Rabu, 26 Oktober 2011

Belajar untuk Mengasihi dan Memperhatikan Orang Lain

Rabu, 26 Oktober 2011

Bacaan Alkitab: 3 Yohanes 1:1-6

“Bagiku tidak ada sukacita yang lebih besar dari pada mendengar, bahwa anak-anakku hidup dalam kebenaran.” (3 Yoh 1:4)


Belajar untuk Mengasihi dan Memperhatikan Orang Lain


Surat ketiga Rasul Yohanes ini ditujukan kepada Gayus, yang adalah salah satu anak rohani dari Rasul Yohanes. Rasul Yohanes sangat mengasihi Gayus sehingga ia menulis surat khusus kepada Gayus, setelah sebelumnya Rasul Yohanes menulis surat kepada anak-anak rohaninya secara umum (Kitab 1 Yohanes) serta kepada seorang “ibu yang terpilih dan anak-anaknya” (Kitab 2 Yohanes). Ini berarti Gayus sangat spesial dalam kehidupan Rasul Yohanes. Dalam awal kitab ini, sesuai dengan bacaan kita hari ini, kita dapat melihat bagaimana sikap Yohanes yang sungguh sangat memperhatikan Gayus sebagai anak rohaninya.

Pertama, Rasul Yohanes sangat mengasih Gayus dalam kebenaran (ay. 1). Kasih itu memang harus dimiliki oleh setiap orang percaya, namun kasih dalam kebenaran. Kasih dalam kebenaran berarti bukan kasih yang buta, melainkan kasih yang tetap berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran. Kasih bukan berarti membiarkan jika orang yang kasihi berbuat salah, tetapi menegor dan menasihati agar orang yang kita kasihi dapat kembali kepada jalan kebenaran.

Kedua, Rasul Yohanes sangat memperhatikan Gayus dan selalu berdoa untuknya (ay. 2). Kita pun seharusnya mendoakan dengan setia orang-orang yang ada di sekitar kita, terlebih anak-anak rohani kita. Mereka membutuhkan doa-doa kita. Selain itu kita pun perlu memperhatikan mereka secara khusus, seperti bagaimana keadaan mereka, baik secara jasmani terlebih secara rohani.

Ketiga, Rasul Yohanes bersukacita atas setiap kabar yang menceritakan bahwa Gayus telah hidup dalam kebenaran (ay. 3-4). Pernahkah kita bertanya kepada orang tua kita, apa yang paling membahagiakan mereka? Saya yakin salah satu jawabannya adalah ketika mereka melihat kita tumbuh, belajar, dan akhirnya berhasil mencapai apa yang kita cita-citakan, entah itu mungkin lulus kuliah, menikah, ataupun mencapai sesuatu yang lain. Setiap orang tua pastilah bangga ketika anaknya berhasil, demikian juga kita juga harus bersukacita ketika kita mendengar orang-orang yang kita kasihi juga telah berhasil, terlebih berhasil hidup dalam kebenaran Firman Tuhan serta memuliakan Tuhan.

Keempat, Rasul Yohanes tetap memberikan nasihat dan bimbingan kepada Gayus, serta mengapresiasi Gayus yang telah melakukan apa yang seharusnya dilakukan (ay. 5-6). Menurut saya, Gayus ini adalah salah satu murid Yohanes yang telah dipakai Tuhan secara luar biasa. Tidak ada catatan negatif mengenai Gayus dalam Alkitab. Tetapi Rasul Yohanes tetap memberikan arahan kepada Gayus, antara lain berbuat baik kepada saudara-saudara seiman lainnya yang merupakan orang asing (dalam hal ini berasal dari tempat lain dan sedang berkunjung ke tempat Gayus). Rasul Yohanes pun tetap memuji dan mengapresiasi Gayus, karena ia telah melakukan apa yang baik dan berkenan kepada Allah.

Bagaimana dengan kita? Mungkin kita memiliki beberapa orang yang menjadi anak rohani kita, atau mungkin ada beberapa orang yang menjadi teman dekat kita atau sahabat kita. Sudahkah kita mengasihi mereka seperti Rasul Yohanes mengasihi Gayus? Sudahkah kita memperhatikan, mendoakan, mengasihi, bahkan memberikan dukungan kepada mereka? Mungkin apa yang kita lakukan seperti mengirimkan sms yang berisi ayat-ayat Alkitab, atau mendoakan mereka dalam doa syafaat kita kelihatannya hanyalah hal sepele, tetapi dalam Tuhan, apapun yang kita lakukan pasti tidak akan sia-sia, selama kita melakukannya dengan tulus, dan dengan motivasi yang benar. Firman Tuhan berkata, “Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya” (Mat 10:42).


Bacaan Alkitab: 3 Yohanes 1:1-6

1:1 Dari penatua kepada Gayus yang kekasih, yang kukasihi dalam kebenaran.

1:2 Saudaraku yang kekasih, aku berdoa, semoga engkau baik-baik dan sehat-sehat saja dalam segala sesuatu, sama seperti jiwamu baik-baik saja.

1:3 Sebab aku sangat bersukacita, ketika beberapa saudara datang dan memberi kesaksian tentang hidupmu dalam kebenaran, sebab memang engkau hidup dalam kebenaran.

1:4 Bagiku tidak ada sukacita yang lebih besar dari pada mendengar, bahwa anak-anakku hidup dalam kebenaran.

1:5 Saudaraku yang kekasih, engkau bertindak sebagai orang percaya, di mana engkau berbuat segala sesuatu untuk saudara-saudara, sekalipun mereka adalah orang-orang asing.

1:6 Mereka telah memberi kesaksian di hadapan jemaat tentang kasihmu. Baik benar perbuatanmu, jikalau engkau menolong mereka dalam perjalanan mereka, dengan suatu cara yang berkenan kepada Allah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.