Jumat, 17 Maret 2017

Kewaspadaan Umat Perjanjian Baru (10): terhadap Ketertinggalan



Sabtu, 18 Maret 2017
Bacaan Alkitab: Ibrani 4:1-2
Sebab itu, baiklah kita waspada, supaya jangan ada seorang di antara kamu yang dianggap ketinggalan, sekalipun janji akan masuk ke dalam perhentian-Nya masih berlaku. (Ibr 4:1)


Kewaspadaan Umat Perjanjian Baru (10): terhadap Ketertinggalan


Beberapa waktu yang lalu saya hendak berpergian ke luar kota naik kereta api. Saya tiba di stasiun kira-kira 15 menit sebelum waktu keberangkatan kereta api saya. Ketika saya hendak mengantri untuk boarding (masuk ke dalam peron stasiun), pada waktu itu ada kereta api lain yang hendak berangkat. Ketika peluit mulai ditiup, kereta api tersebut mulai bergerak perlahan-lahan. Pada waktu itu, datang seorang penumpang yang seharusnya naik ke atas kereta api yang mulai berjalan tersebut. Ia hendak lari mengejar kereta (pada waktu itu jalannya masih cukup pelan), namun dilarang oleh petugas karena kereta tersebut sudah berjalan dan tidak dapat dihentikan kembali (akan berbahaya jika ia tetap nekad mencoba naik). Penumpang tersebut mungkin hanya terlambat sekitar 1 menit, tetapi dampaknya ternyata cukup fatal, ia ketinggalan kereta, tiketnya hangus, dan ia harus mencari tiket lain (seperti tiket kereta api jadwal selanjutnya atau tiket moda transportasi lainnya).

Ketinggalan itu memang tidak mengenakkan. Ketinggalan kereta, ketinggalan pesawat, ketinggalan naik kelas, ataupun ketinggalan hal lainnya. Akan tetapi ketinggalan yang satu ini begitu berbahaya sehingga kita perlu waspada. Alkitab mengatakan supaya kita (semua orang percaya) waspada, yaitu agar jangan ada di antara kita yang dianggap ketinggalan (ay. 1a). Kata ketinggalan pada ayat 1 tersebut dalam bahasa aslinya adalah kataleipó (καταλείπω), yang juga dapat diartikan sebagai “dibiarkan”. Menjadi menarik melihat kalimat selanjutnya yang dalam Alkitab Bahasa Indonesia Terjemahan Baru disebutkan sebagai “sekalipun janji akan masuk ke dalam perhentian-Nya masih berlaku” (ay. 1b). Dalam bahasa aslinya, frasa “masih berlaku” ini menggunakan kata hustereó (ὑστερέω) yang sebenarnya lebih tepat bermakna “datang terlambat, tertinggal (dalam perlombaan) sehingga gagal mencapai garis akhir)”.

Jadi, penulis kitab Ibrani ini ingin mengatakan bahwa janji Tuhan tetap berlaku, persoalannya bukan pada Tuhan tetapi pada kita semua, apakah kita mau berjuang untuk masuk ke dalam janji perhentian Tuhan tersebut ataukah kita memilih untuk berlambat-lambat dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita (Ibr 12:1). Pilihan ada di tangan kita. Kita seharusnya melakukan perlombaan dengan setia dan tekun, berlari dengan tujuan yang jelas supaya kita bisa mencapai garis akhir. Seorang pelari profesional tidak akan bersantai-santai dalam lintasan lari. Ia akan berlari begitu rupa sehingga mencapai garis finis sesegera mungkin. Kita hidup dalam suatu perlombaan, bukan dalam suatu “jalan santai”. Oleh karena itu jika kita berlambat-lambat (tidak berusaha untuk menjadi sempurna secepat mungkin), suatu saat kita akan dianggap ketinggalan.

Pada masa Perjanjian Lama, Tuhan mengikat perjanjian dengan bangsa Israel/Yahudi. Dalam hal ini Tuhan ingin menjadikan bangsa Israel/Yahudi sebagai bangsa pilihan, yaitu bangsa yang mengenal Tuhan dengan benar, bangsa yang hidup menurut tuntunan Tuhan dan bangsa yang melakukan perintah-Nya dengan sempurna. Pada saat bangsa Israel baru keluar dari tanah Mesir, Tuhan masih sabar ketika bangsa Israel meminta air, mengeluh kepada Tuhan, dan lain sebagainya. Namun seiring berjalannya waktu, ketika mereka sudah menetap di tanah Kanaan dan mulai mapan, Tuhan juga menuntut mereka untuk menjadi  bangsa yang benar. Sayangnya, seiring berjalannya waktu bangsa Israel tidak kunjung berubah menjadi lebih baik tetapi justru menjadi lebih jahat. Tuhan mengutus nabi-nabi-Nya kepada bangsa Israel tetapi mereka tidak mau mendengarkan suara Tuhan. Ini yang dikatakan bahwa pemberitaan Firman tidak berguna bagi mereka (ay. 2a). Sehingga pada suatu titik tertentu, Tuhan menganggap bangsa Israel sudah ketinggalan sehingga mereka terbuang dari tanah perjanjian mereka.

Dalam hal ini janji Tuhan sebenarnya tetap ada, namun bangsa Israel sendiri yang membuat diri mereka tertinggal dalam perlombaan hidupnya. Oleh karena itu, mereka pun akhirnya menuai dampak dari apa yang mereka tabur selama ini. Hal ini juga menjadi peringatan bagi kita, sudah berapa lama kita menjadi orang Kristen? 1 tahun? 5 tahun? 10 tahun? 25 tahun? Atau 50 tahun? Coba kita ukur diri kita, kira-kira apakah kita masih ada dalam perlombaan atau sudah tertinggal jauh dari posisi kita yang seharusnya. Jika kita tertinggal, mungkin selama ini kita sudah banyak mendengar Firman tetapi Firman itu tidak pernah kita rawat supaya bertumbuh dalam hati kita (ay. 2b). Ini yang berbahaya, karena suatu saat jika kita tidak bertumbuh secara proporsional, kita ibarat pohon yang seharusnya sudah menghasilkan buah tetapi belum menghasilkan buah. Jika waktu Tuhan bagi kita sudah habis, kita bisa dianggap ketinggalan dan ditebang (Luk 13:6-9). Waspadalah supaya kita tidak sampai ketinggalan dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.



Bacaan Alkitab: Ibrani 4:1-2
4:1 Sebab itu, baiklah kita waspada, supaya jangan ada seorang di antara kamu yang dianggap ketinggalan, sekalipun janji akan masuk ke dalam perhentian-Nya masih berlaku.
4:2 Karena kepada kita diberitakan juga kabar kesukaan sama seperti kepada mereka, tetapi firman pemberitaan itu tidak berguna bagi mereka, karena tidak bertumbuh bersama-sama oleh iman dengan mereka yang mendengarnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.