Kamis, 06 Desember 2012

Jangan Habiskan Minyakmu



Senin, 10 Desember 2012
Bacaan Alkitab: Matius 25:1-13
Gadis-gadis yang bodoh berkata kepada gadis-gadis yang bijaksana: Berikanlah kami sedikit dari minyakmu itu, sebab pelita kami hampir padam.” (Mat 25:8)


Jangan Habiskan Minyakmu


Suatu ketika, di  gereja saya ada seorang jemaat baru yang baru pindah dan beribadah di gereja kami. Dari luar, orang ini terlihat sangat berapi-api. Ia seringkali maju untuk bersaksi di ibadah minggu, walaupun kesaksiannya itu hanyalah sederhana. Ia sangat rajin beribadah walaupun kondisi keuangannya juga tidak terlalu mapan. Semua jemaat gereja kami melihat orang tersebut sangat rajin dan menyala-nyala dalam mengiring Tuhan. Akan tetapi suatu ketika, karena ada suatu masalah (yang saya sendiri tidak tahu apa masalah sebenarnya), orang tersebut tiba-tiba langsung lenyap begitu saja dan pindah gereja. Saya kemudian merenung, apa yang salah dengan orang ini? Bukankah ia sebenanya memiliki semangat yang luar biasa dalam mengiring Tuhan, kenapa bisa kok ia langsung padam dan hilang? Jawabannya sederhana, orang tersebut menghabiskan roh yang menyala-nyala tanpa pernah mengisi bahan bakarnya.

Dalam bacaan Alkitab kita hari ini, kita akan melihat suatu perumpamaan yang saya yakin pasti semua orang pernah membaca hal ini. Akan tetapi saya mau melihat dari sudut pandang yang agak berbeda. Dalam perumpamaan tersebut dikisahkan bahwa ada sepuluh gadis yang mengambil pelitanya dan pergi menyongsong mempelai laki-laki (ay. 1). Lima di antaranya bodoh, dan lima di antaranya bijaksana (ay. 2). Alkitab mengatakan bahwa gadis yang bodoh itu membawa pelita tanpa minyak atau bahan bakar (ay. 3), sedangkan gadis yang bijaksana membawa pelita dan juga minyak sebagai bahan bakar cadangan (ay. 4).

Sampai di sini semua jelas, bahwa kedua kelompok gadis tersebut sama-sama membawa pelita, tetapi kelompok yang bodoh tidak membawa minyak, dan kelompok yang bijaksana membawa cadangan minyak. Lalu apa hubungannya? Sebenarnya jika para gadis yang bodoh itu sedikit “bijaksana”, dan mereka sadar bahwa mereka tidak membawa minyak, maka mereka tidak akan menghabiskan minyak mereka dengan cara menyetel pelita ke garis maksimum yang akan memboroskan minyak mereka. Beda halnya dengan para gadis yang bijaksana yang membawa cadangan minyak. Mereka dapat dengan leluasa mengatur besar kecilnya nyala pelita mereka karena mereka membawa cadangan minyak. Bahkan jika cadangan yang dibawa cukup banyak, mereka tidak perlu khawatir akan kehabisan minyak.

Singkat cerita, kedua kelompok gadis tersebut tertidur karena menunggu mempelai yang tak kunjung datang (ay. 5), dan kemudian ketika mempelai datang, para gadis pun membereskan pelita mereka (ay. 6-7). Saat itulah para gadis yang bodoh baru sadar bahwa minyak mereka hampir habis dan pelita mereka hampir padam, sehingga mereka meminta minyak kepada para gadis yang bijaksana (ay. 8). Para gadis yang bijaksana ini pun sadar bahwa mereka tidak boleh mengambil resiko membagi minyak, karena walaupun sudah terdengar suara orang berseru, “Mempelai datang”, tetapi Mempelai tersebut baru akan datang dan belum datang secara fisik. Entah berapa lama lagi waktu yang dibutuhkan agar Mempelai tersebut benar-benar datang. Para gadis yang bijaksana itu pun menyarankan agar para gadis yang bodoh membeli minyak di penjual minyak (ay. 9).

Para gadis yang bodoh itu pun melakukan apa yang disarankan para gadis yang bijaksana. Dan bodohnya lagi, ketika mereka pergi untuk membeli minyak, sang Mempelai datang dan membawa para gadis bijaksana yang telah siap sedia masuk ke dalam pesta perjamuan kawin (ay. 10). Ketika para gadis bodoh tersebut sudah memperoleh minyak tambahan dan kembali ke tempat semula, mereka menemukan pintu sudah ditutup dan mereka tidak bisa masuk (ay. 11-13).

Jika kita perhatikan, apa sebenarnya kesalahan para gadis yang bodoh itu? Seperti yang saya sudah singgung di atas, permasalahannya adalah mereka membiarkan pelita mereka padam. Maksud saya adalah seperti ini. Tidak ada yang menyuruh mereka untuk menyalakan pelita dari awal. Jika mereka tidak membawa minyak, seharusnya mereka menghemat minyak mereka dan baru menyalakan pada saat Mempelai datang.

Hal ini berbicara tentang roh dan semangat untuk mengiring dan melayani Tuhan. Kita yang tahu ukuran diri kita masing-masing, berapa banyak roh dan semangat untuk mengiring dan melayani Tuhan. Memang betul Alkitab juga memerintahkan kita agar roh kita menyala-nyala dan melayani Tuhan (Rm 12:11). Tetapi sebelum kita menyala-nyala, kita perlu melihat cadangan minyak kita. Berapa banyak minyak yang kita miliki? Apakah seukuran kapal tanker, mobil tangki, jerigen, atau hanya sebanyak minyak di korek api, yang mungkin hanya menyala beberapa jam?

Dalam konteks ini, ada dua hal yang dapat kita lakukan jika kapasitas minyak kita terbatas. Satu, yaitu meningkatkan kapasitas minyak kita, yaitu dengan cara banyak membaca Firman Tuhan, mendengarkan Firman Tuhan, dan memiliki waktu pribadi dengan Tuhan. Atau yang kedua, jangan menghabiskan minyak kita begitu saja, tetapi bijaksanalah menggunakan minyak yang kita miliki. Bukan berarti kita tidak boleh melayani Tuhan secara luar biasa, tetapi saya perhatikan, orang yang belum siap melayani tetapi tiba-tiba begitu semangat melayani sana-sini, melakukan apapun dengan semangat yang berlebihan, biasanya cepat kendor kembali dan langsung padam.

Lakukan pelayanan kita sesuai dengan bagian kita. Jika memang panggilan Tuhan bagi kita untuk melayani di gereja kita, lakukanlah itu dengan setia, tidak perlu berambisi untuk melayani di tingkat nasional atau bahkan internasional, karena mungkin kita sudah menghabiskan cadangan minyak kita tanpa pernah kita meningkatkan kapasitas minyak kita. Jangan menjadi bodoh dengan tidak pernah memantau minyak yang kita miliki, tetapi jadilah bijaksana yang selalu mempersiapkan minyak kita, sehingga pada saatnya nanti, kita tetap setia mengiring dan melayani Tuhan, tidak hilang di tengah jalan.


Bacaan Alkitab: Matius 25:1-13
25:1 "Pada waktu itu hal Kerajaan Sorga seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyongsong mempelai laki-laki.
25:2 Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana.
25:3 Gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak,
25:4 sedangkan gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam buli-buli mereka.
25:5 Tetapi karena mempelai itu lama tidak datang-datang juga, mengantuklah mereka semua lalu tertidur.
25:6 Waktu tengah malam terdengarlah suara orang berseru: Mempelai datang! Songsonglah dia!
25:7 Gadis-gadis itu pun bangun semuanya lalu membereskan pelita mereka.
25:8 Gadis-gadis yang bodoh berkata kepada gadis-gadis yang bijaksana: Berikanlah kami sedikit dari minyakmu itu, sebab pelita kami hampir padam.
25:9 Tetapi jawab gadis-gadis yang bijaksana itu: Tidak, nanti tidak cukup untuk kami dan untuk kamu. Lebih baik kamu pergi kepada penjual minyak dan beli di situ.
25:10 Akan tetapi, waktu mereka sedang pergi untuk membelinya, datanglah mempelai itu dan mereka yang telah siap sedia masuk bersama-sama dengan dia ke ruang perjamuan kawin, lalu pintu ditutup.
25:11 Kemudian datang juga gadis-gadis yang lain itu dan berkata: Tuan, tuan, bukakanlah kami pintu!
25:12 Tetapi ia menjawab: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya aku tidak mengenal kamu.
25:13 Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.