Jumat, 17 Maret 2017

Kewaspadaan Umat Perjanjian Baru (11): terhadap Kesesatan Orang-orang yang Tidak Mengenal Hukum



Minggu, 19 Maret 2017
Bacaan Alkitab: 2 Petrus 3:17-18
Tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, kamu telah mengetahui hal ini sebelumnya. Karena itu waspadalah, supaya kamu jangan terseret ke dalam kesesatan orang-orang yang tak mengenal hukum, dan jangan kehilangan peganganmu yang teguh. (2 Ptr 3:17)


Kewaspadaan Umat Perjanjian Baru (11): terhadap Kesesatan Orang-orang yang Tidak Mengenal Hukum


Masih dalam rangkaian topik renungan mengenai kewapadaan umat Perjanjian Baru, hari ini kita akan melanjutkan dengan membahas tentang kewaspadaan kita supaya kita tidak terseret kedalam kesesatan orang-orang yang tidak mengenal hukum (ay. 17a). Siapakah orang-orang yang tidak mengenal hukum? Dalam bahasa aslinya, mereka disebut sebagai athesmos (ἄθεσμος). Kata athesmos dapat berasal dari kata a (tidak) dan títhēmi (tatanan/aturan). Sehingga athesmos ini adalah mereka yang tidak mau diatur, tidak mau tunduk pada aturan/hukum yang berlaku.

Orang semacam ini belum tentu mereka yang tidak beragama. Bisa jadi orangt athesmos ini adalah mereka yang beragama, bahkan sangat mungkin adalah orang-orang Kristen juga. Tetapi mereka memiliki ciri-ciri bahwa mereka tidak mau diatur oleh aturan/tatanan/hukum yang berlaku. Memang kita yang hidup di zaman Perjanjian Baru tidak lagi terikat dengan Hukum Taurat di  dalam Perjanjian Lama. Namun demikian, jika dalam Perjanjian Lama berlaku “Taurat adalah Hukumku” (Torah is my Law), maka dalam Perjanjian Baru, tetap ada tatanan tetapi hal itu diganti menjadi “Tuhan adalah Hukumku” (The Lord is my Law).

Artinya, walaupun kita tidak terikat oleh Hukum Taurat (artinya kita tidak lagi dilarang makan ini makan itu, dilarang mencuri, berzinah, dan lain sebagainya), kita memiliki aturan lain yang lebih baik lagi, yaitu kehendak Tuhan. Umat Perjanjian Baru tidak akan dihakimi menurut standar Hukum Taurat, tetapi akan dihakimi menurut kehendak Tuhan, apakah hidup kita, perkataan kita, perbuatan kita, bahkan sampai pikiran kita, sudah sesuai dengan kehendak Tuhan atau belum. Oleh sebab itu, Tuhan Yesus berkata bahwa jika dalam Perjanjian Lama (Hukum Taurat) dikatakan bahwa kita tidak boleh berzinah, dalam Perjanjian Baru dikatakan bahwa jika kita memandang wanita lalu kita mengingininya, maka kita sudah berzinah (di dalam hati). Jadi jelaslah bahwa standar umat Perjanjian Baru ini harus lebih tinggi dari umat Perjanjian Lama.

Kembali ke masalah athesmos ini, kita akan melihat bahwa di dalam Perjanjian Baru, orang-orang seperti ini adalah mereka yang tidak mau diatur dengan hukum. Bahkan di gereja, mereka ini adalah orang-orang yang tidak mau diatur oleh Tuhan (karena Tuhan adalah Hukum kita). Mereka memiliki ciri-ciri tidak mau “dikoreksi” oleh kebenaran Firman Tuhan. Sebagai alasannya, mereka akan menggunakan ayat-ayat Firman Tuhan yang sesuai dengan keinginan mereka. Mereka tidak mau ditegur dengan ayat yang satu, dan akan mencari pembenaran dari ayat yang lain. Inilah salah satu tanda orang yang tidak mau tunduk di dalam tatanan Tuhan.

Orang semacam ini bisa membuat orang lain terseret dalam kejahatannya. Orang yang tidak kuat berpegang pada kebenaran Firman Tuhan bisa terpengaruh oleh sikap tidak mengenal hukum tersebut, yang pada akhirnya bisa kehilangan pegangan Injil (ay. 17b) (karena merasa toh orang-orang anthesmos ini tidak mau hidup dalam tatanan Tuhan, nyatanya mereka bisa kaya, bisa terhormat, dan lain sebagainya). Namun demikian, ini adalah suatu hal yang salah di hadapan Tuhan.

Tuhan ingin agar kita senantiasa bertumbuh dalam kasih karunia dan dalam mengenal Tuhan secara benar (ay. 18a). Dahulu Petrus juga merasa seperti ini, tidak mau mengerti tatanan dan aturan Tuhan. Ia sampai berani menarik Tuhan Yesus ke samping dan menegor-Nya (Mat 16:22), ia juga sempat berkata bahwa ia tidak akan menyangkal Tuhan (yang kemudian dengan cepat ia tidak menepati perkataannya sendiri) (Mat 26:35). Namun pada akhirnya, Petrus sadar bahwa ia harus hidup dalam aturan Tuhan, yaitu tatanan Tuhan dalam hidupnya. Petrus sadar bahwa dahulu ia ingin hidup bebas, pergi kemana saja yang ia kehendaki. Akan tetapi ketika ia mau mengikut Tuhan, di situ ia harus rela kehilangan hak dan mau mengikut Tuhan kemanapun (Yoh 21:18-19). Di situlah kita menjadi orang-orang yang mengenal hukum, bukan dalam artian hukum dunia, tetapi mengenal Kristus sebagai hukum bagi diri kita. Dalam hal ini, ketika kita mau tunduk kepada Tuhan dan menjadikan Tuhan sebagai hukum kita, acuan kita, tatanan kita, dan satu-satunya majikan kita, maka kita dapat memuliakan Tuhan tanpa batas, baik sekarang bahkan sampai selama-lamanya.



Bacaan Alkitab: 2 Petrus 3:17-18
3:17 Tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, kamu telah mengetahui hal ini sebelumnya. Karena itu waspadalah, supaya kamu jangan terseret ke dalam kesesatan orang-orang yang tak mengenal hukum, dan jangan kehilangan peganganmu yang teguh.
3:18 Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Bagi-Nya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.