus. Dalam hal ini hidup seseorang bisa saja sangat tidak mencerminkan kekudusan, sehingga bisa jadi Roh Kudus tidak tinggal di dalam orang tersebut. Ingat bahwa Allah kita adalah Allah yang Maha Kudus. Roh Kudus yang adalah representasi Roh Allah pun memiliki sifat maha kudus, sehingga ia hanya akan permanen menuntun manusia yang juga mau berjuang untuk hidup kudus, bukan yang mengumbar kenajisan.

Jadi melihat konteks aslinya, tidaklah salah jika Asaf menulis ia masuk ke tempat kudus Tuhan berarti ia datang ke Bait Allah atau ke tempat-tempat tertentu yang memang ditentukan untuk beribadah kepada Allah. Tetapi bagi kita yang adalah umat Perjanjian Baru, masuk ke tempat kudus Tuhan (atau tempat perlindungan Tuhan) berarti adalah hidup menjaga diri dalam kekudusan, sehingga hidup kita menjadi hidup yang berkualitas karena dipimpin atau dituntun oleh Roh Kudus. Saat kita menjaga kekudusan dan membangun suatu hubungan pribadi yang intim dengan Tuhan, di situlah kita sedang masuk ke tempat kudus Tuhan. Orang yang masuk ke tempat kudus Tuhan tidak akan tertarik atau tergoda lagi dengan hal-hal duniawi. Ia hanya akan mengejar kekudusan Allah, menggali firman Tuhan, serta menikmati setiap waktu bersama Tuhan. Ia tidak hanya puas dengan waktu-waktu tertentu untuk berdoa (misal: doa bangun tidur, doa sebelum makan, ibadah di gereja), tetapi setiap saat dan setiap detik ia akan terhubung dengan Tuhan tanpa kecuali. Pada level ini, seseorang hanya akan memiliki satu prioritas: melakukan kehendak Bapa dan menyenangkan hati-Nya. Ia akan menjauhi dosa dan tidak akan melakukan hal-hal yan mendukakan hati Tuhan. Setiap tindakannya, perkataannya, bahkan pikirannya akan dijaga dan dievaluasi terus menerus apakah telah sesuai dengan kehendak Tuhan.

Jika orang percaya dapat masuk ke level kerohanian seperti ini, maka barulah ia dapat memperhatikan kesudahan orang-orang fasik. Untuk memahami makna kalimat ini lebih dalam, kita perlu melihat bahasa asli dari kata-kata yang penting yaitu “memperhatikan kesudahan” dalam ayat 17 bagian kedua ini. Kata “memperhatikan” dalam bahasa aslinya adalah אָ֝בִ֗ינָה (’ā·ḇî·nāh) dari akar kata בִּין (bin). Kata bin sendiri memiliki arti to discern (melihat, memahami), to understand (mengerti, mengetahui, memahami), to consider (mempertimbangkan, memperhitungkan, memikirkan, memandang), to perceive (melihat, mengetahui), to observe (mengamati, memperhatikan).

Sementara itu kata “kesudahan” dalam bahasa aslinya adalah לְאַחֲרִיתָֽם (lə·’a·ḥă·rî·ṯām) dari akar kata אַחֲרִית (acharith). Kata acharith ini dapat diartikan sebagai the after-part (bagian sesudahnya, bagian selanjutnya), end (akhir, ujung, penutup), latter time (waktu terakhir, terakhir kali). Kata acharith ini dapat menunjuk kepada tempat (seperti ujung jalan) atau waktu. Namun dalam ayat 17 ini, kita melihat bahwa tentu kata acharith ini menunjuk kepada akhir hidup dari orang-orang fasik ini.

Jadi salah satu berkat bagi orang-orang yang mau masuk ke dalam tempat kudus Tuhan adalah mengetahui akhir dari kehidupan di dunia ini. Sebenarnya, kebanyakan orang yang beragama (atau bertuhan) tahu bahwa hidup ini akan menuju kepada kekekalan, dimana ada surga bagi orang-orang yang dianggap baik, dan ada neraka bagi orang-orang yang dianggap jahat. Namun demikian pemahaman agama yang salah membuat orang-orang tidak berjuang untuk hidup benar secara proporsional, misalnya karena diajarkan bahwa mereka adalah orang pilihan yang ditentukan pasti selamat, sehingga tanpa perlu berjuang pun mereka pasti selamat. Ada pula pengajaran yang menekankan bahwa dosa bisa diampuni dengan membeli semacam surat pengampunan dosa yang dijual oleh lembaga-lembaga agama. Hal-hal demikian tentu tidak akan mendorong umat untuk berjuang hidup kudus.

Dengan hidup kudus, maka kita akan dituntun oleh Roh Kudus. Roh Kudus akan memberikan hikmat kepada kita untuk dapat mengetahui akhir kehidupan seseorang. Asaf yang hidup di masa Perjanjian Lama saja dapat mengerti kesudahan orang fasik tersebut setelah ia masuk ke dalam tempat kudus Tuhan, apalagi kita sebagai umat Perjanjian Baru yang telah diberi fasilitas oleh-Nya untuk hidup kudus dan sempurna. Fasilitas tersebut antara lain pembenaran, Injil, dan Roh Kudus. Hal-hal ini tidak dimiliki oleh umat Perjanjian Lama karena belum ada karya keselamatan Kristus di atas kayu salib.

Oleh karena itu dalam tempat kudus Tuhan, maka kita tidak akan lagi mempermasalahkan kehidupan orang fasik yang terlihat enak. Kita tidak akan lagi mempermasalahkan dan protes kepada Tuhan, mengapa hidup kita tidak lebih enak daripada hidup orang fasik. Yang kita permasalahkan dan pergumulkan adalah apakah hidup kita sudah kudus dan berkenan kepada Tuhan. Pada saat akhir hidup kita, apakah kita sudah siap menghadapi tahta pengadilan Tuhan? Jangan lupa, bahwa setiap hal yang kita lakukan di dunia ini, harus dipertanggungjawabkan pada akhirnya. Kenikmatan dan kesenangan akibat dosa dan kefasikan yang kita lakukan di dunia ini, pasti memiliki konsekuensi di kekekalan nantinya.


Bacaan Alkitab: Mazmur 73:17
73:17 sampai aku masuk ke dalam tempat kudus Allah, dan memperhatikan kesudahan mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.