Jumat, 10 Februari 2012

Hidup yang Berbuah, dan Berbuah yang Baik


Senin, 13 Februari 2012
Bacaan Alkitab: Yesaya 5:1-7
Ia mencangkulnya dan membuang batu-batunya, dan menanaminya dengan pokok anggur pilihan; ia mendirikan sebuah menara jaga di tengah-tengahnya dan menggali lobang tempat memeras anggur; lalu dinantinya supaya kebun itu menghasilkan buah anggur yang baik, tetapi yang dihasilkannya ialah buah anggur yang asam.” (Yes 5:2)


Hidup yang Berbuah, dan Berbuah yang Baik


Saya sendiri belum pernah memiliki kebun buah yang luas, tetapi ibu saya suka menanami halaman depan rumah saya dengan berbagai macam tanaman, hingga kadang-kadang saya bingung sendiri melihat begitu banyak tanaman yang tumbuh di situ. Halaman saya tersebut berada tepat di atas septic tank sehingga memang hampir semua tanaman di sana pasti tumbuh dengan subur walau tidak diberi pupuk. Suatu ketika, ibu saya mencoba menanam cabe rawit di halaman depan rumah saya tersebut. Saat itu ternyata ada dua tanaman yang tumbuh, yang satu dapat berbuah cabe rawit dengan lebat, tetapi yang satunya tidak kunjung berbuah. Entah apa yang salah, mungkin saja memang gen tanamannya yang agak bermasalah. Selang beberapa waktu, karena tanaman cabe rawit yang kedua tidak kunjung berbuah, akhirnya ibu saya pun menebang tanaman tersebut.

Hal yang sama juga digambarkan dalam kitab Yesaya yang kita baca hari ini. Yesaya mengumpamakan seorang kekasih yang memiliki kebun anggur di lereng bukit yang subur (ay. 1). Kekasihnya tersebut kemudian mengolah lahan kebun anggur itu, mencangkul dan membuang batu-batu, lalu menanaminya dengan bibit anggur terbaik. Tidak hanya itu, ia juga mendirikan menara jaga untuk mengawasi kebunnya dari pencuri dan dari hama, serta sudah menyiapkan tempat pemerasan anggur (ay. 2a). Tentunya setelah melakukan begitu banyak usaha, orang tersebut pasti berharap bahwa kebun anggurnya akan menghasilkan anggur yang baik dan berkualitas tinggi.

Tetapi ketika ternyata anggur yang dihasilkan adalah anggur yang asam dan bukannya anggur yang manis, apakah yang harus dilakukan oleh pemilik kebun anggur tersebut (ay. 2b)? Bisa saja pemilik kebun anggur tersebut mencoba memberi kesempatan satu kali lagi kepada anggur tersebut untuk menghasilkan buah anggur yang manis. Tetapi melihat bahwa tanah tempat kebun anggur tersebut berada adalah tanah yang subur, serta segala macam usaha untuk meningkatkan mutu anggur sudah dilakukan, nyatanya buah yang dihasilkan adalah buah yang masam, tentunya cukup adil rasanya jika pemilik kebun anggur tersebut akhirnya menebang kebun anggurnya. Ia akan menebang pagar yang menjaga kebun anggur tersebut, sehingga tanaman anggur tersebut akan terinjak-injak dan ditumbuhi semak-semak (ay. 6-7). Kebun anggur yang semula sangat indah pun kini menjadi hancur berantakan, bukan karena kebun anggur tersebut tidak berbuah, tetapi karena buah yang dihasilkan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh pemilik kebun anggur tersebut.

Apa yang dimaksudkan sebagai kebun anggur tidak lain adalah bangsa Israel dan Yehuda. Tuhan telah menempatkan bangsa Israel dan Yehuda di tanah Kanaan yang sangat subur, dengan kualitas yang terbaik, Tuhan pun telah memberikan berkatnya dan penyertaannya kepada bangsa Israel dan Yehuda, bahkan berfirman melalui nabi-nabi Tuhan, tapi ternyata bangsa Israel dan Yehuda tetap hidup lalim dan tidak mengingat Tuhan. Akhirnya Tuhan pun mengijinkan bangsa Yehuda dibuang ke Babel selama 70 tahun lamanya. Untuk bangsa Israel justru lebih lagi, mereka ditawan oleh bangsa Asyur dan sudah tidak dapat ditelusuri lagi jejaknya karena sudah bercampur dengan penduduk bangsa-bangsa lainnya.

Demikian juga dengan kita, pernahkah kita melihat diri kita sendiri apakah kita sudah berbuah dalam kehidupan kita, dan juga tidak hanya sekedar berbuah, tetapi juga berbuah yang baik? Tuhan Yesus berkata bahwa kita mengenal pohon dari buahnya. Jika buahnya baik, maka pohonnya juga baik, tetapi jika buahnya tidak baik, maka pohonnya juga tidak baik (Mat 7:17-20). Oleh karena itu marilah kita intropeksi kehidupan kita masing-masing, apakah kehidupan kita sudah menghasilkan buah yang baik? Atau jangan-jangan kita hanya berbuah saja tanpa memperhatikan kualitas buah itu sendiri. Jika belum, mari kita bertobat dan berkomitmen untuk menghasilkan buah yang baik mulai hari ini juga. Jika sudah, mari kita juga meminta Tuhan membantu kita agar kita pun terus dapat menghasilkan buah yang baik melalui kehidupan kita, agar dalam setiap aspek kehidupan kita, nama Tuhan saja yang kita muliakan.



Bacaan Alkitab: Yesaya 5:1-7
5:1 Aku hendak menyanyikan nyanyian tentang kekasihku, nyanyian kekasihku tentang kebun anggurnya: Kekasihku itu mempunyai kebun anggur di lereng bukit yang subur.
5:2 Ia mencangkulnya dan membuang batu-batunya, dan menanaminya dengan pokok anggur pilihan; ia mendirikan sebuah menara jaga di tengah-tengahnya dan menggali lobang tempat memeras anggur; lalu dinantinya supaya kebun itu menghasilkan buah anggur yang baik, tetapi yang dihasilkannya ialah buah anggur yang asam.
5:3 Maka sekarang, hai penduduk Yerusalem, dan orang Yehuda, adililah antara Aku dan kebun anggur-Ku itu.
5:4 Apatah lagi yang harus diperbuat untuk kebun anggur-Ku itu, yang belum Kuperbuat kepadanya? Aku menanti supaya dihasilkannya buah anggur yang baik, mengapa yang dihasilkannya hanya buah anggur yang asam?
5:5 Maka sekarang, Aku mau memberitahukan kepadamu apa yang hendak Kulakukan kepada kebun anggur-Ku itu: Aku akan menebang pagar durinya, sehingga kebun itu dimakan habis, dan melanda temboknya, sehingga kebun itu diinjak-injak;
5:6 Aku akan membuatnya ditumbuhi semak-semak, tidak dirantingi dan tidak disiangi, sehingga tumbuh puteri malu dan rumput; Aku akan memerintahkan awan-awan, supaya jangan diturunkannya hujan ke atasnya.
5:7 Sebab kebun anggur TUHAN semesta alam ialah kaum Israel, dan orang Yehuda ialah tanam-tanaman kegemaran-Nya; dinanti-Nya keadilan, tetapi hanya ada kelaliman, dinanti-Nya kebenaran tetapi hanya ada keonaran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.