Selasa, 07 Februari 2012

Keluar dari Zona Nyaman


Kamis, 9 Februari 2012
Bacaan Alkitab: Kejadian 12:1-6
Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: "Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu;” (Kej 12:1)


Keluar dari Zona Nyaman


Saya membayangkan apa yang dirasakan seorang bayi yang berada dalam kandungan ibunya. Sekitar sembilan bulan lamanya ia menikmati suasana yang hangat dan tenang, gizi yang diserap dari makanan ibunya melalui ari-ari, serta keamanan dan kenyamanan yang dirasakan selama dalam kandungan. Saya berpikir tentunya seorang bayi akan senang berada dalam kandungan ibunya bukan? Tetapi suatu saat nanti, suka atau tidak suka, bayi tersebut harus mau keluar dari zona nyaman di dalam kandungan ibunya. Pada usia kehamilan sembilan bulan, sang bayi harus keluar dan merasakan dunia yang sebenarnya. Seorang bayi hanya dapat bertumbuh dan menjadi dewasa ketika ia keluar dari kandungan ibunya dan lahir ke dunia ini. Jika bayi tersebut tidak mau keluar, maka lambat laun ia akan mati, karena memang sudah kodratnya bagi bayi tersebut untuk lahir setelah sekitar sembilan bulan ada dalam perut ibunya.

Demikian juga dengan apa yang dialami Abram dalam bacaan Alkitab kita hari ini. Saya yakin bahwa Abram adalah seorang yang berasal dari keluarga yang cukup kaya, walaupun hal ini tidak disebutkan dalam Alkitab. Ia bisa saja tinggal di Haran, dan memulai usaha di sana. Jika kita melihat ke peta Alkitab di bagian belakang Alkitab kita, kita dapat melihat bahwa kota Haran terletak di antara dua sungai besar yaitu sungai Efrat dan sungai Tigris. Daerah tersebut merupakan daerah yang sangat subur dan menjadi pusat peradaban sejarah dunia. Lalu, mengapa Abram harus keluar dari negeri yang subur itu?

Tuhan berfirman kepada Abram untuk pergi dari negerinya, negeri bapanya, dan negeri sanak saudaranya ke negeri yang akan Tuhan tunjukkan (ay. 1). Perhatikan kata “akan” yang disebutkan dalam ayat 1, di sini Tuhan masih belum mengatakan tujuan Abram pergi. Tetapi satu hal yang Tuhan ingin Abram lakukan adalah pergi meninggalkan segala kaum keluarga dan masa lalunya. Tuhan sendiri tidak menjanjikan negeri yang lebih subur atau negeri yang lebih besar daripada kota Haran, tetapi janji-janji Tuhan adalah janji-janji yang jauh melebihi hal tersebut. Tuhan berjanji akan membuat Abram menjadi bangsa yang besar, Tuhan berjanji akan memberkati Abram, Tuhan berjanji akan membuat nama Abram menjadi mashyur, dan Tuhan berjanji Abram akan menjadi saluran berkat (ay. 2-3). Jika kita perhatikan, tidak ada janji Tuhan akan negeri yang lebih subur daripada kota asal Abram.

Walaupun demikian, Abram taat kepada Tuhan. Ia pergi sesuai dengan apa yang difirmankan Tuhan kepadanya (ay. 4). Apa yang membuat kita lebih kagum lagi adalah usia Abram yang berumur 75 tahun ketika ia meninggalkan Haran. Jika kita baca di ayat-ayat selanjutnya, Abram yang kemudian bernama Abraham meninggal dunia pada usia 175 tahun. Artinya adalah bahwa Abram sudah menjalani hampir setengah usia kehidupannya saat memutuskan untuk pergi dari kota Haran. Saya yakin saat itu Abram pun sudah memiliki tanah dan pekerjaan yang bagus di kota Haran. Tetapi Abram melepaskan itu semua, dan bersama dengan Sara, Lot, segala harta benda dan orang-orang yang diperoleh mereka, akhirnya rombongan Abram pindah ke Kanaan (ay. 5). Saat tiba di Kanaan pun, Tuhan tidak langsung memberikan tanah tersebut kepada Abram. Tuhan tidak membawa Abram ke daerah yang subur namun kosong, sehingga Abram dapat langsung menempatinya. Bukan demikian halnya, tetapi Alkitab mengatakan bahwa pada saat Abram tiba di tanah Kanaan, ternyata sudah ada orang-orang Kanaan yang tinggal dan mendiami  tanah tersebut.

Tuhan membawa Abram keluar dari zona nyamannya di kota Haran dan membawanya melalui perjalanan jauh, melintasi padang gurun dan padang rumput, hingga akhirnya Abram tiba di Kanaan. Setibanya di sana, ternyata tanah tersebut sudah ditinggali oleh orang-orang Kanaan. Apakah ini berarti bahwa rencana Tuhan adalah rencana yang gagal? Jika kita hanya melihat sebatas sudut pandang manusia, mungkin kita dapat berkata bahwa rencana Tuhan itu adalah rencana yang gagal. Tetapi jika kita melihat dari sudut pandang Tuhan, maka sesungguhnya kita akan mengerti bahwa hal tersebut pun masuk dalam rencana dan rancangan Tuhan.

Jika Abram tidak mau berangkat, mungkin Abram tidak akan disebut “Bapa orang beriman”, dan tidak akan ada bangsa Israel, tidak akan ada raja Daud, dan mungkin juga tidak akan ada Yesus yang lahir melalui keturunan Abram. Tetapi karena Abram taat dan mau tunduk pada rencana Tuhan, akhirnya Tuhan memakai Abram menjadi bagian dari rencana Tuhan yang luar biasa untuk menyelamatkan umat manusia. Bagaimana dengan kita? Adakah di tahun 2012 ini Tuhan sedang menarik kita dari zona nyaman kita? Mungkin kita mengeluh kepada Tuhan, atau mungkin juga kita protes kepada Tuhan karena selama ini kita sedang mengalami hal-hal yang nyaman. Tetapi mari kita belajar seperti Abram, yang tidak mengeluh tetapi hanya tunduk dan taat akan perintah Tuhan, dan Tuhan akan membuat segala sesuatunya indah pada waktuNya. Keluar dari zona nyaman merupakan ujian bagi kita apakah iman kita kepada Tuhan melebihi logika kita, apakah ketaatan kita kepada Tuhan mampu mengalahkan keinginan untuk aman dan nyaman di kondisi kita saat ini. Jika kita telah mampu keluar dari zona nyaman kita, Tuhan pasti tidak akan meninggalkan kita, Ia akan menyertai kita dan memberkati kita selalu.


Bacaan Alkitab: Kejadian 12:1-6
12:1 Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: "Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu;
12:2 Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat.
12:3 Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat."
12:4 Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya, dan Lot pun ikut bersama-sama dengan dia; Abram berumur tujuh puluh lima tahun, ketika ia berangkat dari Haran.
12:5 Abram membawa Sarai, isterinya, dan Lot, anak saudaranya, dan segala harta benda yang didapat mereka dan orang-orang yang diperoleh mereka di Haran; mereka berangkat ke tanah Kanaan, lalu sampai di situ.
12:6 Abram berjalan melalui negeri itu sampai ke suatu tempat dekat Sikhem, yakni pohon tarbantin di More. Waktu itu orang Kanaan diam di negeri itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.