Kamis, 06 Desember 2012

Karakter Hamba Tuhan



Selasa, 4 Desember 2012
Bacaan Alkitab: 2 Timotius 2:23-26
Sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang. Ia harus cakap mengajar, sabar dan dengan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan” (2 Tim 2:24-25a)


Karakter Hamba Tuhan


Suatu ketika saya diminta untuk melayani di persekutuan hamba-hamba Tuhan di suatu kota. Para hamba-hamba Tuhan yang datang minimal adalah para pendeta, yang tentunya saya yakin sudah memiliki kualitas kehidupan rohani yang teruji. Saat itu saya berpikir, “Wah, saya pasti bisa banyak belajar dari para hamba-hamba Tuhan. Pasti persekutuannya akan menjadi luar biasa, dan saya bisa melihat bagaimana karakter hamba-hamba Tuhan tersebut yang dapat saya tiru”.

Singkat cerita, acara berjalan dengan lancar, hingga pada akhir acara ada acara ramah tamah. Panitia sudah menyiapkan makanan berupa nasi kotak, dan di luar gedung gereja, disiapkan juga sejumlah air mineral dalam kemasan gelas bagi mereka yang mungkin masih haus. Saat itu saya pun sudah selesai melayani dan saya membantu menyiapkan makanan dan air mineral tersebut. Akan tetapi karena saya juga tidak “ngeh”, saya lupa menyiapkan sedotannya di atas meja (sedotannya masih ada di kardus air mineral). Saat itu ada seorang hamba Tuhan yang nyeletuk “Gimana sih masa dikasih air mineral tapi nggak disiapin sedotannya? Gimana mau minum?”.

Saat itu, saya sangat terkejut dan berpikir, kok bisa ya orang yang sudah jadi pendeta mengucapkan kalimat seperti itu? Bukankah ia bisa saja meminta kepada saya atau siapa saja yang sedang berada di situ, “Boleh saya minta sedotannya?”. Bukankah hal tersebut lebih halus dan lebih alkitabiah? Tidak sampai di sana, saya pun melihat bahwa banyak hamba Tuhan yang makan di dalam gedung gereja tetapi hanya meletakkan dus kosong berisi sisa makanan di bawah kursi di dalam gereja. Memang tidak sepenuhnya salah, tetapi apa tidak sebaiknya mereka membawa dus kosongnya dan menaruhnya ke tempat sampah, atau jika mereka tidak mengetahui tempat sampahnya dimana minimal mereka bisa menanyakan kepada panitia. Ini gedung gereja bung, bukan gedung untuk acara kawinan, masa iya habis makan lalu langsung ditaruh begitu saja?

Setelah acara itu saya agak protes kepada Tuhan, “Tuhan, kok begini ya? Apa mereka tidak sadar bahwa mereka itu adalah pendeta? Bukankah seharusnya pendeta lebih memiliki karakter Kristus dibanding saya yang hanyalah jemaat biasa?”. Saat itu Tuhan pun sepertinya berbicara dengan halus, “Memang tidak semua pendeta memiliki karakter Kristus, tetapi apakah kamu jauh lebih baik daripada para pendeta tersebut?”. Kalimat Tuhan tersebut pun membuat saya tersadar dan meminta ampun karena sudah “menghakimi” orang lain, dan menyadari bahwa memang namanya pendeta juga manusia yang tidak sempurna.

Akan tetapi menarik bagaimana Paulus mengajar Timotius, anak rohaninya, untuk bersikap sebagai hamba Tuhan yang sejati, yang memiliki karakter Kristus dalam kehidupannya. Nasihat paulus memang sederhana yaitu menghindari persoalan yang dicari-cari, bodoh, dan tidak layak, karena semua itu mengarah kepada pertengkaran (ay. 23). Paulus menekankan bahwa sebagai seorang hamba Tuhan, Timotius tidak boleh terpancing dengan hal-hal atau percakapan yang sia-sia dan tidak berguna, yang semua itu akan memancing Timotius untuk bertengkar. Bertengkar itu hanya akan memancing kita untuk mengeluarkan perkataan yang sia-sia dan tidak berguna. Paulus dalam suratnya yang lain kepada jemaat Efesus juga meminta agar jangan ada perkataan kotor yang keluar dari mulut kita (Ef 4:29).

Seorang hamba Tuhan juga harus ramah terhadap semua orang (ay. 24a). Ramah merupakan salah satu karakter Kristus. Ramah ini bukan ramah yang dibuat-buat seperti para sales yang selalu tersenyum agar orang lain mau membeli produk yang ditawarkan, tetapi ramah ini adalah ramah yang berasal dari hati dan dari Kristus sendiri. Seorang hamba Tuhan boleh “keras” di atas mimbar, tetapi harus ramah ketika sudah turun dari mimbar.

Seorang hamba Tuhan juga harus cakap mengajar (ay. 24b). Seorang hamba Tuhan harus memperlengkapi diri mereka sedemikian rupa dengan segala macam ilmu dan kompetensi sehingga harus bisa menjadi hamba Tuhan yang kompeten dan mampu mengajar dengan benar, yaitu sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan. Seorang hamba Tuhan harus mempersiapkan khotbah dengan sungguh-sungguh dan sebaik-baiknya sehingga jangan sampai khotbah yang disampaikan terkesan terburu-buru atau tidak disiapkan dengan baik.

Selain itu, seorang hamba Tuhan juga harus sabar dan lemah lembut (ay. 24c & 25), terutama kepada orang-orang yang suka melawan. Inilah karakter Kristus. Hamba Tuhan akan menghadapi banyak orang yang tidak suka dengannya. Ada yang berusaha menjatuhkan mereka, ada yang menghujat mereka, ada yang mengganggu mereka, dan lain sebagainya. Dibutuhkan kesabaran dan kelemahlembutan yang luar biasa bagi seorang hamba Tuhan. Saya sendiri pernah diceritakan teman saya bahwa seorang hamba Tuhan yang sudah terkenal, di akun twitternya banyak orang yang “mencobai” dirinya. Puji Tuhan karena sampai saat ini hamba Tuhan tersebut tetap tidak terpancing dan tetap melayani Tuhan dengan baik.

Seorang hamba Tuhan pun harus memiliki jiwa yang rindu akan pertobatan (ay. 26). Ia harus memiliki kerinduan agar banyak orang diselamatkan. Ia harus memiliki doa yang luar biasa, mendoakan orang lain agar menerima Kristus, bahkan mendoakan orang-orang yang memusuhinya. Seorang hamba Tuhan yang tidak punya belas kasihan terhadap orang lain sesungguhnya belum mengerti mengapa ia menjadi hamba Tuhan.

Semua hal di atas merupakan karakter minimal yang harus dimiliki seorang hamba Tuhan. Bahkan kita yang belum menjadi hamba Tuhan (baca: Pendeta) sekalipun juga harus memiliki karakter tersebut. Jangan kita menjadi batu sandungan bagi orang lain. Akan tetapi mari kita berusaha agar hidup kita menjadi hidup yang memuliakan Tuhan, dan orang lain bisa melihat Tuhan dari kehidupan kita. Seorang hamba Tuhan harus mencerminkan karakter Tuhan dalam kehidupan kita, jika tidak demikian, maka patut dipertanyakan, sebenarnya kita itu hamba siapa?


Bacaan Alkitab: 2 Timotius 2:23-26
2:23 Hindarilah soal-soal yang dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak. Engkau tahu bahwa soal-soal itu menimbulkan pertengkaran,
2:24 sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang. Ia harus cakap mengajar, sabar
2:25 dan dengan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan, sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran,
2:26 dan dengan demikian mereka menjadi sadar kembali, karena terlepas dari jerat Iblis yang telah mengikat mereka pada kehendaknya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.