Jumat, 12 Januari 2018

Mazmur 73 (Ayat 21): Ketika Hati Merasa Pahit



Minggu, 14 Januari 2018
Bacaan Alkitab: Mazmur 73:21
Ketika hatiku merasa pahit dan buah pinggangku menusuk-nusuk rasanya. (Mzm 73:21)


Mazmur 73 (Ayat 21): Ketika Hati Merasa Pahit


Dalam ayat 21 ini, Asaf menulis kalimat yang menunjukkan bahwa ia merasa hatinya sedang merasa pahit (ay. 21a). Dalam kalimat ini kata “hatiku” menggunakan kata bahasa asli לֵבָב (lebab) yang secara umum bermakna inner man (batin manusia), mind (pikiran, benak), will (keinginan, kehendak), heart (hati, perasaan). Ini menunjuk kepada apa yang ada di dalam batin manusia, yaitu hati atau jiwa manusia (yang di dalamnya terdapat pikiran, perasaan, dan kehendak). Kata lebab ini juga telah digunakan Asaf dalam ayat 7 dan 13 pasal ini.

Dalam ayat 21 ini, Asaf menulis bahwa hatinya merasa pahit. Jadi kalimat tersebut juga berarti jiwanya, pikirannya, atau perasaannya menjadi pahit. Kata “pahit” di dalam bahasa aslinya adalah יִתְחַמֵּ֣ץ (yiṯ·ḥam·mêṣ) dari akar kata חָמֵץ (chamets). Kata chamets itu sendiri dapat diterjemahkan sebagai be sour (menjadi asam), leavened (khamir, memuai/mengembang karena ragi), embittered (sakit hati), be red (menjadi merah), be ruthless (menjadi kejam, bengis, lalim). Dalam konteks hati (lebab), memang arti yang paling cocok adalah embittered atau hatinya menjadi sakit. Dalam arti lain, kata chamets juga dapat digambarkan sebagai hati yang menjadi asam, hati yang telah terkena ragi (yang antara lain salah satu efeknya juga menjadi asam), atau bahkan hati yang menjadi bengis.

Di sini hati Asaf seakan-akan menjadi sakit dan pahit. Bahkan Asaf menulis bahwa buah pinggangnya menusuk-nusuk rasanya (ay. 21b). Kata “buah pinggangnya” dalam bahasa aslinya adalah וְ֝כִלְיוֹתַ֗י (wə·ḵil·yō·w·ṯay) dari akar kata כְּלָיוֹת (kilyah). Kata kilyah di sini dapat diterjemahkan sebagai kidneys (ginjal), reins (tali kekang). Kata kilyah walaupun dapat dimaknai sebagai ginjal/buah pinggang sebagai organ tubuh, namun juga dapat bersifat figuratif yaitu yang terkait dengan emosi dan rasa sayang. Kata kilyah juga dapat merujuk kepada sesuatu yang diselidiki oleh Tuhan (bandingkan dengan Mzm 7:10, dimana kata kilyah diterjemahkan sebagai batin yang diuji oleh Tuhan).

Sementara itu kata “menusuk-nusuk rasanya” dalam bahasa aslinya adalah אֶשְׁתּוֹנָֽן (’eš·tō·w·nān) dari akar kata שָׁנַן (shanan). Kata shanan ini dapat diterjemahkan sebagai to whet (mengasah), sharpen (mempertajam, meruncingkan), teach (mengajarkan berulang-ulang), prick (menusuk), pierce (menembus, menusuk, melubangi, menindik). Jadi kata shanan di sini dapat dimaknai dengan suatu proses yang menusuk dengan semakin tajam, bahkan hingga menembus dan melubangi. Jadi gabungan kata kilyah dan shanan memang dapat diartikan seperti rasa sakit yang disebabkan karena buah pinggangnya yang menusuk-nusuk. Akan tetapi, jika kata kilyah dapat diterjemahkan batin (atau juga hati), maka berarti batin atau hati itulah yang seakan-akan ditusuk atau bahkan dipertajam (sehingga menimbulkan rasa sakit juga). Itulah rasa sakit yang diderita Asaf ketika ia mencoba belajar memahami sudut pandang Tuhan.

Asaf adalah tokoh dalam Perjanjian Lama, dimana belum ada fasilitas Injil, Roh Kudus, dan penebusan Kristus. Oleh karena itu, ia tentu tidak sesempurna umat Perjanjian Baru dalam memahami kehendak Allah. Itulah sebabnya ia masih mengalami sakit hati dan juga batinnya (yang digambarkan dengan ginjal/buah pinggangnya) serasa ditusuk-tusuk. Akan tetapi kita yang adalah umat Perjanjian Baru, yang telah menerima karya penebusan Kristus, telah menerima Roh Kudus, dan memiliki Injil yang lengkap, seharusnya tidak perlu merasa sakit hati. Apakah yang dapat membuat kita sakit hati. Bahkan jika kita dihina atau Tuhan kita dihina pun, kita harus dapat mengampuni orang tersebut dan tidak perlu sakit hati. Kita membela Tuhan dengan sepantasnya, bahkan memang harus membela tanpa batas. Akan tetapi membela Tuhan bukan dengan membalas menghina orang tersebut atau bahkan menyakitinya. Kita harus menunjukkan kualitas kita sebagai umat Tuhan yang benar dengan tidak membiarkan sakit hati dan kepahitan menguasai jiwa kita.



Bacaan Alkitab: Mazmur 73:21
73:21 Ketika hatiku merasa pahit dan buah pinggangku menusuk-nusuk rasanya,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.