Rabu, 15 Februari 2017

Ciri Ahli Taurat dan Orang Farisi (3): Membebani Orang Lain Tanpa Mau Menyentuhnya



Sabtu, 18 Februari 2017
Bacaan Alkitab: Matius 23:4
Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. (Mat 23:4)


Ciri Ahli Taurat dan Orang Farisi (3): Membebani Orang Lain Tanpa Mau Menyentuhnya


Ciri ketiga dari para ahli Taurat dan orang Farisi dapat kita temukan di ayat renungan kita hari ini. Tuhan Yesus berkata bahwa mereka mengikat beban-beban yang berat (ay. 4a). Dalam Alkitab Terjemahan Baru (TB) terbitan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) hanya digunakan kata “berat”, meskipun dalam bahasa aslinya menggunakan 2 kata yaitu barea (βαρέα) yang berasal dari kata dasar barus (βαρύς) yang dapat diartikan sebagai “berat/menekan”, dan kata dysbastakta (δυσβάστακτα) yang berasal dari kata dusbastaktos (δυσβάστακτος) yang dapat diartikan sebagai “sulit dibawa/sulit ditanggung. Alkitab Terjemahan Lama (TL) terbitan LAI menggunakan terjemahan yang lebih pas yaitu “berat dan sukar dipikul”.

Beban yang berat dan sukar dipikul tersebut adalah tuntutan Hukum Taurat yang sangat rinci dan kaku, yang diajarkan oleh para ahli Taurat dan orang Farisi kepada bangsa Yahudi. Mereka mengajarkan Hukum Taurat dengan sangat rinci, sampai hal terkecil sekalipun. Hal ini mengakibatkan bangsa Yahudi terbiasa hidup dalam syariat agama Yahudi yang ketat, mulai dari cara berpakaian, cara makan (termasuk apa yang boleh dimakan dan yang tidak), hingga cara berdoa dan beribadah, apalagi terkait dengan hari Sabat. Sebenarnya Hukum Taurat diberikan Allah kepada bangsa Yahudi supaya mereka boleh mengenal Allah yang benar. Namun seiring berjalannya waktu, Hukum Taurat pun “dieksploitasi” sedemikian rupa sehingga menjadi suatu ikatan yang harus dilakukan oleh setiap bangsa Yahudi, dengan para ahli Taurat dan orang Farisi sebagai “pengawasnya”.

Kata mengikat dalam bahasa aslinya adalah desmeuó (δεσμεύω) yang juga dapat diartikan sebagai merantai. Ini artinya para ahli Taurat dan orang Farisi membuat umat Yahudi semakin terikat dan terkekang dengan berbagai macam hukum yang pada akhirnya menjadi syariat yang wajib dipenuhi, dan jika tidak melakukan maka akan dikatakan sebagai orang kafir. Akibatnya umat Yahudi memilih untuk melakukan hukum Taurat sebagai “syarat” untuk tidak dipandang kafir. Praktik ibadah keagamaan Yahudi pun turun drastis, dari yang seharusnya ibadah untuk menghadap Tuhan, kini ibadah hanya dilakukan supaya dipandang baik oleh orang lain (yaitu pengawas Yahudi yang adalah para ahli Taurat dan orang Farisi).

Beban tersebut diletakkan oleh para ahli Taurat dan orang Farisi di atas bahu orang (ay. 4b), yaitu di atas bahu umat Yahudi. Mereka berpikir bahwa ibadah dan menjalankan Hukum Taurat adalah beban yang harus ditanggung. Memang melakukan Firman Tuhan harus menjadi tanggung jawab kita, bahkan dalam kebanyakan kasus adalah juga “beban” kita. Namun demikian, yang menjadi permasalahan adalah ketika orang-orang yang meletakkan beban tersebut tidak mau menyentuhnya (ay. 4c). Kata “tidak mau menyentuhnya” dalam ayat 4 tersebut dalam Alkitab TL terjemahan LAI disebutkan sebagai “tidak mau memindahkan/menggerakkan dengan jari mereka”. Artinya adalah bahwa begitu umat menanggung beban, maka para ahli Taurat dan orang Farisi tidak mau mengurusinya lagi. Itu adalah bagian beban yang menjadi tanggung jawab umat, bukan pemimpin agama. Bahkan mereka tidak mau “menggunakan jarinya” untuk membantu umat memindahkan beban berat tersebut.

Ini adalah sikap pemimpin agama yang tidak bertanggung jawab. Seharusnya sebagai pemimpin agama, para ahli Taurat dan orang Farisi memang harus mengajarkan apa yang benar. Tetapi ketika umat kesulitan menanggung bebannya, maka para pemimpin agama harus menolongnya supaya umat mampu menanggung beban mereka. Bahkan yang lebih baik lagi adalah ketika pemimpin agama membantu umat untuk tidak memikul lebih dari apa yang harus mereka pikul, yaitu dengan cara tidak meletakkan beban yang tidak pada porsinya, dan membantu memindahkan beban yang “terlanjur” dipikul oleh umat.

Dalam konteks masa kini, ini adalah gambaran para pemimpin agama atau pemuka agama yang mengajarkan beban-beban keagamaan kepada umatnya. Umat dituntut untuk melakukan hukum atau syariat secara ketat. Tetapi di sisi lain, para pemuka agama ini hanya meletakkannya di bahu umatnya tetapi dirinya sendiri tidak mau melakukannya. Ia hanya senang melihat orang lain berjuang untuk melakukan hukum dan syariat, tetapi dirinya sendiri tidak mau berjuang untuk itu. Ia senang melihat orang lain kesulitan menjalankan hukum-hukum agama tetapi ia sendiri tidak mau ikut sulit. Ketika ditanya, maka para pemuka agama ini hanya berkata “kami kan pemimpin kalian, jadi wajar dong jika kami berbeda dengan kalian”.

Betapa berbahayanya pemimpin agama seperti ini, yang hanya suka menyuruh umat melakukan Firman Tuhan tetapi dirinya sendiri tidak melakukan. Mereka membuat umat menjadi terantai dan terpenjara dalam hukum-hukum agama yang sangat mungkin “mengaburkan” tujuan ibadah sesungguhnya yaitu berhubungan dengan Tuhan, mengerti kehendak Tuhan, dan menyenangkan hati Tuhan. Umat akan terjebak dalam rutinitas agamawi tanpa pernah mengenal Tuhan secara lengkap. Di sisi lain, para pemimpin agama hanya tertawa bahagia dan bersenang-senang di atas beban umatnya, tanpa mau ikut ambil bagian untuk membantu umat mengenal Tuhan. Tidak jarang, pemimpin agama mengkultuskan dirinya sedemikian rupa sehingga hanya dialah orang yang dapat berhubungan dengan Tuhan, dan mengaku bahwa Tuhan hanya berfirman dan memberi wahyu melalui dirinya, sehingga umat harus tunduk sepenuhnya kepada kepemimpinan mereka.



23:4 Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.