Senin, 02 Juli 2012

Standar Pelayan Tuhan


Sabtu, 30 Juni 2012
Bacaan Alkitab: Titus 1:5-9
Sebab sebagai pengatur rumah Allah seorang penilik jemaat harus tidak bercacat, tidak angkuh, bukan pemberang, bukan peminum, bukan pemarah, tidak serakah.” (Tit 1:7)


Standar Pelayan Tuhan


Saat ini kita melihat bagaimana gereja Tuhan berkembang sangat pesat. Terutama di kota-kota besar seperti Jakarta, banyak gereja-gereja baru didirikan. Walaupun mungkin tidak dapat membangun gedung gereja karena masalah perizinan, tetapi banyak gereja memanfaatkan tempat-tempat seperti ruko, hotel, apartemen, bahkan mal dan plaza yang tersebar di seantero kota. Namun demikian, saya melihat bahwa ada kecenderungan gereja Tuhan yang secara kuantitas semakin bertambah banyak, tetapi tidak diimbangi peningkatan kuantitas hamba Tuhan dan pelayan Tuhan. Apa dasar saya mengatakan hal tersebut?

Jika kita sebagai orang percaya mau jujur, saat ini karena jam ibadah semakin bertambah banyak, belum lagi terhitung kegiatan ibadah-ibadah tengah minggu seperti ibadah kaum muda, ibadah remaja, ibadah sekolah minggu, ibadah wanita, komisi sel, ibadah keluarga, dan sebagainya, banyak jemaat-jemaat yang sebetulnya belum siap menjadi pelayan Tuhan terkesan “dipaksakan” untuk menjadi pelayan Tuhan. Mungkin ada yang berpendapat bahwa “ya, itu kan kesempatan bagi jemaat untuk mengambil bagian dalam pelayanan, toh dari ibadah-ibadah tersebut mereka mendapatkan kesempatan untuk melayani Tuhan”. Memang tidak salah menggunakan jadwal ibadah-ibadah tengah minggu untuk melatih seseorang menjadi pelayan Tuhan, tetapi saya lebih menyoroti kepada bagaimana gereja tetap menjaga kualitas pelayan-pelayan Tuhan di tengah-tengah kebutuhan pelayan yang begitu tinggi akibat banyaknya jadwal ibadah yang diadakan.

Paulus dalam suratnya kepada Titus, salah satu anak rohaninya, menyampaikan pesan pentingnya kepada Titus terkait dengan bagaimana ia harus mengatur pelayan-pelayan Tuhan di jemaat yang menjadi tanggung jawabnya (ay. 5). Jika kita melihat, bahwa Paulus menyebutkan dua jabatan pelayan Tuhan, yaitu penatua (ay. 5b) dan pengatur rumah Allah (ay. 7a). Saat ini saya tidak membahas perbedaan di antara kedua jabatan pelayan Tuhan tersebut, tetapi melihat kepada syarat-syarat pelayan Tuhan secara umum, yang digambarkan dalam ayat 6 sampai 9 di bawah ini.

Pertama, pelayan Tuhan haruslah memiliki kehidupan keluarga yang tak bercacat (ay. 6a). Alkitab dengan jelas menggambarkan hal ini: mempunyai hanya satu isteri dan mampu mendidik anak-anaknya dalam iman yang benar kepada Tuhan. Jujur saja, orang di luar gereja akan melihat apakah orang Kristen itu adalah orang yang baik dari keluarganya. Jika orang Kristen, apalagi pelayan Tuhan saja sudah memiliki isteri lebih dari satu (atau beristeri satu tetapi banyak selingkuhannya), dan anak-anaknya juga tidak hidup benar, pasti hal itu akan menjadi sorotan bagi orang-orang di luar jemaat.

Kedua, pelayan Tuhan memiliki hidup yang tertib (ay. 6b). Hidup tertib di sini menggambarkan kualitas hidup yang tidak ugal-ugalan, tidak ngawur atau semrawut, tetapi juga memiliki kebiasaan baik yang rutin ia lakukan. Contohnya, rumahnya selalu rapi, tidak pernah terlambat bekerja (jika ia masih belum menjadi pelayan Tuhan secara full timer), dan lain sebagainya. Hidup tertib merupakan salah satu hal yang dapat dengan mudah dilihat oleh orang lain di luar jemaat Tuhan.

Ketiga, pelayan Tuhan memiliki hidup yang berdasarkan pada buah-buah Roh (ay. 7-8). Alkitab menggambarkan hal ini dengan sifat-sifat praktis seperti: tidak angkuh, bukan pemberang, bukan peminum, bukan pemarah, tidak serakah, suka memberi tumpangan, suka akan yang baik, bijaksana, adil, saleh, dapat menguasai diri. Pelayan Tuhan harus memiliki hidup yang dikuasai Roh Kudus, dan juga harus hidup memancarkan Roh Kudus itu sendiri dalam setiap aspek kehidupannya, bahkan dalam hal-hal yang sederhana sekalipun.

Keempat, pelayan Tuhan harus memiliki dasar ajaran Kristen yang sehat dan sanggup mengajarkannya kembali kepada orang lain (ay. 9). Hal ini penting karena jika pelayan Tuhan saja tidak tahu ajaran yang benar dan alkitabiah, bagaimana jemaat juga dapat dibangun? Jangan-jangan jemaat Tuhan justru semakin terjerumus oleh ajaran yang sesat dari pelayan Tuhan. Itulah mengapa pelayan Tuhan pun perlu terus-menerus dimonitor sehingga dalam pelayanannya ia tetap memegang teguh ajaran yang benar.

Tidak mudah untuk menjadi pelayan Tuhan, perlu adanya komitmen terus menerus dari orang tersebut untuk senantiasa meningkatkan kompetensinya, dan di satu sisi juga meningkatkan imannya. Satu pertanyaan dari saya, jika suatu gereja memiliki pelayan-pelayan Tuhan yang tidak kompeten dan tidak memiliki karunia Tuhan, apakah pelayan Tuhan tersebut akan dapat membangun jemaan Tuhan? Kita harus menjaga kualitas pelayan Tuhan, tidak asal-asalan memberi jatah pelayanan kepada seseorang yang “tidak berkualitas” hanya karena orang tersebut adalah anak gembala sidang, atau karena orang tersebut sudah banyak menyumbang dana kepada gereja, atau supaya orang tersebut tidak pindah ke gereja lain. Ingat, suatu saat nanti kita akan diminta pertanggungjawaban dari Tuhan terhadap keputusan-keputusan yang diambil dalam hidup kita. Sudahkah kita melakukan yang benar dan terbaik bagi Tuhan dan jemaatNya?


Bacaan Alkitab: Titus 1:5-9
1:5 Aku telah meninggalkan engkau di Kreta dengan maksud ini, supaya engkau mengatur apa yang masih perlu diatur dan supaya engkau menetapkan penatua-penatua di setiap kota, seperti yang telah kupesankan kepadamu,
1:6 yakni orang-orang yang tak bercacat, yang mempunyai hanya satu isteri, yang anak-anaknya hidup beriman dan tidak dapat dituduh karena hidup tidak senonoh atau hidup tidak tertib.
1:7 Sebab sebagai pengatur rumah Allah seorang penilik jemaat harus tidak bercacat, tidak angkuh, bukan pemberang, bukan peminum, bukan pemarah, tidak serakah,
1:8 melainkan suka memberi tumpangan, suka akan yang baik, bijaksana, adil, saleh, dapat menguasai diri
1:9 dan berpegang kepada perkataan yang benar, yang sesuai dengan ajaran yang sehat, supaya ia sanggup menasihati orang berdasarkan ajaran itu dan sanggup meyakinkan penentang-penentangnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.