Senin, 06 Maret 2017

Orang Bebal dan Penipu



Selasa, 7 Maret 2017
Bacaan Alkitab: Yesaya 32:5-8
Orang bebal tidak akan disebutkan lagi orang yang berbudi luhur, dan orang penipu tidak akan dikatakan terhormat. (Yes 32:5)


Orang Bebal dan Penipu


Saya cukup bersyukur bahwa saya cukup sering bertemu dengan orang-orang yang boleh dipandang sebagai orang-orang yang memiliki karakter munafik. Dari pengalaman saya bertemu dengan orang-orang seperti itu, mereka dari luar tampak seperti orang-orang biasa, orang yang baik, bahkan rata-rata mereka adalah orang-orang yang taat menjalankan ibadah agamanya. Memang pada awalnya saya juga sulit membedakan mana orang-orang yang munafik dan mana yang tulus. Dulu saya pun sempat tertipu dengan orang-orang yang terlihat baik dari luar, tetapi dalamnya ternyata berbeda. 

Selain orang munafik, ada pula orang-orang yang harus kita waspadai, yaitu yang dalam bacaan ayat Alkitab kita disebutkan sebagai orang bebal dan orang penipu (ay. 5). Kata bebal dalam ayat 5 tersebut menggunakan kata nabal (נָבָל), dimana kata itu juga pernah disebutkan sebagai nama orang (Nabal dalam 1 Sam 25:25). Alkitab sendiri mengatakan bahwa ciri-ciri orang bebal adalah sebagai berikut:

  • Mengatakan kebebalan (ay. 6a), artinya perkataan yang diucapkannya adalah kata-kata yang sangat rendah atau kata-kata yang tidak pantas diucapkan oleh orang yang berbudi luhur.
  • Hatinya merencanakan yang jahat (ay. 6b), artinya ia tidak suka hal-hal yang baik. Ia lebih memilih untuk melakukan hal-hal yang jahat dalam hidupnya, antara lain menyusahkan orang benar/menyusahkan orang lain.
  • Bermaksud murtad (ay. 6c), artinya ia tidak pernah sungguh-sungguh mengikut Tuhan dengan benar. Ia hanya mengikut Tuhan karena ingin keinginannya terkabul. Jika suatu saat ia merasa bahwa mengikut Tuhan sudah tidak menguntungkan dirinya lagi, maka ia akan dengan cepat menjadi murtad dan mengikut agama lain yang lebih menguntungkan dirinya (misalnya membuat dirinya terkenal, atau membuat karirnya menjadi cepat naik, dan lain sebagainya).
  • Mengatakan yang menyesatkan tentang Tuhan (ay. 6d), artinya ia suka mengatakan hal-hal yang sensasional tetapi sebenarnya adalah kebohongan atau penyesatan. Ia tidak peduli bahwa nama Tuhan disebut-sebut dan dibawa-bawa, yang penting dari perkataannya, banyak orang yang memperhatikan dirinya dan mungkin juga akan menguntungkan dirinya, meskipun pada dasarnya apa yang dikatakannya sebenarnya bisa membuat orang tersesat dari jalan Tuhan yang benar.
  • Membiarkan orang lapar dengan perut kosong dan membiarkan orang haus kekurangan minuman (ay. 6e), artinya ia tidak peduli dengan kondisi orang-orang di sekitarnya. Ia tidak peduli apakah orang lain kekurangan atau tidak, yang penting adalah dirinya bisa hidup dengan menikmati kemewahan. Orang seperti ini tidak akan pernah memperhatikan orang lain. Kalaupun ada perhatian, maka perhatian yang dibuatnya hanya ditujukan kepada orang-orang yang nantinya akan menguntungkan dirinya. Perhatian yang dilakukan oleh orang bebal seperti ini pastilah tidak tulus.

Selain itu, Alkitab juga mengatakan mengenai orang-orang yang disebut sebagai orang penipu. Orang penipu ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  • Memiliki akal yang jahat (ay.7a), artinya pada dasarnya ia melakukan penipuan karena memiliki pikiran yang jahat. Ia tidak pernah memikirkan apa yang baik dan benar, tetapi yang penting adalah kesenangan dan kenikmatan dirinya, sekalipun ia harus berbuat jahat untuk mendapatkannya.
  • Merancang perbuatan-perbuatan yang keji (ay. 7b), artinya selain memiliki pikiran yang jahat, ia juga merancang perbuatan-perbuatan yang keji. Ini bicara tentang perencanaan yang sistematis untuk melakukan kejahatan. Jika diperlukan, ia tidak segan-segan melakukan perbuatan yang sangat keji (hina, sangat buruk, tidak sopan, kotor), asalkan yang penting rencananya tercapai.
  • Mencelakakan orang sengsara (ay. 7c), artinya dalam hal menjalankan perbuatan jahatnya, ia tidak segan-segan membuat orang lain sengsara. Jika memang orang lain harus dikorbankan demi mencapai tujuan rencananya tersebut, ia akan melakukannya tanpa memikirkan bahwa orang tersebut akan disengsarakan.
  • Mengucapkan perkataan dusta (ay. 7d), artinya perkatannya tidak ada yang benar. Ia akan menutupi satu dusta dengan dusta yang lain. Orang-orang seperti ini harus kita hindari karena jika kita tidak waspada ia bisa saja menipu dan mendustai kita.
  • Tidak membela hak orang miskin (ay. 7e), artinya ia akan membeda-bedakan orang. Kepada orang-orang yang miskin, ia akan memandang sebelah mata. Ia akan lebih memilih membela orang-orang kaya (atau orang-orang berpengaruh) yang jelas-jelas salah namun akan menguntungkannya daripada membela orang miskin yang benar yang tidak akan menguntungkan dirinya.

Di mata manusia, orang-orang bebal dan orang-orang penipu mungkin saja adalah mereka yang dipandang terhormat. Orang awam yang tidak peka akan suara Tuhan akan sulit membedakan mana orang bebal dan penipu. Bisa saja mereka justru menyebut orang bebal sebagai orang yang berbudi luhur, atau menyebut orang penipu sebagai orang yang terhormat (ay. 5). Memang hal ini sangat mungkin terjadi karena dari luar mereka itu nyaris tidak terlihat kebusukannya, apalagi jika mata seseorang sudah dibutakan dengan kecantikan luar atau disilaukan oleh harta kekayaan yang dimiliki.

Namun demikian, ingatlah bahwa apa yang dipandang terhormat oleh manusia belum tentu terhormat juga di mata Allah. Suatu saat nanti orang-orang bebal dan penipu akan menerima balasan dari Tuhan. Kalaupun mereka tidak menerima hukuman di dunia ini, tidak ada seorang pun yang luput dari hukuman di pengadilan terakhir dimana Tuhan Yesus Kristus menjadi hakimnya. Oleh karena itu, daripada kita ingin untuk menjadi orang-orang bebal dan penipu (karena mengejar harta, tahta, atau wanita), mari kita berjuang untuk mengejar apa yang benar. Mari kita berjuang menjadi orang-orang berbudi luhur, yang selalu memiliki pikiran yang bersih, hati yang tulus, dan keinginan untuk selalu menyenangkan hati Tuhan (ay. 8). Itulah karakter yang Tuhan mau untuk dimiliki oleh orang-orang yang nanti akan diperkenankan masuk ke dalam Kerajaan Allah yang kekal.



Bacaan Alkitab: Yesaya 32:5-8
32:5 Orang bebal tidak akan disebutkan lagi orang yang berbudi luhur, dan orang penipu tidak akan dikatakan terhormat.
32:6 Sebab orang bebal mengatakan kebebalan, dan hatinya merencanakan yang jahat, yaitu bermaksud murtad dan mengatakan yang menyesatkan tentang TUHAN, membiarkan kosong perut orang lapar dan orang haus kekurangan minuman.
32:7 Kalau penipu, akal-akalnya adalah jahat, ia merancang perbuatan-perbuatan keji untuk mencelakakan orang sengsara dengan perkataan dusta, sekalipun orang miskin itu membela haknya.
32:8 Tetapi orang yang berbudi luhur merancang hal-hal yang luhur, dan ia selalu bertindak demikian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.