Minggu, 14 Januari 2018

Mazmur 73 (Ayat 23): Tetap di Dekat Tuhan



Selasa, 16 Januari 2018
Bacaan Alkitab: Mazmur 73:23
Tetapi aku tetap di dekat-Mu; Engkau memegang tangan kananku. (Mzm 73:23)


Mazmur 73 (Ayat 23): Tetap di Dekat Tuhan


Dalam ayat sebelumnya kita sudah melihat bahwa Asaf terkagum-kagum akan hikmat Tuhan, bahkan memposisikan dirinya ibarat hewan yang dungu dan tidak mengerti hikmat dan kebijaksanaan Tuhan. Satu hal yang akan kita pelajari hari ini adalah bahwa Asaf memilih untuk tetap dekat kepada Tuhan meskipun ia tidak mengerti. Ia tidak menjadi kecewa lalu meninggalkan Tuhan di dalam ketidaktahuannya. Justru ketika Asaf tidak tahu, ia memberikan contoh yaitu tetap berada dekat dengan Tuhan (ay. 23a).

Kata “tetap di dekat-Mu” dalam bahasa aslinya terdapat 2 kata yaitu תָּמִיד (tamid) dan עִם (im). Sementara kata im sendiri dapat berarti with, against, toward, as long as, beside (dengan, terhadap, selama, di samping, di sebelah). Kata im sendiri juga sudah pernah digunakan pada ayat sebelumnya yaitu ayat 22. Jadi di sini Asaf menyambungkan bahwa dahulu ia telah berusaha untuk berada dekat Tuhan meskipun ia tidak mengerti. Oleh karena itu, ia tetap berusaha untuk mempertahankan kedekatannya dengan Tuhan.

Kata tamid sendiri diterjemahkan sebagai “tetap” dalam Alkitab Terjemahan Baru Bahasa Indonesia. Dalam bahasa aslinya, kata tamid dapat bermakna continuity, perpetuity, to stretch, continually, continuously (kelanjutan, keadaan terus menerus, kelangsungan, kelanggengan, meregangkan, terus-menerus, tanpa henti, terus menerus). Jadi di sini Asaf berusaha untuk tetap terus menerus berada di dekat Tuhan, tanpa kecuali. Menarik pula melihat salah satu makna kata tamid adalah to stretch (meregangkan). Kata to stretch juga berarti menarik hingga tegang tetapi tidak sampai terputus. Jadi ibarat karet yang terus menerus dipaksa semakin panjang tetapi tidak sampai putus. Jelas ini menunjukkan adanya usaha yang memaksa diri sendiri untuk dapat tetap dekat kepada Tuhan.

Inilah pergumulan dan perjuangan Asaf. Asaf sadar bahwa berusaha dekat Tuhan bukanlah perkara yang mudah. Bahkan mempertahankan dan semakin dekat dengan Tuhan pun rasanya nyaris mustahil. Sebenarnya, Tuhan pun adalah Tuhan yang bersifat progresif. Tuhan tentu tidak akan menuntut banyak kepada mereka yang masuk ke dalam kategori “kanak-kanak rohani”. Tetapi seiring berjalannya waktu, setiap orang percaya harus semakin bertumbuh dan menjadi semakin dewasa. Oleh karena itu, Tuhan pasti menuntut lebih banyak kepada mereka yang juga semakin dewasa. Oleh karena itu, supaya kita tetap dapat berada dekat Tuhan seiring perjalanan hidup kita, itu bukanlah pekerjaan mudah.

Dahulu, ketika kita masih baru menjadi Kristen, mungkin Tuhan dengan mudahnya menjawab doa-doa kita. Akan tetapi, semakin kita belajar kebenaran, seharusnya kita semakin mempersoalkan apakah doa itu. Doa tidak hanya sekedar minta A, minta B, minta C, dan seterusnya kepada Tuhan. Bahkan seiring bertumbuhnya kedewasaan rohani yang benar, maka orang itu semakin tidak berani meminta sesuatu dalam doanya, selain meminta supaya ia boleh semakin mengerti kehendak Tuhan dan melakukannya supaya semakin berkenan kepada Tuhan. Coba kita pikir, berapa lama kita menjadi orang Kristen? Dan pernahkah kita memperkarakan apakah doa kita saat ini masih sama dengan doa kita ketika kita baru menjadi orang Kristen?

Ada satu keuntungan ketika kita berani memutuskan untuk tetap berada dekat kepada Tuhan, yaitu Tuhan memegang tangan kanannya (ay. 23b). Bagian kedua ayat 23 ini terdiri dari 3 kata yaitu אָ֝חַ֗זְתָּ (’ā·ḥaz·tā), בְּיַד (bə·yaḏ), dan יְמִינִֽי (yə·mî·nî). Kata אָ֝חַ֗זְתָּ (’ā·ḥaz·tā) berasal dari akar kata אָחַז (achaz), yang secara umum dapat diartikan sebagai grasp (menggenggam), take hold (memegang), seize (meraih, merebut), take possession (mengambil alih kepemilikan). Jadi kata achaz ini menunjukkan bagaimana Tuhan memegang tangan kita dan bahkan menjadikan kita sebagai miliknya, dengan catatan bahwa kita juga mau berjuang untuk terus menerus berada dekat dengan Tuhan.

Kata בְּיַד (bə·yaḏ) berasal dari akar kata יָד (yad) yang berarti tangan. Sementara itu kata  יְמִינִֽי (yə·mî·nî) berasal dari akar kata יָמִין (yamin) yang berarti kanan atau bagian kanan. Tangan kanan dalam budaya timur menunjukkan tangan yang lebih sering dipakai, tangan yang lebih sopan/terhormat, serta tangan yang lebih kuat. Di sini Tuhan ingin menunjukkan bahwa tangan kanan kita yang adalah lambang kekuatan dan kehormatan, akan dipegang dan digenggam oleh Tuhan. Tuhan tidak akan membiarkan orang-orang yang berjuang untuk berada di dekatnya terjatuh dan terlepas dari genggaman-Nya. Tuhan justru akan terus menerus memegang tangan orang itu dan membawanya kedalam tingkatan yang lebih dalam atau lebih tinggi lagi.



Bacaan Alkitab: Mazmur 73:23
73:23 Tetapi aku tetap di dekat-Mu; Engkau memegang tangan kananku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.