Selasa, 14 Februari 2012

Persembahan yang Benar


Kamis, 16 Februari 2012
Bacaan Alkitab: Mikha 6:6-8
Berkenankah TUHAN kepada ribuan domba jantan, kepada puluhan ribu curahan minyak? Akan kupersembahkankah anak sulungku karena pelanggaranku dan buah kandunganku karena dosaku sendiri?” (Mi 6:7)


Persembahan yang Benar


Suatu saat saya pernah berbincang-bincang dengan salah seorang teman saya di kantor saya yang lama. Ia seorang wanita, berusia kepala tiga, dan sampai dengan saat ini belum menikah. Di kantornya, ia memiliki posisi yang sudah lumayan tinggi. Namun karena ia bukan orang Kristen, maka saya juga tidak terlalu berani mengutip ayat-ayat dalam Alkitabnya. Saat itu dia sedang bercerita bahwa ia merasa kok hidupnya sepertinya susah dan banyak sekali masalah, belum lagi dengan usianya yang sudah kepala tiga tapi belum ada pria yang mendekatinya. Lalu, atas saran beberapa temannya, ia mulai bersedekah (istilah dalam agamanya) dengan cara membuat bakti sosial ke panti asuhan dan panti jompo, lalu ketika ada hari raya, ia pun menyumbang hewan kurban atas namanya sendiri. Dan katanya, sejak ia mulai bersedekah, sepertinya hidupnya pun mulai lancar walaupun belakangan ia juga berkata masih banyak masalah-masalah yang terjadi dalam kehidupannya

Saya tidak menghakimi teman saya itu, tetapi saya merasa masih banyak dari kita yang memandang bahwa ketika kita memberi sesuatu kepada Tuhan, entah itu persembahan dalam bentuk uang maupun hal lainnya, itu akan membuat Tuhan senang dan memberkati kita. Lalu saya coba membandingkan kondisinya ketika kita sedang mengurus surat-surat di instansi pemerintah. Jika kita mau memberi sedikit “uang rokok” (yang sebenarnya itu di luar tarif resmi), maka surat atau dokumen kita akan lebih cepat keluar. Tetapi jika kita tidak memberi sesuatu kepada oknum yang mengurusnya, maka surat-surat kita pasti akan lama diurus. Pernahkah kita berpikir apakah kita pernah memperlakukan Tuhan sama seperti itu?

Firman Tuhan hari ini berkata tentang seseorang yang akan pergi menghadap Tuhan dan menyembah Allah yang maha tinggi (ay. 6). Tentunya semua orang yang beragama mengharapkan Tuhan yang ia sembah memberikan berkatNya kepada mereka. Namun orang ini berpikir, dengan apa ia akan pergi menghadap Tuhan? Apakah cukup dengan membawa korban bakaran berupa lembu atau domba? Ia berpikir, apakah Tuhan akan lebih berkenan kepadanya dan akan lebih mengabulkan doanya jika ia mempersembahkan ribuan domba jantan dan puluhan ribu curahan minyak (ay. 7a)? Lebih ekstrim lagi, jika Tuhan memang adalah Tuhan yang berkenan kepada korban-korban, pasti Tuhan akan mengampuni dosa-dosanya jika ia mempersembahkan korban yang bernilai “tinggi”, antara lain dengan mengorbankan anaknya sendiri (ay. 7b).

Hal ini merupakan pandangan yang salah yang dianut oleh kebanyakan bangsa Israel pada saat itu. Mereka tahu bahwa Tuhan Allah mereka adalah Allah yang luar biasa dashyat dan perkasa, namun mereka mencampurkan ajaran Taurat yang diajarkan Musa dengan penyembahan dewa-dewa di Kanaan. Salah satu dewa yang umum disembah oleh bangsa Israel adalah dewa Molokh, dimana salah satu ajarannya adalah membuat bukit-bukit pengorbanan, dan mempersembahkan anak-anak mereka kepada dewa Molokh tersebut. Mereka berpendapat bahwa semakin besar “kualitas atau harga” korban yang dipersembahkan, maka semakin banyak juga berkat yang akan diterima. Padahal Tuhan sendiri berkata bahwa Tuhan tidak pernah memerintahkan hal tersebut (Yer 32:35).

Lalu bagaimana seharusnya kita beribadah kepada Tuhan? Apakah berarti kita tidak perlu mempersembahkan sesuatu kepada Tuhan? Apakah kita tidak perlu memberi kolekte, perpuluhan, dan persembahan-persembahan lainnya ke gereja? Bukan seperti itu, di satu sisi kita pun wajib memberi apa yang seharusnya kita beri kepada Tuhan. Perpuluhan misalnya, seberapa banyak penghasilan yang kita terima, kita wajib mempersembahkan 10% dari penghasilan kita kepada Tuhan. Itulah jatah dan hak para hamba-hamba Tuhan yang melayani pekerjaan Tuhan. Demikian juga dengan kolekte dan persembahan lainnya. Tetapi apa yang dimaksudkan dalam bacaan ini adalah ketika kita memberi persembahan, kita harus memiliki motivasi yang benar di hadapan Tuhan. Kita tidak memberi persembahan agar kemudian doa kita didengar dan dijawab Tuhan, atau supaya Tuhan nanti memberkati kita lebih banyak lagi, bukan itu alasan yang tepat menurut saya, tetapi kita seharusnya memberi persembahan karena kita merasa bahwa Tuhan sudah banyak memberi kepada kita, sehingga kita pun memberi persembahan sebagai ucapan syukur kita atas segala berkat yang telah kita terima.

Jika kita hanya memberi persembahan dengan tujuan agar untuk menghapus dosa kita, lalu keesokan harinya kita berbuat dosa lagi, itu adalah pandangan yang picik. Persembahan harus dipandang sebagai ketaatan kita dan ketundukan kita terhadap Tuhan yang kita sembah. Tentunya jika kita mau memberi persembahan sesuai dengan apa yang ditulis dalam Alkitab, kita pun juga harus melakukan perintah Tuhan lainnya di dalam Alkitab. Persembahan yang kita berikan tidak menghapus kewajiban kita untuk melakukan perintah-perintah Tuhan lainnya kepada kita. Dalam ayat 8 bacaan Alkitab kita hari ini dikatakan bahwa Tuhan pun juga menuntut kita untuk berlaku adil, setia, dan rendah hati di hadapan Tuhan. Jadi, persembahan yang paling baik adalah ketika kita mempersembahkan diri kita dan kehidupan kita untuk Tuhan, yang artinya adalah kita mau melakukan apa yang Tuhan mau dalam kehidupan kita, kita mau tunduk terhadap kehendak Tuhan, itu adalah persembahan yang sejati (Rm 12:1).


Bacaan Alkitab: Mikha 6:6-8
6:6 "Dengan apakah aku akan pergi menghadap TUHAN dan tunduk menyembah kepada Allah yang di tempat tinggi? Akan pergikah aku menghadap Dia dengan korban bakaran, dengan anak lembu berumur setahun?
6:7 Berkenankah TUHAN kepada ribuan domba jantan, kepada puluhan ribu curahan minyak? Akan kupersembahkankah anak sulungku karena pelanggaranku dan buah kandunganku karena dosaku sendiri?"
6:8 "Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?"


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.