Jumat, 17 Maret 2017

Kewaspadaan Umat Perjanjian Baru (12): terhadap Segala Berhala



Senin, 20 Maret 2017
Bacaan Alkitab: 1 Yohanes 5:19-21
Anak-anakku, waspadalah terhadap segala berhala. (1 Yoh 5:21)


Kewaspadaan Umat Perjanjian Baru (12): terhadap Segala Berhala


Sejak zaman Perjanjian Lama, Tuhan sangat benci terhadap kelakuan bangsa Israel yang menyembah berhala selain Tuhan. Oleh sebab itu perintah pertama dalam 10 Perintah Tuhan kepada bangsa Israel adalah “Jangan ada padamu allah lain dihadapan-Ku” (Kel 20:3). Setiap allah lain selain Tuhan Allah (yang mereka kenal dengan sebutan YAHWEH) adalah berhala. Setiap kali mereka menyembah dewa-dewa lain, maka itu adalah perzinahan di hadapan Tuhan.

Saat ini, orang Kristen mungkin berkata, “kami tidak menyembah berhala; kami tidak membuat patung lalu sujud menyembah kepadanya; kami berbeda dengan orang Romawi pada saat kitab Perjanjian Baru ditulis, karena mereka menyembah dewa-dewa di kuil-kuil, menyembah patung-patung, sedangkan kami hanya menyembah Tuhan di gereja”, dan sebagainya. Persoalannya, apa yang dimaksud dengan berhala? Apakah berhala itu hanyalah patung yang disembah? Mengapa Yohanes sampai menulis kepada jemaat supaya mereka waspada terhadap berhala?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, kita harus membedah kata berhala dalam bahasa aslinya, yaitu eidólon (εἴδωλον). Kata eidólon ini secara singkat dapat diartikan sebagai suatu rupa (gambar 2 dimensi atau patung 3 dimensi) yang disembah sebagai dewa-dewa kafir. Perlu dipahami bahwa istilah kafir hanya digunakan oleh agama-agama samawi (Yahudi, Kristen, Islam), untuk merujuk kepada orang-orang yang tidak menyembah Tuhan mereka. Kata eidólon ini selanjutnya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai idol, yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai berhala atau idola.

Jadi dari pengertian tersebut jelas bahwa berhala adalah sesuatu yang disembah di luar Tuhan yang benar. Kita harus mengerti benar makna kata “menyembah”, dimana Alkitab menggunakan kata “proskuneo” yang artinya “memberi nilai tinggi pada obyek tertentu”. Jika kita menyembah Allah, maka kita harus memberi nilai tinggi kepada Allah. Jika kita juga memberi nilai tinggi kepada “benda” lain maka itu sama saja dengan menyembah benda tersebut, dan benda tersebut akan menjadi berhala bagi kita.

Oleh sebab itu, bacaan Alkitab kita hari ini dimulai dengan fakta bahwa kita berasal dari Allah, sedangkan seluruh dunia sedang berada di bawah kuasa si jahat (ay. 19). Bagi kita yang berasal dari atas, tentunya kita harus menomorsatukan Allah dalam segala hal. Inilah yang disebut dengan memberi nilai tinggi kepada Tuhan. Terkait dengan hal tersebut, kita harus bisa mengenal Tuhan dengan benar supaya kita bisa menghargai Tuhan dengan benar (ay. 20). Jika pemahaman kita kepada Tuhan masih salah atau keliru, kita tidak akan bisa menghargai Tuhan dengan pantas.

Untuk menggambarkan hal ini, saya mengambil contoh mengenai batu mulia. Orang yang tidak mengerti tentang batu mulia misalnya, pasti tidak bisa menghargai batu mulia dengan pantas. Bisa jadi batu yang bagus justru dihargai murah, tetapi batu yang jelek justru dihargai mahal. Atau ia akan mencibir ketika ditawarkan batu yang bagus dengan harga yang mahal, karena ia merasa itu hanyalah batu yang berharga murah. Sebaliknya, orang yang mengerti batu mulia akan mampu menghargai batu yang bagus dengan pantas sesuai harganya.

Terkait dengan hal tersebut, jika kita mengaku bahwa Allah kita adalah Allah yang benar, maka kita harus menjaga supaya Allah hanya menjadi satu-satunya Allah dalam hidup kita (ay. 20b). Artinya kita tidak mungkin menggeser Allah dari prioritas hidup kita. Barulah dalam ayat selanjutnya Rasul Yohanes mengatakan supaya kita berhati-hati terhadap segala berhala (ay. 21). Berhala di sini adalah apapun yang menggerser Tuhan dari posisi pertama dalam prioritas hidup kita. Jika mau disederhanakan, berhala adalah apapun yang kita pikirkan pertama kali ketika kita bangun tidur, apapun yang paling banyak menyita pikiran kita sepanjang hari, dan apapun yang bisa membuat kita bahagia didunia ini selain Tuhan. Berhala bisa berupa uang, kekayaan, jabatan, karir, kekuasaan, orang tertentu (suami/istri/anak/orang tua), bahkan bisa berupa pelayanan dan juga gereja.

Pelayanan bisa menjadi berhala ketika pelayanan hanya sebatas lahiriah saja tanpa adanya sikap hormat kepada Tuhan yang kita layani. Ada pelayan-pelayan Tuhan yang sibuk melayani ke sana kemari tetapi ia tidak pernah memiliki waktu untuk bersekutu dengan Tuhan. Hidupnya habis untuk kegiatan-kegiatan pelayanan yang hampa, bahkan ia akan menjadikan pelayanan sebagai alasan pada hari penghakiman Tuhan nanti. Pada waktu itulah Tuhan akan berkata dengan terus terang: Aku tidak kenal kamu! (Mat 7:21-23). Orang seperti ini sibuk pelayanan tetapi tidak menjadikan Tuhan sebagai yang terutama dalam hidupnya. Pelayanan telah menjadi berhala bagi dirinya.

Gereja juga bisa menjadi berhala (khususnya bagi para pendeta dan rohaniawan), ketika gereja dipandang sebagai suatu “aset” pribadi dan bukan asetnya Tuhan. Banyak pendeta dan rohaniawan mengembangkan gereja sehingga semakin bagus, semakin luas, semakin menampung banyak jemaat, semakin banyak jadwal ibadah, dan lain sebagainya, tetapi mereka terjebak pada pengembangan gereja secara fisik lupa untuk membangun Bait Roh Kudus yaitu pribadi-pribadi setiap jemaat untuk juga memiliki hati yang memprioritaskan Tuhan dalam segala hal. Dalam hal ini gereja bisa menjadi “pelarian” pendeta, karena semakin gereja berkembang, maka nama pendeta itu akan semakin terkenal, foto-foto si pendeta banyak bertebaran dimana-mana, dan seterusnya. Akibatnya, bukan nama Tuhan yang dimuliakan dan ditinggikan, tetapi nama gereja, nama pendeta, nama keluarga pendeta, dan seterusnya yang ditinggikan.

Waspadalah terhadap berhala, ini bukanlah sebuah omong kosong. Sungguh sulit hidup di akhir zaman ini dimana kita harus mampu mengutamakan Tuhan dalam segala hal, di tengah-tengah kondisi zaman yang semakin sekuler. Di situlah iman kita akan diuji, mampukah kita menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya kebahagiaan kita? Mampukan kita tidak disenangkan oleh hal lain yang kita miliki di dunia ini? Tidak mudah memang, tetapi harus mampu kita lakukan. Seseorang tidak akan bisa menyenangkan hati Tuhan jika ia belum dapat menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya kesenangan hidupnya.



Bacaan Alkitab: 1 Yohanes 5:19-21
5:19 Kita tahu, bahwa kita berasal dari Allah dan seluruh dunia berada di bawah kuasa si jahat.
5:20 Akan tetapi kita tahu, bahwa Anak Allah telah datang dan telah mengaruniakan pengertian kepada kita, supaya kita mengenal Yang Benar; dan kita ada di dalam Yang Benar, di dalam Anak-Nya Yesus Kristus. Dia adalah Allah yang benar dan hidup yang kekal.
5:21 Anak-anakku, waspadalah terhadap segala berhala.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.