Sabtu, 26 Januari 2013

Jangan Suka Menunda-nunda



Kamis, 24 Januari 2013
Bacaan Alkitab: Amsal 24:30-34
"Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring," maka datanglah kemiskinan seperti seorang penyerbu, dan kekurangan seperti orang yang bersenjata.” (Ams 24:33-34)


Jangan Suka Menunda-nunda


Saya seringkali punya kebiasaan buruk. Ketika bensin motor saya sudah menipis, dan saya menyadarinya dalam perjalanan pulang dari kantor ke rumah, saya seringkali menunda-nunda untuk mengisi bensin. Saya berpikir, “Ah sekarang saya sudah sangat capek dan ingin beristirahat di rumah, besok pagi saja saya mengisi bensinnya”. Demikian saya akhirnya pulang ke rumah tanpa mengisi bensin terlebih dahulu. Esoknya, mau tidak mau saya harus mengisi bensin dan ternyata antrean di SPBU itu pasti lebih banyak ketika pagi hari daripada ketika malam hari. Akibatnya saya membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mengisi bensin di pagi hari daripada waktu yang saya butuhkan jika saya mengisi bensin pada saat saya pulang kantor.

Memang sudah menjadi kebiasaan umum bagi manusia (khususnya di Indonesia) untuk menunda-nunda pekerjaan yang sebenarnya bisa dilakukan saat itu juga. Apa nasehat Alkitab terhadap hal ini? Bacaan Kitab Suci kita hari ini membahas tentang hal tersebut dan kita akan belajar tentang hal tersebut.

Kitab Amsal adalah kitab yang penuh dengan hikmat. Bukan sekedar hikmat duniawi tetapi di dalamnya terkandung hikmat surgawi. Penulis Amsal ini menggambarkan dirinya yang melalui ladang seorang pemalas dan kebun anggur orang yang tidak berakal budi (ay. 30). Dalam ayat selanjutnya, penulis Amsal melihat bahwa baik ladang seoran pemalas dan kebun anggur orang yang tak berakal budi sama-sama ditumbuhi onak, tanahnya tertutup jeruju dan temboknya roboh (ay. 31). Dengan kata lain, menurut penulis Amsal ini, seseorang yang malas itu sama dengan orang yang tak berakal budi.

Apa pelajaran yang kita bisa tarik dari hal ini? Penulis Amsal mengingatkan bahwa walaupun orang memang memiliki sifat malas dalam dirinya, tetapi ada perbedaan yang nyata antara orang yang sedang malas dan seseorang yang memiliki sifat pemalas. Orang bisa saja malas dalam suatu waktu atau keadaan tertentu, tetapi seorang pemalas akan selalu memiliki sifat malas tersebut dalam segala hal. Ciri utama seorang pemalas adalah suka menunda-nunda pekerjaan. Lihat saja gambaran dalam ayat selanjutnya: Seorang pemalas akan tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi dan tinggal berbaring (ay. 33). Ingat bahwa pemalas tersebut sebenarnya memiliki ladang yang harus ia kerjakan. Akan tetapi ia lebih suka tidur, mengantuk, dan berbaring daripada mengerjakan ladangnya. Ini adalah sikap menunda-nunda dari seorang pemalas.

Dampaknya sungguh luar biasa. Seorang pemalas yang suka menunda-nunda akan menuai buah dari kemalasannya itu, yaitu ia akan miskin dan kekurangan (ay. 34). Hal ini logis karena ia tidak mau melakukan apa yang menjadi bagiannya saat itu. Ia lebih memilih untuk tidur dan bersantai daripada melakukan pekerjaannya di ladang. Ia menunda-nunda apa yang sebenarnya dapat ia kerjakan.

Ini adalah pelajaran yang sungguh dalam maknanya bagi kita. Firman Tuhan pun mengatakan agar apapun yang dijumpai tangan kita untuk kita kerjakan, kita harus mengerjakannya dengan sekuat tenaga selagi masih ada kesempatan (Pkh 9:10). Ayat lain pun mengatakan bahwa apapun yang kita lakukan harus kita lakukan seperti untuk Tuhan (Kol 3:23). Jika kita memiliki pandangan seperti itu, tentu kita tidak akan pernah menunda-nunda pekerjaan bukan? Di sisi yang lain, dalam urusan dengan Tuhan (termasuk pelayanan dan hal-hal rohani lainnya), jangan biasakan diri kita untuk menunda-nunda, karena apa yang kita tabur akan kita tuai. Ketika kita menunda-nunda urusan kita dengan Tuhan, maka jangan salahkan Tuhan ketika Ia pun menunda-nunda menjawab kita. Belajarlah dari seorang pemalas, tetapi jangan tiru kemalasannya (ay. 32).


Bacaan Alkitab: Amsal 24:30-34
24:30 Aku melalui ladang seorang pemalas dan kebun anggur orang yang tidak berakal budi.
24:31 Lihatlah, semua itu ditumbuhi onak, tanahnya tertutup dengan jeruju, dan temboknya sudah roboh.
24:32 Aku memandangnya, aku memperhatikannya, aku melihatnya dan menarik suatu pelajaran.
24:33 "Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring,"
24:34 maka datanglah kemiskinan seperti seorang penyerbu, dan kekurangan seperti orang yang bersenjata.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.